LombokPost-Pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok perlu mendapat perhatian serius. Sampah tidak bisa hanya ditangani dengan satu jenis solusi. Diperlukan inovasi, salah satunya melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Hal inilah yang tengah dirancang Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Pemanfaatan sampah sebagai energi menjadi prioritas jangka menengah. Pemprov NTB akan mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga biomassa di sekitar TPAR Kebon Kongok.
“Ini akan kita lakukan dalam waktu setahun dua tahun ini,” terangnya saat meninjau langsung kondisi TPAR Kebon Kongok, Jumat (2/5).
Dalam waktu dekat, pemprov akan menggelar beauty contest untuk menjaring perusahaan atau investor yang memenuhi syarat membangun pembangkit listrik berbasis sampah. Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan seluas 2 hektare di sekitar TPAR sebagai lokasi pembangunan pembangkit.
Iqbal menegaskan, tidak ada pilihan lain dalam penanganan sampah selain memanfaatkannya sebagai sumber energi. “TPA terus menerima sampah baru yang terus masuk, yang mana sebentar lagi juga kapasitas TPA Kebon Kongok ini akan habis. Jadi nggak ada jalan lain, kita jadikan sampah ini sebagai energi,” tegas Gubernur.
Sekretaris Dinas ESDM NTB Niken Arumdati mengatakan, TPAR Kebon Kongok memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
“Jadi ini menggunakan sampah sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik,” terangnya.
Jika pemerintahan Iqbal-Dinda serius mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dari sampah, maka keterlibatan investor mutlak diperlukan. Dinas ESDM NTB telah melakukan studi kelayakan terkait biaya pembangunan PLTSa. Nilainya mencapai USD 225 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.
Anggaran sebesar itu dibutuhkan untuk pengadaan berbagai peralatan pendukung kerja PLTSa. Di antaranya, bunker atau penampung sampah, derek pengambil sampah, ruang bakar dengan sistem parut bolak-balik, sistem pengendali polusi, pemasangan unit steam turbine pembangkit listrik, serta kebutuhan lainnya.
“Memang investasinya sangat mahal, tetapi begitu kalau kita berupaya untuk mengembangkan pengelolaan sampah menjadi EBT ini,” ujarnya.
Dengan jumlah sampah yang tersedia di TPAR Kebon Kongok, energi listrik yang dihasilkan diperkirakan bisa mencapai kapasitas 25 megawatt. Angka ini tergolong besar dan setara dengan kapasitas satu unit pembangkit listrik PLTU Jeranjang, Lombok Barat.
“Ini sangat berpotensi dan bisa menjadi alternatif dalam mengatasi persoalan sampah,” pungkasnya. (yun/r7)
Editor : Akbar Sirinawa