LombokPost - Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih sering mengguyur sejumlah wilayah NTB, meski sebagian besar daerah telah memasuki musim kemarau.
Beberapa wilayah bahkan masih berisiko mengalami hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan puting beliung.
Seperti yang terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (11/5). Banjir menerjang tiga kecamatan, yakni Kecamatan Praya, Praya Barat, dan Praya Barat Daya.
Salah satu desa yang terdampak cukup parah adalah Desa Darek di Kecamatan Praya Barat Daya.
“Dari laporan yang masuk ke kami ada 80 rumah warga terendam banjir di Lombok Tengah,” kata Kepala BPBD NTB Ahmadi, Senin (13/5).
Ia menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama.
Baca Juga: Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan saat Cuaca Ekstrem, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak
Selain banjir, ujar Ahmadi, tercatat ada sembilan unit rumah dan satu sekolah yang mengalami kerusakan akibat angin puting beliung.
Tak hanya Lombok Tengah, hujan juga masih kerap turun di sejumlah daerah lain seperti Lombok Barat, Lombok Timur, Kota Mataram, Lombok Utara, dan Pulau Sumbawa.
“Kami ingatkan, cuaca ekstrem ini bisa memicu bencana hidrometeorologi. Sehingga BPBD di kabupaten/kota saya minta tetap siaga,” papar Ahmadi.
BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (Stamet ZAM) telah mengeluarkan peringatan dini terkait peningkatan potensi cuaca ekstrem di wilayah NTB untuk periode 7 hingga 13 Mei.
Peringatan tersebut diperpanjang hingga Kamis (15/5).
“Saat ini dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas yang signifikan di sekitar wilayah NTB,” jelas Kepala BMKG Stamet ZAM Satria Topan Primadi.
Ia menyebutkan, ada beberapa indikator utama penyebab meningkatnya potensi cuaca ekstrem.
Antara lain aktifnya gelombang atmosfer Equatorial Rossby yang menyebabkan penambahan suplai uap air sehingga pembentukan awan hujan meningkat di sejumlah daerah.
Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai ketinggian, serta labilitas atmosfer yang kuat sehingga mendorong pembentukan awan hujan secara masif.
Atmosfer ini mendukung terbentuknya awan Cumulonimbus (CB) yang signifikan. “Inilah sebabnya hujan masih sering terjadi meskipun sudah masuk musim kemarau,” papar Topan.
Hujan di musim kemarau ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang menunjukkan pola konvergensi di NTB.
Pola ini meningkatkan pertumbuhan awan Cumulonimbus yang memicu hujan sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang.
Prakirawan BMKG Stamet ZAM Dhian Yulie Cahyono menambahkan, selain hujan lebat, terdapat pula potensi gelombang tinggi di wilayah perairan NTB.
Gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan.
Sementara Selat Alas bagian selatan dan Samudra Hindia selatan NTB berpotensi mengalami gelombang setinggi hingga 2,5 meter.
Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di pesisir pantai diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir rob.
“Ini juga jadi warning ke pemerintah daerah dan pihak terkait untuk diharapkan melakukan langkah mitigasi,” terang Dhian Yulie. (mar/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post