LombokPost-Sampai saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB belum mengajukan anggaran Biaya Tak Terduga (BTT), untuk penanganan musim kemarau.
Karena harus menunggu permohonan bantuan dari pemda kabupaten dan kota.
”Belum pengajuan, baru kita bisa bicara BTT kalau ada surat cinta (surat permohonan, Red) dari kabupaten dan kota, yang menyatakan sudah keadaan darurat, baru kita proses,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi.
Meski sudah memasuki musim kemarau, sampai saat ini, belum ada satupun pemda kabupaten dan kota di NTB yang mengajukan laporan darurat kekeringan.
Kendati demikian, pihaknya sudah mengestimasi kebutuhan BTT.
Berkaca dari tahun lalu, anggaran BTT yang diajukan BPBD NTB mencapai Rp 100 miliar lebih.
Ini hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.
”Itu untuk kebutuhan air minum saja,” sambungnya.
Data di akhir tahun lalu, dari sembilan kabupaten dan kota, sebanyak 75 kecamatan terdampak kekeringan, 311 Desa, 165.906 Kepala Keluarga (KK) dan 581.932 Jiwa.
Jumlah tersebut meningkat, bila dibandingkan dengan data yang dirilis per 25 Oktober lalu.
Saat itu, 73 Kecamatan, 302 Desa, 165.100 KK dan 579.848 Jiwa terdampak kekeringan.
Dari kondisi tersebut, BPBD NTB belum bisa memperkirakan tingkat keparahan musim kemarau tahun ini, karena harus berkoordinasi dengan pihak BMKG.
Pesannya, masyarakat NTB diimbau menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien.
“Harapan kami seperti itu,” tandasnya.
Di sisi lain, Kepala Stasiun Klimatologi Lombok Barat Nuga Putrantijo mengungkapkan kondisi terkini iklim NTB.
”Jadi, curah hujan di wilayah NTB pada dasarian II Mei 2024 secara umum dalam kategori rendah,” tegasnya.
Sifat hujan pada dasarian II Mei 2024 di wilayah NTB didominasi kategori Bawah Normal (BN).
Curah hujan tertinggi di pos hujan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa sebesar 55 mm/dasarian.
Selanjutnya, Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) di NTB secara umumnya berada pada kategori Panjang 21-30 hari.
HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Wera, Kabupaten Bima selama 34 hari.
Level Siaga di Kabupaten Bima sudah mencakup di Kecamatan Wawo.
Sumbawa meliputi Kecamatan Lape dan Moyo Hilir.
Sementara Level Waspada sudah melanda Kecamatan Pajo, Dompu. Kecamatan Belo, Bolo, Lambitu, Lambu, Madapangga, Monta, Palibelo, Sape dan Woha di Kabupaten Bima.
Level Waspada kekeringan juga melanda Kecamatan Pringgabaya, Sambelia, dan Suela di Lombok Timur.
Kecamatan Labuhan Badas, Moyo Utara, Rhee, Sumbawa, Unter Iwes, dan Utan di Sumbawa.
”Saat ini sebagian besar wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Masyarakat NTB diimbau menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien,” pungkasnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida