LombokPost - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengingatkan para pendaki untuk lebih memperhatikan keselamatan.
Faktor keselamatan diminta menjadi prioritas utama selama pendakian.
Hal ini kembali ditekankan oleh petugas di setiap pintu masuk jalur pendakian.
"Kami ingatkan kembali kepada para guide, porter dan pengunjung untuk lebih berhati-hati. Khususnya di jalur-jalur rawan dan bahaya," kata Kepala Balai TNGR Yarman, Senin (5/5).
Pendaki diimbau tidak memaksakan diri jika kondisi fisik tidak memungkinkan, karena bisa membahayakan keselamatan.
Imbauan ini mengacu pada tragedi yang menewaskan pendaki asal Malaysia, Rennie Bin Abdul Ghani (RAG).
Perempuan 57 tahun itu tewas setelah terjatuh di jalur pendakian Torean, Sabtu (3/5) sekitar pukul 11.00 Wita.
Jenazah korban baru berhasil dievakuasi dari dasar jurang sedalam sekitar 80 meter pada Minggu (4/5) pukul 10.30 Wita.
"Musibah ini harus jadi pengingat. Tetap fokus dan beristirahat jika kalau sudah lelah. Jangan paksa diri lanjut terus," papar Yarman.
Ketua Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGR Budi Soesmardi menyampaikan, kegiatan pendakian tetap berjalan normal pascakecelakaan yang menimpa pendaki asal Malaysia itu.
Tidak ada penutupan atau pengurangan kuota pada enam jalur pendakian, termasuk jalur Torean yang melintasi kawasan Banyu Urip, salah satu titik rawan karena medannya ekstrem.
"Jalur pendakian tetap normal seperti biasa," ujar Budi.
Sebagai langkah antisipasi, TNGR akan melakukan survei pekan ini.
Perbaikan trek akan difokuskan pada titik-titik berbahaya, termasuk jalur Banyu Urip tempat korban RAG terjatuh.
"Kami akan memasang rambu-rambu rawan kecelakaan pada lokasi yang rawan dan bahaya," jelas Budi.
Ketua Tim Rescue Balai TNGR Gede Mastika mencatat, sepanjang 2020 hingga 2024, telah terjadi 180 kasus kecelakaan saat pendakian.
Korban terdiri dari pendaki asing dan dalam negeri, dengan rincian 44 pendaki asing dan 136 pendaki lokal.
Dari total kejadian tersebut, delapan orang dinyatakan meninggal dunia.
"Sebab kecelakaan macam-macam. Kebanyakan memang jatuh ke dasar jurang," terang Gede Mastika.
Ia menyebut, tren kecelakaan di Gunung Rinjani terus meningkat.
Pada 2024, tercatat 60 kasus, naik drastis dibanding 35 kasus pada 2023.
Pada 2022 terdapat 31 kejadian, 2021 sebanyak 33, dan tahun 2020 sebanyak 21 kasus.
"Jadi trennya naik angka kecelakaan. Ini karena kurang memperhatikan masalah safety.
Misalnya naik gunung hanya untuk foto dan upload di medsos," tandas Gede. (mar/r7)
Editor : Kimda Farida