LombokPost--Dulu ada ungkapan populer dalam kamus pelaku wisata. Pelancong dianggap belum pernah ke Pulau Lombok kalau belum berkunjung ke Pantai Senggigi.
Tapi sekarang pesona wisata Senggigi tampaknya sudah memudar. Pemerintah daerah, baik Pemkab Lombok Barat maupun Pemprov NTB, dinilai ikut andil menelantarkan wisata bahari yang pernah menjadi andalan Provinsi NTB itu.
Pelaku wisata menuding pemda hanya mau menarik pajak saja tapi enggan turun tangan membenahi pariwisata Senggigi yang sedang mati suri.
-------------------
LAGU Three Little Birds karya Bob Marley yang dibawakan penyanyi band lokal mengalun merdu dari sebuah kafe di Jalan Raya Senggigi, Kamis (4/9) malam.
Penampilan live music itu untuk menghibur tamu wisatawan asing di dalam kafe tersebut.
Mereka duduk berkelompok dalam kursi-kursi yang mengitari meja.
Sambil menikmati aneka makanan dan minuman yang dibawakan pramusaji, para turis yang mayoritas asal Eropa dan Australia ikut bernyanyi dengan gembira.
Kemeriahan di dalam kafe itu cukup kontras dengan suasana di jalan raya.
Malam itu, Jalan Raya Senggigi cenderung sepi.
Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 22.00 Wita. Waktu yang masih terlalu "pagi" untuk tempat wisata seperti Senggigi.
Restoran, kafe dan bar di sekitarnya juga terlihat lengang.
Kebanyakan pramusaji hanya duduk-duduk di kursi sambil menunggu kedatangan tamu.
Sebagian kafe dan bar memilih tetap memainkan live music meski tidak ada seorang tamu pun yang datang.
Alhasil, penampilan para seniman itu hanya "disaksikan" oleh deretan meja dan kursi pengunjung yang masih tertata rapi.
"Sekarang ya begini ini di Senggigi. Jam 22.00 sudah sepi," keluh Warsito, salah seorang pramusaji sebuah restoran, Kamis (5/9).
Menurutnya, kondisi pariwisata Senggigi sudah jauh berbeda.
Jumlah wisatawan internasional yang datang ke Senggigi sudah sangat berkurang.
Padahal seharusnya awal September ini masih masa peak season alias musim puncak kunjungan wisatawan.
"Tapi rasanya seperti low season. Lihat saja jam segini (pukul 22.00 Wita, Red) sudah sepi. Kalau dulu kafe dan sekitar jalan raya full turis," tuturnya.
Muhammad Rukhi salah satu pelaku yang merasakan langsung naik turunnya denyut pariwisata Senggigi.
Pemilik resto The Curry Leaf di Jalan Raya Senggigi itu mengakui jumlah wisatawan internasional sudah jauh berkurang. Itu terlihat dari aktivitas malam hari yang cendrung lengang.
"Memang turis masih ada. Tapi turun jauh sekali. Dulu jam 22.00 turis dari jalan sudah teriak-teriak nggak kebagian kursi di dalam restoran," tuturnya.
Rukhi ingat betul. Tahun 2010 dia berkunjung pertama kali ke Senggigi sebagai wisatawan.
Datang dari daerah asalnya di Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), dia merasa takjub karena Senggigi sangat ramai.
Baik oleh pelancong domestik maupun turis asing.
"Saya sampai kesulitan dapat kamar waktu itu. Banyak juga tamu yang antre seperti saya karena semua hotel sudah full booked," tuturnya.
Kedatangan Rukhi ke Senggigi yang awalnya cuma liburan, lambat laun menjadi betah tinggal di Senggigi.
Dia jatuh cinta dengan keramahan warga sekaligus keindahan alamnya. Terutama karena pantainya yang bersih.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk membeli sebidang tanah dan mendirikan hotel di atasnya. Namanya River Side Villa berdiri sejak 2010 di Krandangan.
Rukhi pun pernah menikmati masa-masa kejayaan pariwisata Senggigi.
