Lombok Post-Penjabat (Pj) Gubernur NTB Hassanudin meresmikan Taman Edukasi Landfill Hill Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, kemarin (16/12).
Peresmian taman edukasi ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Pj Gubernur NTB didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB Julmansyah dan Pimpinan Wilayah VII PT Pegadaian Bali Nusra Supriyanto. Kegiatan tersebut dihadiri forkopimda, kepala OPD Provinsi NTB, Kota Mataram, dan Lombok Barat.
Meski diguyur hujan deras disertai angin kencang, Pj gubernur NTB yang basah kuyup tetap membubuhkan tanda tangan pada prasasti sebagai tanda peresmian taman edukasi yang dibangun di puncak gunung sampah tersebut.
Pj Gubernur NTB Hassanudin mengapresiasi upaya mengubah gunung sampah menjadi taman edukasi. Dan berharap ke depan ada terobosan-terobosan baru dalam pengelolaan sampah.
“Saya apresiasi langkah Dinas LHK NTB yang berhasil menata gunung sampah menjadi taman edukasi,” katanya di sela-sela meninjau beberapa papan informasi dan selfie point meski diguyur hujan.
Kepala Dinas LHK NTB Julmansyah mengatakan, pembangunan taman edukasi tersebut dilakukan Dinas LHK NTB bekerjasama dengan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PT Pegadaian Wilayah VII Denpasar.
Gunung sampah (landfill) disulap menjadi taman edukasi yang dilengkapi selfie point dengan pemandangan Kota Mataram dan landskap sawah dan pantai. Gunung sampah setinggi 40 meter yang berusia 31 tahun tersebut berhasil ditutup oleh UPT TPAR Kebon Kongok Dinas LHK NTB sejak September 2023.
Julmansyah berharap, taman edukasi yang dikerjakan selama dua bulan ini bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Sekaligus sebagai wahana penyadaran akibat dari tata kelola sampah selama 30 tahun terakhir. “Paradigma sampah selama ini, yakni kumpul, angkut, dan buang hanya menghasilkan gunung sampah,” katanya.
Seharusnya, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang dibuang adalah residu dari proses pemilahan dan pengolahan sampah, baik di Kota Mataram maupun di Lombok Barat. “Selama ini, dimanapun keberadaan TPA selalu menjadi masalah bagi masyarakat sekitar. Mengingat dampak dari aroma tidak sedap, lalat, dan air lindi yang berasal dari landfill yang masih beroperasi maupun yang telah ditutup,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, setiap tahun Dinas LHK NTB memberikan kompensasi dampak negatif bagi desa sekitar. Termasuk tahun 2024 ini sebesar Rp 680 juta. “Ini wujud tanggung jawab pemerintah pada TPA yang telah berusia 31 tahun ini,” ujar Julmansyah.
Karena usia landfill tersebut sudah 30 tahun, ke depan harus ada upaya sungguh-sungguh dari Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat terkait tata kelola sampah.
Jika volume sampah yang dibuang ke TPA tersebut tetap berkisar 300 ton per hari, maka landfill di TPA tersebut maksimal hanya berfungsi hingga Juni 2025. “Kalau masih 300 ton per hari, maka TPA kita tutup Juni 2025,” ujarnya.
Julmansyah juga menegaskan, tidak banyak TPA yang berhasil melakukan transformasi dari gunung sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti taman dan ruang publik.
“Sejak TPA Kebon Kongok diserahkan ke Dinas LHK NTB dan dikelola UPT TPA Regional 2019 lalu, secara bertahap kami melakukan berbagai kebijakan sehingga berhasil menutup landfill tersebut,” jelasnya.
Julmansyah menambahkan, Landfill Hill ini dibangun untuk mengubah gunung sampah menjadi tempat edukasi dan pelestarian lingkungan. Taman ini akan menjadi pusat pembelajaran tentang pengelolaan sampah, pentingnya pemilahan, dan dampak pemilahan sampah.
Beberapa hal yang dilakukan di Taman Edukasi Landfill Hill tersebut di antaranya restorasi lahan dengan mengubah gunungan sampah menjadi taman hijau. Selanjutnya mengolah kandungan gas metana di bawah landfill untuk mendukung program pengurangan emisi karbon. Serta mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dengan sistem maggot farming dan daur ulang plastik.
Pimpinan Wilayah VII PT Pegadaian Bali Nusra Supriyanto mengatakan, dukungan pembangunan Taman Edukasi Landfill Hill TPAR Kebon Kongok tersebut adalah wujud tanggung jawab sosial lingkungan dari Pegadaian
“Kami berusaha memberikan dukungan bagi upaya-upaya pengelolaan lingkungan, termasuk membenahi landfill sebagai taman,” katanya.
Supriyanto menambahkan, pembangunan taman edukasi yang dilakukan Dinas LHK NTB bersama PT Pegadaian ini menjadi hal yang menarik menjelang HUT ke-66 Provinsi NTB. “Taman Edukasi ini sekaligus menjadi kado HUT ke-66 NTB,” katanya. (lil)
Editor : Haliludin