LombokPost-Upaya pelestarian spesies laut dilindungi kembali diperkuat dengan dilaksanakannya finalisasi penyusunan dokumen awal Rencana Zonasi kawasan konservasi perlindungan Hiu Paus di perairan NTB. Khususnya di wilayah Teluk Saleh, Pulau Sumbawa.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menegaskan ini merupakan langkah awal dalam proses percepatan pencadangan kawasan konservasi perairan untuk memberikan perlindungan jangka panjang terhadap populasi Hiu Paus.
“Pertemuan kelompok kerja (pokja) penyusunan dokumen awal terkait dengan penetapan kawasan konservasi di Teluk Saleh, sudah kita lakukan, dengan melibatkan berbagai pihak,” terangnya, pada Lombok Post, Minggu (20/4).
Di kawasan konservasi Teluk Saleh nanti, pemerintah akan menetapkan zonasi dengan luasan yang masih dalam pembahasan. Ada zona inti, zona pemanfaatan dan zona lainnya. Ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi
“Jadi di dalam aturan tersebut perlu kita secara tegas mengatur keberlanjutan dari keberadaan Hiu Paus di kawasan Teluk Saleh dalam jangka panjang,” jelasnya.
Dalam hal pembagian zona, ada pertimbangan khusus yang menjadi perhatian. Misalnya pada penentuan zona inti, apakah mengacu pada sumber makanan, lokasi migrasi atau kebutuhan primer lainnya yang menyangkut keberlangsungan ekosistem Hiu Paus.
Begitu juga alasan penentuan zona pemanafaatan dan zona lainnya. “Dalam penentuannya, kita sandingkan juga dengan hasil dari penelitian, makanya di pertemuan pokja, kita membuka dokumen yang terkait dengan peta peruntukkan zonasi,” ujarnya.
Pemerintah tidak ingin kedepannya, zonasi yang sudah dirancang itu ternyata berpotensi bergesekan dengan alur pelayaran Pelabuhan Calabai di Dompu, atau jalur nelayan tradisional dalam menangkap ikan.
Sesuai arahan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Teluk Saleh sebagai kawasan konservasi kategori IV berperan penting dalam perlindungan habitat dan spesies seperti hiu paus, dengan pendekatan berkelanjutan yang memperhatikan ancaman seperti lalu lintas kapal, penangkapan ikan, serta aktivitas darat seperti pertanian dan pertambangan.
Penataan zona konservasi harus selaras dengan investasi dan pembangunan, sementara keterlibatan masyarakat melalui edukasi dan penyuluhan menjadi kunci keberhasilan. “Makanya dokumen yang terkait akan kita buka secara rinci kepada pelaku usaha, masyarakat dan nelayan yang ada di kawasan Teluk Saleh di Sumbawa dan Dompu, jadi mereka nanti akan diberikan ruang untuk berpatisipasi langsung,” beber Muslim.
Moch Iqbal Herwata, perwakilan Konservasi Indonesia menekankan pentingnya pelestarian spesies terancam punah seperti Hiu Paus, sebagai prioritas konservasi. Sejak 2017, Konservasi Indonesia aktif di Teluk Saleh dengan fokus pada riset ilmiah dan pengembangan ekowisata berbasis Hiu Paus yang kini menarik sekitar 70 persen wisatawan mancanegara dan menjadi sumber pendapatan daerah melalui BLUD Pemprov NTB.
“Kami tentu berharap kegiatan ini mendapat dukungan dari bapak gubernur dan seluruh pihak pokja, untuk mempercepat pencadangan serta penetapan kawasan konservasi Hiu Paus, demi pemulihan populasi secara global, peningkatan manfaat ekonomi-sosial, dan pembangunan daerah yang berkelanjutan,” jelasnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan seluruh kebijakan pengembangan Teluk Saleh harus berlandaskan perspektif ekologis. Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam merancang kebijakan pembangunan kawasan tersebut, termasuk sektor pariwisata, pembangunan desa, infrastruktur, dan lingkungan hidup.
“Jadi apapun nanti kebijakan, kebijakan perikanan, kebijakan pembangunan infrastruktur, kebijakan pembangunan pariwisata yang terkait dengan Teluk Saleh, harus dengan perspektif ekologis," tegas Gubernur.
Iqbal mengimbau agar keuntungan ekonomi dari wisata Teluk Saleh dimanfaatkan untuk mendukung upaya konservasi Hiu Paus, sekaligus mencegah munculnya dampak negatif berupa limbah ekologis.
"Ketika kita mendapatkan keuntungan finansial satu rupiah dari biota ini, maka satu rupiah harus kita investasikan juga untuk memastikan biota ini lestari," ujarnya.
Dia mendorong pengembangan destinasi wisata Teluk Saleh sebagai tujuan wisata kelas dunia berbasis konservasi. Upaya ini termasuk penyediaan fasilitas pendukung seperti hotel butik dan museum Hiu Paus untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Nanti dalam mendesain ke depannya, jangan takut menjual mahal Teluk Saleh karena barang ini langka. Jangan sampai barang langka dijual murah, kita ingin quality tourism," tandasnya. (yun/r3)
Editor : Pujo Nugroho