LombokPost-Angin puting beliung yang disertai hujan lebat melanda Lombok Tengah (Loteng) pada Sabtu (22/3), merusak lebih dari 80 bangunan. Termasuk rumah warga dan fasilitas umum di sembilan kecamatan.
“Ada yang rusak ringan, sedang, hingga berat. Untuk kategori rusak berat, jumlahnya lebih dari 20 rumah,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi, Minggu (23/3).
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD NTB mencatat, angin puting beliung menerjang Kelurahan Prapen, Desa Mekar Damai, Desa Bunur Bao, dan Desa Jago di Kecamatan Praya. Kemudian, Desa Putung, Desa Barejulat, dan Desa Jelantik di Kecamatan Jonggat, serta Desa Bonder di Kecamatan Praya Barat.
Kerusakan juga terjadi di Desa Beber, Desa Pagutan, dan Desa Bujak di Kecamatan Batukliang. Desa Pengadang, Desa Jurang Jaler, dan Desa Lajut di Kecamatan Praya Tengah. Desa Pujut, Desa Bangket Parak, dan Desa Tanak Awu di Kecamatan Pujut. Desa Durian dan Desa Lingkok Berenge di Kecamatan Janapria. Selain itu, Desa Pandan Indah di Kecamatan Praya Barat Daya, serta Desa Marong di Kecamatan Praya Timur.
Untuk penanganan darurat, BPBD NTB telah menyalurkan bantuan seperti makanan, minuman, dan terpal. “Bantuan sudah kami distribusikan,” jelas Ahmadi.
Bantuan juga datang dari Kementerian Sosial (Kemensos), diserahkan oleh Anggota Komisi VIII DPR RI H Nanang Samodra dan Lale Syifaunnufus. “Cukup banyak bantuan yang diberikan, seperti tenda, terpal, pakaian, makanan, matras, dan kebutuhan lainnya,” tambahnya.
Dampak bencana ini diperkirakan menyebabkan kerugian material hingga Rp1 miliar. Banyak atap rumah beterbangan diterjang angin, tembok roboh, bahkan beberapa rumah tertimpa pohon tumbang.
"Jika rata-rata kerugian per rumah sekitar Rp10 juta, maka dengan lebih dari 80 bangunan terdampak, total kerugian diperkirakan mencapai Rp1 miliar, terutama dengan adanya rumah yang rusak berat,” ujarnya.
Untuk penanganan permanen, BPBD NTB akan menggunakan APBD tanpa mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengingat nilai kerugian yang masih dapat ditangani daerah. “Namun laporan kebencanaan tetap kami sampaikan,” katanya.
Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) NTB akan menangani rehabilitasi bangunan. Ahmadi berharap anggaran perbaikan bisa dimasukkan dalam APBD Perubahan. “Kami perjuangkan agar ada alokasi dana untuk penanganan permanen,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Satria Topan Primadi mengatakan saat ini NTB memasuki masa peralihan dari musim hujan ke kemarau atau pancaroba. Analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya gangguan yang meningkatkan potensi cuaca ekstrem di NTB.
“Kami mengimbau masyarakat dan pihak terkait waspada terhadap potensi bencana seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, petir, pohon tumbang, baliho roboh, serta berkurangnya jarak pandang,” tegasnya. (yun/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post