Hotelnya yang memiliki 16 kamar selalu penuh. Bahkan tamu harus booking jauh sebelum waktu kunjungannya ke Senggigi. Misalnya mereka datang bulan Juni, pemesanan harus dilakukan April.
Jika tidak wisatawan dipastikan tidak kebagian kamar hotel.
"Inilah perbedaan dulu dan sekarang. Saat itu nggak ada istilah low season. Semua bulan high season," tuturnya bangga.
Namun bisnis hotel yang dirintis Rukhi berakhir setelah bangunan ambruk akibat guncangan gempa dahsyat yang melanda Pulau Lombok pada 2018.
Tapi sebelumnya, wisatawan ke Senggigi memang mulai mengalami tren turun sekitar 2016.
"Faktor pemicunya banyak sekali," ucap ayah dua anak itu.
Dia menguraikan beberapa pemicu yang menyebabkan pariwisata Senggigi meredup. Pertama, kepindahan bandara dari Selaparang, Mataram ke Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya.
Karena hal itu, banyak turis yang langsung ke Kuta tanpa ke Senggigi terlebih dahulu. Atau Senggigi hanya menjadi tempat transit turis sebelum menuju tiga gili.
Kedua, sambung Rukhi, tidak adanya penerbangan internasional yang langsung menuju Lombok juga ikut menurunkan jumlah wisatawan mancanegara.
Pada September 2013, maskapai asal Australia Jetstar pernah menghubungkan benua Australia dan Lombok. Maskapai berbiaya murah itu melayani rute Perth-Lombok.
Namun layanan penerbangan Perth-Lombok tidak lama. Jetstar resmi menutup rute tersebut pada Oktober 2014.
Sampai sekarang belum ada flight pengganti yang mengangkut turis asing.
"Padahal ini sangat dibutuhkan. Penerbangan langsung dari negara asal turis ke Lombok bisa mendongkrak jumlah wisatawan. Setelah Jetstar nggak masuk lagi, kita mulai merasakan kurang tamu," paparnya.
Faktor ketiga, pintu masuk turis menuju Pulau Lombok atau Senggigi pada khususnya melalui jalur laut juga terbatas.
Saat ini hanya ada satu kapal yang melayani rute Padangbai-Senggigi. Yaitu Ekajaya Matra.
Padahal sebelumnya ada empat fast boat yang berlayar dari Padangbai menuju Pelabuhan Senggigi atau sebaliknya.
Sehingga wisatawan internasional yang datang ke Senggigi lebih banyak.
"Kalau sekarang kan terbatas karena hanya ada satu fast boat yang beroperasi," ujar Rukhi.
Berikutnya, gempa yang mengguncang Lombok pada 2018 membuat pelaku wisata semakin terpuruk.
Banyak bangunan hotel yang rusak. Sementara pemiliknya tidak bisa melakukan perbaikan karena terkendala dana.
Mereka belum sempat bangkit, pandemi Covid-19 yang melanda dunia mulai 2020 kian memperparah keadaan.
"Setelah itu kita semakin mati suri. Sampai sekarang kami masih berjuang untuk bisa survive," tegas pria 49 tahun itu.
Ironisnya, di saat pelaku wisata berjuang untuk bangkit, pemerintah daerah (pemda), seperti Pemkab Lombok Barat maupun Pemprov NTB seolah lepas tangan.
Padahal ekosistem pariwisata Senggigi menyumbang pendapat asli daerah (PAD) yang tidak sedikit.
Bahkan Pemkab Lombok Barat menjadikan kawasan Senggigi sebagai andalan sumber PAD di sektor wisata.
"Istilah kami pemda hanya mau turun makan tapi tidak mau turun tangan," papar Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (FK Pokdarwis) Provinsi NTB Hajir.
Yang dimaksud turun makan dalam konteks itu adalah aktivitas pemda yang memungut pajak maupun retribusi dari pariwisata Senggigi.
Seperti pajak hotel, restoran, serta pajak hiburan dari berbagai fasilitas pendukung seperti bar dan kafe. Termasuk juga retribusi parkir bagi kendaraan pengunjung.
Data Bapenda Lobar yang dipublis oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi NTB menunjukkan tingginya pendapatan daerah dari sektor pariwisata itu.
Tahun 2017, contohnya, realisasi pajak hotel di Senggigi mencapai Rp 34,3 miliar.
Pajak restoran Rp 21,1 miliar dan pajak hiburan Rp 1,5 miliar.
Saat gempa bumi melanda 2018 pun Pemkab Lobar masih menarik pajak ke pelaku wisata meski angkanya sedikit turun. Perinciannya, pajak hotel Rp 25,2 miliar.
Sementara pajak restoran Rp 14,9 miliar dan pajak hiburan Rp 469 juta.
Di tahun 2019 realisasi pajak hotel kembali membaik menjadi Rp 25,5 miliar, pajak restoran Rp 20,3 miliar dan pajak hiburan Rp 422 juta.
Tentu nilai pajak sektor wisata itu tergolong besar dibanding sejumlah sektor yang lain.
"Harusnya pemda aktif turun tangan dengan melakukan banyak intervensi untuk membangkitkan pariwisata Senggigi. Jangan hanya pelaku wisata yang jalan sendiri," tandas Hajir.
Ngutang untuk Bayar Cicilan Motor
Sepinya pariwisata Senggigi tidak hanya dirasakan pengelola hotel, restoran dan tempat hiburan.
Pelaku UMKM yang bergantung dari kunjungan wisatawan sangat merasakan dampak tersebut.
Seperti pedagang asongan aneka aksesoris hingga tempat penyewaan sepeda motor dan peralatan mendaki.
"Bahkan sampai seminggu belum tentu ada yang laku," tutur Marzuki, seorang penjual tenun khas Lombok di Senggigi.
Pria asal Gunungsari, Lombok Barat itu sudah 25 tahun mengasong di Senggigi.
Selain tenun, dia juga menjajakan aneka aksesoris seperti gelang dan cincin dari mutiara. Dia biasa mangkal di depan kafe atau restoran.
Marzuki menawari barangnya ke setiap turis yang keluar masuk kafe.
Namun beberapa tahun terakhir ini para pedagang asongan seperti Marzuki mengalami penjualannya jauh merosot.
"Sebelum gempa (tahun 2018, Red) itu sudah mulai sepi. Ditambah lagi korona. Sampai sekarang ya masih sepi. Turis jauh berkurang," ujar pria 54 tahun itu.
Usaha sewa sepeda motor juga merasakan hal serupa. Ade Rambo pengelola Loka Transport Lombok mengaku usaha penyewaan motor sudah banyak berkurang.
Bandingkan sebelum 2016, tutur dia, pada saat peak season seperti ini tidak ada kendaraan yang tinggal di show room.
Bahkan pihaknya sampai kekurangan motor karena banyaknya permintaan sewa dari para turis.
"Tahun-tahun itu kami sampai datangkan sepeda motor dari tempat lain karena stok kurang," kenangnya.
Tapi saat ini kondisi sudah jauh berubah. Dari 15 unit sepeda motor yang disiapkan, contohnya, hanya beberapa yang keluar.
Selebihnya masih stand by di tempat penyewaan tanpa penyewa.
Dampaknya pihaknya kesulitan membayar cicilan bulanan ke lembaga finance.
"Tiap bulan ada saja (sepeda motor, Red) cicilan yang nggak cukup. Ada yang sampai utang untuk bayar cicilan," aku Ade.
Cerita serupa disampaikan Muhammad Amin.
Dia mendirikan usaha akomodasi wisata seperti penyewaan alat mendaki hingga tour guide.
Selama beberapa tahun ini dia bertahan dengan aktif jemput bola.
Selain promosi melalui media sosial (medsos), dia juga menghuni agen-agen travel agar wisatawan yang datang ke Senggigi bisa menggunakan jasanya.
Tapi kebanyakan turis hanya mau mampir ke gili: Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Sebagian lagi menikmati snorkeling di Pantai Kuta, Mandalika.
"Sebenarnya bukan Lombok kekurangan wisatawan. Tapi Senggigi yang kekurangan. Buktinya di tempat lain ramai, tapi Senggigi kok sepi," cetus Amin. (mar/r5)
Editor : Kimda Farida