Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jemaah Keluhkan Buruknya Pelayanan Haji 2024, Penyelenggaraan Haji Harus Dievaluasi!

Yuyun Kutari • Jumat, 21 Juni 2024 | 14:23 WIB
TIDAK SESUAI KAPASITAS: Kondisi pemondokan jamaah haji asal Bumi Gora selama menjalani rangkaian ibadah musim haji 2024, yang penuh sesak karena kapasitas tenda tidak sesuai.(NURSALIM FOR LOMBOK POST)
TIDAK SESUAI KAPASITAS: Kondisi pemondokan jamaah haji asal Bumi Gora selama menjalani rangkaian ibadah musim haji 2024, yang penuh sesak karena kapasitas tenda tidak sesuai.(NURSALIM FOR LOMBOK POST)

LombokPost--Seluruh rangkaian ibadah di musim Haji 1445 H/2024 M telah berakhir.

Nursalim, salah seorang jemaah haji kloter 1 asal Kota Mataram, NTB merasa bersyukur bahwa dirinya bisa menuntaskan pelaksanaan rukun Islam ke 5 tersebut.

“Alhamdulillah seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah haji sudah selesai dilaksanakan, pastinya sangat bersyukur kepada Allah SWT, pada akhirnya bisa menyempurnakan rukun Islam ke-5 ini,” terangnya, Rabu (20/6).

Meski demikian, selama penyelenggaraannya, ia mencatat sejumlah kekurangan dan memberi saran serta masukan, agar hal tersebut menjadi atensi pemerintah, terutama Kemenag RI pada musim haji berikutnya.

Dimulai dari para petugas kloter yang tidak profesional.

Seharusnya mereka benar-benar mengetahui dan memahami tugasnya dengan baik, agar pengaturan teknis di lapangan bisa berjalan maksimal, namun faktanya tidak demikian.

“Misalnya mengatur pengisian tenda pemondokan di Armuzna, karena banyak jemaah yang tidak kebagian space tempat tidur, khususnya saat pelaksanaan wukuf di Arafah dan lontar jumroh di Mina,” kata dia.

Ia mengaku, banyak diantara jamaah yang tidak kebagian tempat tidur.

Akibatnya, mereka harus beristirahat di masjid terdekat, ini disebabkan pengaturan tempat tidur yang tidak sesuai kapasitas, antara ukuran tenda dengan jumlah jemaah yang ada.

“Untuk itu, dari aspek kebijakan kedepan, agar pengaturan tempat tidur ini khususnya di Armuzna bisa evaluasi,” jelas pria yang menjabat kepala Biro Organisasi Setda Provinsi NTB ini.

Berikutnya, fasilitas kamar mandi atau toilet.

Dari jumlah yang ada, tidak sesuai dengan jumlah jemaah, sehingga menyebabkan antrean yang sangat panjang dan memprihatinkan, terutama bagi jamaah lanjut usia (lansia).

Kondisi tidak kalah mengenaskan, tidak ada pengaturan dalam menggunakan transprortasi.

“Jadibbus dari Makkah ke Arafah, dari Musdalifah ke Mina dan dari Mina balik ke Makkah, para jamaah berebutan, banyak yang tidak dapat tempat duduk, sehingga mereka berdiri,” terangnya.

Padahal jamaah di kondisi tersebut, baru selesai melaksanakan rangkaian ibadah yang cukup banyak menguras energi.

Kemudian, catatan lainnya adalah, kurangnya koordinasi dan pengaturan jemaah terkait kapan pelaksanaan Tawaf Ifadoh dan Tawaf Wad'a.

“Karena tidak ada pengaturan ini, jemaah melakukannya mandiri, pergi-pergi sendiri, jalan kaki atau menggunakan taksi, dikarenakan juga belum beroperasinya kembali bus salawat, yang selama ini digunakan sebagai transportasi jemaah ke Masjidil Haram,” tegas Nursalim.

Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan untuk jamaah lansia.

Apalagi jemaah yang berangkat haji, sebagian besar adalah masyarakat yang masih sangat awam dengan rute jalan dari hotel pemondokan ke Masjidil Haram.

Terlebih mereka menempuh jarak berjalan kaki hingga 3 kilometer (km).

Nursalim berharap, semua peristiwa yang terjadi di musim haji tahun ini, agar menjadi catatan penting, untuk diatensi oleh pemerintah.

“Sekali lagi kedepannya, penunjukkan ketua kloter, harus yang paham kondisi lapangan dan kebutuhan para jemaah, kalau paham tentu ini dapat membantu mengurai permasalahan di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, bagi petugas kesehatan, dirinya mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang diberikan, dan menangani permasalahan kesehatan jemaah dengan baik.

“Namun, tetap ada catatan saya, kalau bisa kedepannya itu, stok obat-obatan untuk jemaah harus ditingkatkan, terutama untuk penyakit-penyakit yang sering diderita di Tanah Suci seperti batuk, pilek dan lainnya,” pungkas Nursalim.

Plt Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag NTB H Azharuddin mengatakan terhadap pelaksanaan musim haji tahun ini, pihaknya akan mengundang beberapa perwakilan dari jemaah haji, ketua kloter dan petugas haji, dalam rapat evaluasi.

Kanwil Kemenag NTB akan mendengar mencatat berbagai keluhan, laporan, kritikan hingga masukan, baik itu dalam bentuk tertulis dan yang diutarakan secara langsung.

“Ini sebagai bekal kami saat menjelaskannya nanti pada saat rapat di Jakarta, bersama Kemenag pusat, supaya masukan dan keluhan ini bisa menjadi bahan perbaikan kedepannya,” terang dia.

Di sisi lain, Kanwil Kemenag, Pemprov NTB, dan pihak terkait telah membahas persiapan penerimaan kepulangan jemaah haji asal Bumi Gora.

“Penerimaan jamaah haji dilaksanakan di gedung Bir Ali 1 UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok,” kata Kepala Kanwil Kemenag NTB H Zamroni Aziz.

Berdasarkan jadwal yang dirilis Kemenag RI, pemulangan jemaah haji Indonesia gelombang pertama dari Jeddah ke Indonesia akan mulai dilakukan pada tanggal 22 Juni-3 Juli.

Setelahnya, pemulangan jemaah haji gelombang kedua dari Madinah ke Indonesia dijadwalkan berlangsung pada tanggal 4-21 Juli 2024.

Adapun jemaah haji NTB Tahun 2024 sebanyak 4.786 orang.

Petugas haji 62 orang. Total yang berangkat 4.848 orang. Terbagi dalam 13 kloter. Data sementara, ada dua jemaah haji Bumi Gora yang dinyatakan meninggal dunia dan langsung dimakamkan di Tanah Suci, berasal dari Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Untuk NTB, jemaah haji kloter pertama asal Kota Mataram, dijadwalkan kepulangannya dari Jeddah menuju NTB, menggunakan pesawat Garuda dengan Nomor Pernebangan 5201.

Mereka akan tiba di Bandara International Zainuddin Abdul Majid (BIZAM) pada Sabtu dini hari (22/6) pukul 23.45 Wita.

Untuk proses penjemputan jemaah haji oleh keluarga, Kanwil Kemenag NTB telah membuat pengaturan.

Diantaranya, diperbolehkan menjemput jemaah haji hanya satu sopir dan satu penjemput yang diperbolehkan masuk ke asrama haji. Mobil penjemput langsung masuk ke area parkir yang telah disiapkan.

Mobil penjemput di lengkapi kartu ID.

Semuanya dilakukan untuk menjaga dan menjamin keamanan, serta memastikan jemaah haji dalam kondisi sehat.

“Pada saat kedatangan jemaah haji hanya mendapatkan satu kali konsumsi, kemudian koper dan air zam-zam akan diterima oleh jemaah haji di kantor Kemenag kabupaten kota masing-masing,” jelasnya.

Agar keluarga dapat mengetahui kondisi pemulangan jemaah haji, Kanwil Kemenag NTB melakukan siaran langsung. Mulai dari jemaah haji turun dari pesawat, selama diperjalanan menuju dan selama proses penerimaan di asrama haji, sampai diterima oleh pihak keluarganya.

“Nanti akan ada siaran langsung yang tetap kami pakai, supaya  informasi juga terbuka bisa disaksikan oleh semua masyarakat,” tandasnya.

Kepala Biro Kesra Setda Provinsi NTB H Sahnan mengungkapkan kunci dari kesuksesan pemberangkatan, dan kepulangan adalah koordinasi dan komunikasi.

“Tim ini sudah ada bagian-bagiannya, tim penerimaan yang bandara sudah ada urusannya, tinggal kita bagaimana menjaga komunikasi dan koordinasi,” jelasnya. (yun/r2)

Editor : Kimda Farida
#Haji #kloter #NTB