LombokPost-Menelan anggaran hingga Rp 10 miliar, pembangunan pabrik garam oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang berlokasi di Desa Pandai, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, dinyatakan telah rampung.
“Alhamdulillah, semuanya sudah selesai 100 persen,” terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, saat dikonfirmasi Lombok Post, Rabu (1/1).
Pabrik garam tersebut direncanakan sepenuhnya beroperasi mulai bulan Februari.
Sebab selama Januari ini, mesin pabrik yang sudah terpasang harus melalui tahap komisioning.
“Proses ini nggak bisa sebentar, bisa selama dua minggu bahkan sampai sebulan, jadi selama Januari ini tahap uji coba,” tegasnya.
Ini merupakan proses penting. Pemerintah dan pihak penyedia harus memastikan semua sistem, peralatan, dan instalasi berfungsi sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan, sebelum sepenuhnya dioperasikan.
Selama tahapan komisioning ini berlangsung, turut dilakukan identifikasi potensi masalah atau kekurangan, sehingga saat dioperasikan sepenuhnya, koperasi bisa menghindari kegagalan kerja yang tidak terduga.
“Tujuannya mencari formulasi yang tepat, kalau formulasinya sudah ketemu kan gampang bagi teman-teman usaha membiasakan diri mengoperasikannya,” tambah Muslim.
Ada tiga mesin utama yang mendukung operasional pabrik garam di Woha, Bima.
Mesin pencuci garam, mesin penghancur garam dari berbentuk dasar garam kristal menjadi halus, dan mesin yang mendukung proses iodisasi.
Iodisasi garam tujuannya meningkatkan kualitas garam rakyat dengan menambahkan mineral yodium, sehingga menghasilkan garam beryodium sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Doakan ya mudah-mudahan selama proses komisioning ini, tidak ada kendala yang berarti,” harapnya.
Kemudian di saat yang bersamaan, pemerintah akan membahas kembali perihal koperasi yang akan mengoperasionalkan pabrik garam.
Sebab setelah semua proses selesai, fasilitas ini akan diserahterimakan dari KKP kepada Pemkab Bima.
“Koperasi sudah ada cuma kalau saya perhatikan koperasi ini masih butuh penguatan karena modal dia nggak punya, bagaimana dia mau menggerakkan mesin yang mahal itu,” jelasnya.
Sekda NTB Lalu Gita Ariadi menyebut segala hal yang terkait pengelolaan pabrik garam, harus mendapatkan jawaban.
Sebab kehadirannya dihajatkan untuk meningkatkan kualitas dan harga garam di Bima.
Ke depannya juga, menjadi pemicu industri untuk menggunakan hasil produksi garam lokal. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida