Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menengok Koleksi Museum Negeri NTB yang akan Dipamerkan di Islamic Arts Biennale, Arab Saudi (1)

Yuyun Kutari • Kamis, 19 Desember 2024 | 11:00 WIB
Dari kiri: Cipo Cila, Kere Alang, dan Tambe Songket yang akan dipamerkan Museum Negeri NTB untuk mewakili Indonesia di event internasional Islamic Arts Biennale di Jeddah, Arab Saudi 2025.
Dari kiri: Cipo Cila, Kere Alang, dan Tambe Songket yang akan dipamerkan Museum Negeri NTB untuk mewakili Indonesia di event internasional Islamic Arts Biennale di Jeddah, Arab Saudi 2025.

 

Museum Negeri NTB akan mewakili Indonesia di event Islamic Arts Biennale 2025 yang akan digelar di Terminal Haji Barat Bandara Internasional King Abdul Azis Jeddah, Arab Saudi.

Ada delapan koleksi sejarah dari masyarakat Bumi Gora bakal ditampilkan.

 ---------------------------

Karya seni masyarakat NTB tidak bisa dipandang sebelah mata.

Buktinya karya seni NTB mendapatkan kesempatan untuk ikut serta di pameran internasional di Arab Saudi, tahun depan.

Pamong Budaya Madya pada Seksi Pengkajian dan Perawatan Museum Negeri NTB Bunyamin mengungkapkan, ada delapan koleksi yang akan ditampilkan.

Diantaranya mewakili dan mengeksplorasi ranah laki-laki dan perempuan dalam berkarya seni di NTB, melalui medium yang berbeda.

“Tenun khusus perempuan dan kerajinan logam khusus untuk laki-laki,” ujarnya.

Untuk koleksi yang merepresentasikan ranah perempuan, Museum Negeri NTB akan memamerkan tiga koleksi terbaiknya.

Pertama, Cipo Cila atau kerudung, dengan motif dua ekor naga, dan memiliki ukuran panjang 92 cm dan lebar 49 cm.

Diperkirakan benda sejarah ini dibuat sekitar tahun 1700-an. Karya ini berasal dari Sumbawa.

Cipo artinya penutup kepala, cila adalah menghias motif dengan teknik sulam.

Cipo cila merupakan kerudung perempuan Sumbawa. Bentuk kerudung yang khas empat persegi panjang dengan lubang pada setengah bagian atasnya.

Perempuan yang mengenakan cipo cila menjadi penanda bahwa sang pemakai sudah menikah. Hiasan cipo cila sangatlah gemerlap dan semarak.

Disulam dengan teknik sulam jit, tahan uji memakai benang logam gepeng atau benang tahan uji, berwarna keemasan maupun perak.

Adapun latar belakang sejarahnya, cipo cila mulai digunakan perempuan Sumbawa sejak Islam masuk, dan menjadi agama yg dianut masyarakat Sumbawa sekitar awal Abad 15.

“Kemudian ini disempurnakan sebagai kerudung yang memahkotai wanita Sumbawa, sejak terbentuknya Kesultanan Sumbawa yang resmi berdiri pada 1 Zulhijjah 1050 Hijriah,” jelas Bunyamin.

Cipo cila juga sebagai lambang syar'i bagi perempuan yang sudah menikah. Ini diperkuat dengan falsafah budaya Adat Berenti Ko Syara', Syara Barenti Ko Kitabullah yang didekritkan oleh Dewa Mas Bantan Dewa Dalam Bawa, memerintah antara tahun 1675-1702 M.

Sejak dikeluarkan dekrit tersebut, seluruh adat tradisi tau Samawa harus berlandas pada Syariat Islam dan Kitabullah.

Soal motif hias. Sebagai Kerudung yang digunakan dalam upacara adat, dan berbagai kegiatan tradisi budaya, cipo cila yang terbuat dari bahan tipis, disulam dengan motif hias khas Sumbawa.

“Motif hias khas tersebut selain memenuhi unsur estetika, juga memiliki pemaknaan tersendiri,” terangnya.

Seperti motif naga yang terinspirasi dari Panji Lipan Api.

Ini adalah makhluk perlambangan yang senantiasa tersulam pada bagian atas posisi di kepala dari cipo cila.

Naga atau Lipan Api disini merupakan motif hias peninggalan Hindu, yang kemudian diberi muatan nilai kearifan.

Di mana seorang wanita sebagai ibu yang akan melahirkan anak, diharapkan dapat menularkan kebaikan melalui pendidikan dalam rumah tangga kepada anak keturunannya.

Selain itu, motif naga juga sebagai simbol perlindungan untuk si pemakainya.

Ada hiasan piyo atau burung, sebagai simbol roh leluhur di mana masyarakat yang hidup, diharapkan dapat mewarisi sifat-sifat yang baik yang menjadi pedoman hidup para leluhur.

Motif hias Lonto engal atau motif sulur, merupakan gambaran tentang daur hidup yang terus berkesinambungan sebagai cermin hidup dan kehidupan manusia.

“Cipo cila koleksi Museum Negeri NTB memiliki warna dasar merah, sebagai simbol darah lambang dari semangat dan perjuangan hidup berlandas pada Islam,” paparnya.

Ragam hias yang disulamkan menggambarkan paduan naga atau lipan api dalam bahasa Sumbawa, dan Garuda berkepala dua yang menjadi lambang Kesultanan Bima, ini diperkaya motif hias lonto engal sebagai gambaran kekayaan flora Sumbawa.

“Diduga kuat cipo cila ini sezaman dengan Kere Alang Maraja Sangaji,” kata Bunyamin.

Koleksi kedua adalah Kere Alang Bangka Tau. Diperkirakan dibuat akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Memiliki ukuran 170 cm x 110 cm, dengan warna dasar merah, terbuat dari bahan benang katun dan benang emas, dibuat menggunakan teknik songket.

Hiasan pada kain menyebar di seluruh permukaan atau kere alang sasir dalam bahasa Sumbawa, dengan motif pusuk rebung, orang berperahu atau bangka tau, cepa, lonto engal, kemang satange, dan belah ketupat.

“Ragam hias seni kalingking bagi masyarakat Sumbawa memiliki makna tertentu,” ujarnya.

Seperti slimpat melambangkan percintaan dan kerukunan, piyo atau burung yang melambangkan roh nenek moyang, pohon hayat sebagai lambang kehidupan manusia, manusia sebagai lambang kerakyatan, naga lambang kesuburan, cecak lambang penangkal kejahatan, dan perahu sebagai wahana menyeberangi lautan kehidupan yang luas ini.

Koleksi ketiga atau yang terakhir dari Museum Negeri NTB yang merepsentasikan perempuan, adalah Tembe Songket, dengan motif Nggusuwaru.

Diperkirakan ada sekitar tahun 1680-1951. Ini berasal dari Bima. Memiliki panjang 115 cm dan lebar 83 cm.

“Tembe songket atau sarung songket ini, terbuat dari bahan benang katun dan benang perak dengan corak kotak-kotak ditenun dengan teknik pelekat,” terangnya.

Pada kepala kain disongket dengan benang perak motif stilisasi Nggusuwaru.

Nggusuwaru adalah motif hias bunga bersegi delapan. Bunga bersegi delapan mengandung makna delapan untur tanggung jawab seorang pemimpin pada suku Mbojo di NTB.

Seorang pemimpin harus taat dan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seorang pemimpin harus pintar dan cerdas, mempunyai pandangan yang lurus dan kesadaran yang tinggi karena dipundaknya melekat tugas dan tanggung jawab.

Selanjutnya, seorang pemimpin harus mampu menegakkan kebenaran dan keadilan. Seorang pemimpin harus berlaku jujur, ikhlas, dan penuh pengabdian dalam menjalankan tugas.

Seorang pemimpin harus berani bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Seorang pemimpin harus mampu dalam segala hal seperti mampu jasmani dan Rohani, ekonomi, serta mampu dalam berpikir.

“Seorang pemimpin harus memiliki kewibawaan, dan seorang pemimpin harus berasal dari keturunan yang baik-baik,” terangnya. (Yuyun Erma Kutari).

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#jeddah #Arab Saudi #koleksi #Museum NTB