LombokPost-Pemprov NTB berupaya mempertahankan status Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark melalui proses revalidasi.
”Status global geopark ini bukan sesuatu yang abadi, akan dievaluasi setiap empat tahun,” kata Geoscientist Geopark Rinjani Lombok Meliawati, Kamis (6/2).
Proses revalidasi dimulai sejak 2024.
Tim Geopark Rinjani Lombok telah mengirimkan Executive Summary berisi ringkasan informasi penting tentang Rinjani kepada UNESCO.
”Setelah dokumen itu masuk, mereka tahu ada yang siap direvalidasi tahun 2025,” ujarnya.
UNESCO kemudian memeriksa progress report yang mencakup kegiatan yang dilakukan sejak Rinjani kembali ditetapkan sebagai global geopark pada 2022 hingga 2025.
Dalam laporan tersebut, tim UNESCO memberikan lima rekomendasi yang harus diperhatikan Geopark Rinjani Lombok.
Salah satunya peningkatan visibilitas, seperti penyediaan papan informasi atau tanda yang menunjukkan pengunjung berada di area geopark.
”Di visibilitas ini juga diintegrasikan antara geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya. Diharapkan ada bahasa lokal yang muncul, karena saat ini papan informasi hanya dalam bahasa Indonesia dan Inggris,” kata Meliawati.
Tim UNESCO juga meminta pemprov memperhatikan infrastruktur pascagempa di kawasan Rinjani.
Saat melakukan penilaian pada 2022, mereka masih melihat dampaknya.
”Mereka merekomendasikan peningkatan jalan, jaringan listrik, air, hingga manajemen sampah,” jelasnya.
Selain itu, secara kelembagaan, Geopark Rinjani Lombok harus mendukung pemberdayaan perempuan, seperti di Sembalun, Lombok Timur, dan Senaru, Lombok Utara.
UNESCO juga meminta pemerintah mengembangkan infrastruktur untuk pengelolaan pengunjung, seperti pusat informasi di luar Museum NTB, terutama di dua geosite, yakni Sembalun dan Gili Trawangan.
Terakhir, UNESCO merekomendasikan pemda mengeksplorasi manajemen pariwisata di kawasan gili agar lebih berkelanjutan.
”Lima rekomendasi ini yang harus kita laporkan perkembangannya kepada UNESCO. Artinya, harus ada peningkatan,” imbuhnya.
Meliawati menegaskan timnya sedang memfinalisasi rekomendasi tersebut.
Tenggat waktu progress report ke UNESCO paling lambat 28 Februari 2025.
”Mungkin tidak 100 persen sempurna, tetapi kita berupaya memenuhinya agar Rinjani tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark,” tandasnya.
Kepala Balai TNGR Yarman mengungkapkan pihaknya telah memberikan data yang dibutuhkan Geopark Rinjani Lombok selama proses revalidasi.
”Harapan kita sama, agar status itu tetap disematkan kepada Rinjani,” ujarnya. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida