LombokPost-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi sudah mulai mempersiapkan distribusi air bersih ke daerah-daerah kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi mengatakan, pihaknya sudah meminta pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan daerah rawan kekeringan di tempat masing-masing.
Pemetaan itu untuk mengetahui perkiraan kebutuhan air sehingga pemerintah juga bisa memprediksi kebutuhan anggaran.
"Titik-titik rawan kekeringan pasti akan mengalami kesulitan air bersih, ini akan segera kita petakan," katanya.
Ahmadi mengatakan, data-data titik rawan kekeringan akan dari BPBD kabupaten/kota.
Ahmadi mengaku, untuk perencanaan penanganan kekeringan masih menggunakan data lama.
"Selama belum ada intervensi permanen di tempat itu, pasti kita prioritaskan," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD NTB Ahmad Yani mengatakan, di Provinsi NTB terdapat delapan zona merah.
Selain berpotensi kekeringan, daerah ini juga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Daerah zona merah dengan potensi Karhutla ini terdapat di Kabupaten Lombok Utara dan Dompu.
Sementara titik-titik kekeringan terpetakan di Pulau Lombok bagian selatan dan Sumbawa bagian timur.
''BPBD tahun ini juga telah menyiapkan 200 unit tangki air per kabupaten/ kota," ujarnya.
Sebelumnya, dari rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disebutkan, puncak kemarau di NTB akan terjadi pada Bulan Agustus nanti.
BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun lebih singkat.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Restu Patria Megantara mengatakan, kemarau paling singkat terjadi di wilayah Kota Mataram, sebagian Lobar, KLU bagian selatan, dan beberapa wilayah Pulau Sumbawa.
Kemaraunya akan berlangsung 13-15 dasarian atau sekitar empat bulan.
Sementara musim kemarau di daerah lain berlangsung 22-24 dasarian atau mencapai 6 bulan.
Restu mengatakan 63 persen wilayah NTB durasi kemarau lebih pendek dari normal.
"Musim kemarau pendek, tapi tetap diwaspadai adanya bencana kekeringan dan kesulitan air bersih," kata Restu beberapa waktu lalu. (bib/r11)
Editor : Kimda Farida