LombokPost - Beberapa oknum di Sumbawa melakukan blokade pada Pelabuhan Poto Tano sebagai penyebrangan menuju Pulau Lombok.
Sebagai daerah di bawah NTB, baik Lombok maupun Sumbawa seharusnya tetap saling mendukung satu sama lain.
Namun tampaknya, saat ini Sumbawa tengah menggaungkan keinginannya untuk berpisah dari Lombok, bahkan NTB.
Beberapa hari belakangan ini, banyak beredar video yang memperlihatkan oknum di Pelabuhan Poto Tano menutup jalur menuju Lombok.
Tentunya hal ini secara langsung akan berdampak bagi masyarakat di Pulau Sumbawa dan juga Lombok.
Pelabuhan Poto Tano Sumbawa juga sudah terlihat mulai diblokade sejak 15 Mei lalu oleh komite percepatan pembentukan provinsi pulau Sumbawa dan pemisahan dengan Lombok sebagai provinsi NTB.
Tentu saja keputusan ini mendapatkan banyak komentar pro kontra dari masyarakat yang ada di Sumbawa maupun di Lombok.
Apalagi dengan penyegelan pelabuhan Poto Tano tentunya akan menghambat pengiriman sarana, bahan makanan, bahkan bantuan kesehatan dari Lombok menuju Sumbawa, dan sebaliknya.
Bahkan aktivis Lombok Bersatu juga menanggapi masalah serius mengenai keputusan pemblokadean pelabuhan Poto Tano di Sumbawa.
Koordinator Umum Aktivis Lombok Bersatu, HL Iswan Muliadi, mengatakan akan memberikan balasan serupa atas tindakan blokade Pelabuhan Poto Tano Sumbawa jika terus dilakukan.
"Kalau KP3S melakukan blokade maka aktivis Lombok Bersatu akan melumpuhkan pelabuhan Kayangan,” katanya.
Ia dengan tegas menyatakan rencana ini menyusul keputusan besar oknum di Pulau Sumbawa yang memblokade pelabuhan tanpa memikirkan dampaknya.
Aktivis Lombok Bersatu juga mengaku sudah melayangkan surat izin kepada Kapolda, Danrem 162 Wira Bhakti dan Gubernur NTB untuk melakukan hal serupa dengan yang dilakukan di Pulau Sumbawa.
Mereka juga rupanya sudah mulai melakukan aksi di pelabuhan kayangan Lombok menyusul aksi blokade di Pulau Sumbawa yang sudah dilakukan sebelumnya.
Aktivis Lombok ini juga sudah memberikan peringatan akan bergerak sendiri jika tidak mendapatkan izin dari pihak berwajib.
"Kalau tidak ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum, maka jangan salahkan kami untuk bergerak," lanjutnya.
Rupanya, tindakan aktivis dari Lombok ini juga mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar, dan pedagang, hingga sopir.
Mereka semua tentunya mengecam perbuatan aktivis di Sumbawa yang melakukan blokade di Pelabuhan Poto Tano.
Diwaktu yang sama, aktivis Lombok Bersatu ini juga mengatakan memberikan dukungan pada keinginan Pulau Sumbawa untuk lepas dari NTB.
Namun Aktivis Lombok ini juga menyayangkan sikap beberapa oknum yang justru memblokade pelabuhan Poto Tano Sumbawa.
Apalagi aksi blokade yang dilakukan di Sumbawa tentunya menghambat arus lalu lintas perekonomian dan kegiatan masyarakat Lombok dan Sumbawa.
"Pada prinsipnya kami, aktivis lombok bersatu, mendukung perjuangan pembentukan provinsi pulau Sumbawa. Tapi bukan dengan melakukan aksi blokade pelabuhan, karena hal itu akan mengganggu arus lalu lintas dan perekonomian kedua dua pulau,” ujarnya.
Karena tindakan tersebut, aktivis Lombok juga menegaskan akan memberikan balasan serupa yang dilakukan aktivis Sumbawa.
Mereka mengatakan siap melumpuhkan pelabuhan Kayangan Lombok sebagai bentuk balasan dari blokade yang dilakukan di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa.
"Intinya, mereka lakukan blokade (di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa). Kami juga siap lumpuhkan Pelabuhan Kayangan,” pangkasnya.***
Editor : Fratama P.