LombokPost-Pemprov melalui Dinas Pariwisata (Dispar) NTB mengeluarkan imbauan pelaksanaan identifikasi risiko terkait cuaca ekstrem, kepada pengelola daya tarik wisata alam dan desa wisata.
”Kami sampaikan sejumlah imbauan untuk sama-sama kita patuhi,” terang Kepala Dispar NTB H Jamaluddin Malady, pada Lombok Post, Jumat (20/12).
Ini sebagai tindaklanjut terhadap isu keselamatan bagi wisatawan yang diakibatkan kondisi cuaca ekstrem saat ini. Khususnya di destinasi pariwisata berbasis alam dan di desa wisata.
”Selama momen libur hari Raya Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, masyarakat banyak mengunjungi destinasi wisata yang ada,” tegasnya.
Karenanya, diperlukan peningkatan upaya dan perhatian khusus pada manajemen keselamatan di setiap destinasi wisata alam. Pemprov meminta kepada pemerintah daerah (pemda), terutama masing-masing kepala dispar 10 kabupaten/kota, untuk melakukan langkah mitigasi yang memiliki risiko tinggi yang diakibatkan perubahan cuaca.
Dijelaskannya, identifikasi risiko merupakan proses penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat terjadi akibat perubahan cuaca.
Penerapannya menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi, atau mengontrol kemungkinan kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan, yang dapat menyebabkan kerugian maupun korban jiwa, khususnya di daya tarik wisata alam dan desa wisata.
“Kami harapkan segera diambil langkah-langkah mitigasi dan manajemen keselamatannya,” ujar Jamal.
Adapun hasilnya nanti sangat bermanfaat, dalam upaya memetakan potensi risiko yang dapat terjadi, memastikan penerapan standar manajemen keselamatan di daya tarik wisata dan desa wisata, serta bagaimana upaya dan penanganan pengurangan risiko tersebut.
“Ini sebagai komitmen kita bersama, untuk melaksanakan upaya pengurangan risiko dalam mewujudkan destinasi pariwisata yang aman, nyaman dan berkelanjutan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Yarman mengatakan sebagai upaya pemulihan ekosistem di kawasan TNGR, maka enam jalur destinasi wisata pendakian TNGR ditutup.
“Resmi ditutup untuk umum terhitung mulai tanggal 1 Januari 2025-2 April 2025,” jelasnya.
Rincian enam jalur pendakian yang ditutup sementara; Senaru dan Torean di Lombok Utara, Sembalun, Tetebatu dan Timbanuh di Lombok Timur, serta jalur wisata pendakian Aik Berik di Lombok Tengah.
Penutupan ini juga sebagai bentuk kewaspadaan, atas informasi prakiraan cuaca dari BMKG. NTB saat ini memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi, sehingga ada potensi bencana hidrometeorologi yang akan terjadi.
“Seperti hujan lebat, angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal di beberapa wilayah, dan potensi dampak bencana perlu kita waspadai sehingga pintu pendakian kita tutup,” tandasnya. (yun/r11)
Editor : Akbar Sirinawa