LombokPost-Jelang perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), Pemprov NTB memastikan kecukupan stok pangan pokok strategis, dalam kondisi aman dan stabil.
“Ketersediaan pangan pokok strategis menjelang Nataru, kami pastikan dalam kondisi baik dan aman,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB Abdul Azis.
Bahan pangan pokok strategis seperti beras, jagung, daging sapi, daging ayam, minyak goreng, gula pasir, cabai rawit, cabai besar, bawang merah, bawang putih, dan kedelai, cukup tersedia di pasaran.
“Hasil pendataan kami seperti itu situasinya,” ujar dia.
Untuk beras, terdapat stok sebanyak 28 ribu ton di gudang Bulog sebagai cadangan pangan pemerintah (CPP).
Ada juga cadangan jagung sebanyak 51 ribu ton yang belum dikeluarkan, termasuk cadangan pangan pemerintah daerah sebanyak 281 ton.
“Kita pemprov ada cadangan 100 ton. Terdapat juga cadangan beras yang ada di lumbung pangan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap mengantisipasi segala kondisi, yang bisa menyebabkan stok bahan pangan masyarakat berkurang.
Adapun upaya yang dilakukan, diantaranya dengan penguatan cadangan pangan, hingga optimalisasi gudang cadangan pangan.
Berikutnya, memantau produksi, stok dan distribusi pangan secara berkala
“Jadi ada enumerator di semua pasar kabupaten/kota se NTB dan itu biayanya dari Bapanas (Badan Pangan Nasional, Red) dalam bentuk dana dekonsentrasi. Itu kita berikan honor setiap hari kepada tim, untuk memantau ketersediaan pangan ini,” jelasnya.
Tak kalah penting, hal lain yang dilakukan oleh DKP NTB, meningkatkan kerja sama dengan stakeholder terkait, seperti kolaborasi dengan Bulog, distributor dan petani binaan.
Selanjutnya koordinasi dengan lintas sektor untuk pengawasan pasokan dan harga pangan.
“Yang sudah kami lakukan saat ini adalah memfasilitasi antara pelaku usaha ayam petelur di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan para supplier di Pulau Sumbawa, terutama yang ada di Bima dan Dompu,” katanya.
Pihak DKP NTB bersama yang lainnya, turut gencar melaksanakan gerakan pasar murah di beberapa titik.
Ini untuk mengatasi lonjakan harga komoditas.
Harga yang ditawarkan di bawah harga pasar guna menetralisir pasar sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kami juga mendorong diversifikasi pangan lokal dan memberikan pelatihan tentang pengelolaan pangan B2SA atau beragam, bergizi, seimbang, dan aman” tandasnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida