Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Atensi Serius Food Waste MBG, Dinas LHK NTB Minta Sekolah Siapkan Langkah Penanganan

Yuyun Kutari • Sabtu, 18 Januari 2025 | 08:30 WIB

 

BUTUH PENANGANAN: Seorang siswa siap menyantap MBG saat uji coba di SMKN 1 Mataram awal pekan ini. Adapun sisa makanan karena tak dihabiskan siswa mesti menjadi perhatian.
BUTUH PENANGANAN: Seorang siswa siap menyantap MBG saat uji coba di SMKN 1 Mataram awal pekan ini. Adapun sisa makanan karena tak dihabiskan siswa mesti menjadi perhatian.
 

LombokPost-Dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), akan menghasilkan food waste atau sampah sisa makanan. “Program ini pasti menghasilkan sisa, entah itu ada yang nggak habis makanannya, atau dari sisa kulit buah atau tulang ayam, cangkang telur atau apalah itu ada aja sisanya,” terang Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB Samsudin, saat ditemui Lombok Post, Kamis (16/1).

Kondisi ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Pihaknya tidak ingin sampah sisa makanan malah menumpuk atau tidak terkelola dengan baik oleh pihak sekolah.

Untuk itu, dalam waktu dekat Dinas LHK NTB akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait yang menjadi leading sector pelaksanaan MBG. “Berkaitan dengan sampah yang ditimbulkan dari program MBG ini, harus sama-sama kita antisipasi,” ujarnya.

Karena jika tidak dikelola dengan baik, sampah yang ada bisa menyebabkan bau tidak sedap, dan memperburuk kondisi lingkungan sekitar. Bahkan dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air yang membahayakan kesehatan warga sekolah.

Untuk itu, penting bagi sekolah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik dan mengajarkan peserta didik, dalam memilah dan membuang sampah pada tempatnya.

Pengolahan sampah di lingkungan pendidikan, terutama sampah organik, sudah ada sekolah yang menerapkannya. Salah satu yang menjadi pilihan, budi daya larva maggot atau Black Soldier Fly (BSF) yang bisa menguraikan sampah organik atau sampah basah.

Namun kata Samsudin, sebenarnya masih ada cara lain yang bisa dilakukan sekolah. Seperti membuat compost bag, tong komposter atau pembuatan lubang biopori.

Ketiganya bisa menjadi wadah yang digunakan untuk mengolah sampah organik, sisa dari kegiatan MBG agar menjadi pupuk kompos. Jika ada sekolah yang belum menerapkan itu, Dinas LHK NTB dengan senang hati akan membantu.

“Kami bisa bantu memberi pelatihan bagaimana cara membuatnya, ini sangat bermanfaat, sisa makanan menjadi pupuk kompos dan bisa dimanfaatkan menyuburkan tanaman di sekolah,” jelasnya.

Saat ini, pelaksanaan program MBG telah diuji coba di sejumlah daerah. Samsudin menyarankan agar pihak sekolah menggalakkan sosialisasi gerakan pemilahan sampah.

“Mana yang organik dan anorganik harus bisa dipisah, begitu nanti MBG ini hadir di sekolah, sisa sampah yang ada tidak langsung dibuang begitu saja, tetapi sudah terpilah,” tandas Samsudin.

Sementara itu, berkaitan pelaksanaan MBG di Mataram, Pejabat Sementara (Pjs) Perwira Seksi Teritorial Kodim 1606/Mataram Kapten Infantri Jamuhur menyebutkan, dibutuhkan sebanyak 30 dapur untuk mengakomodir kebutuhan, dengan jumlah penerima manfaat sekitar 102 ribu orang. (yun/r11)

Editor : Rury Anjas Andita
#dapur #makan #bergizi #Pelaksanaan #Mbg #Sisa #Kesehatan #gratis #program #pencemaran