LombokPost – Potensi bencana di NTB terbilang tinggi. Berdasarkan peta rawan bencana, BPBD mencatat sekitar 13 jenis bencana dapat terjadi selama 2022–2026, baik hidrometeorologi maupun vulkanologi.
"Sehingga setiap saat kita harus memiliki kesiapsiagaan bencana," kata Sekda NTB Lalu Gita Ariadi, Selasa (25/3).
Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung, paling sering terjadi, terutama saat musim hujan. Dampaknya beragam, mulai dari pohon tumbang hingga kerusakan rumah. Selain itu, gempa bumi juga masih menjadi ancaman.
"Ini kita alami sendiri. Kita tidak punya kemampuan untuk meniadakan bencana karena itu bagian dari risiko kita yang berada di Ring of Fire," ujarnya.
Pada 26 April, BNPB menetapkan NTB sebagai tuan rumah Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2025. Acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih sadar bahwa NTB merupakan daerah rawan bencana.
"Ini obsesi kita ke depan agar daerah kita tangguh menghadapi bencana," tandasnya.
Kepala BPBD NTB Ahmadi menambahkan, dari 13 jenis bencana tersebut, sekitar 434 desa/kelurahan berada di daerah rawan. Sebagian besar sudah dibentuk menjadi desa tangguh bencana.
"Dengan momen HKB 2025 ini, kami ingin menguatkan desa-desa ini supaya lebih tangguh," jelasnya.
Di sisi lain, kerusakan hutan dan alih fungsi lahan semakin memperburuk situasi. Banyak pohon ditebang dan diganti dengan tanaman jagung, menyebabkan erosi yang merusak infrastruktur jalan dan jembatan serta meningkatkan risiko longsor.
"Ke depan, kami ingin mengubah penanggulangan bencana dari responsif ke preventif, termasuk lewat penghijauan kembali hutan yang gundul," tandas Ahmadi. (mar/r7)
Editor : Prihadi Zoldic