LombokPost-Tuberkulosis (TBC) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, meski dapat disembuhkan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, dua orang meninggal akibat TBC setiap lima menit.
“Fatalitasnya cukup tinggi karena TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga bisa menyerang tulang dan otak,” kata Direktur RSUP NTB dr HL Herman Mahaputra.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan berbagai organ tubuh, seperti paru-paru, tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, dan jantung.
“Gejalanya batuk kronis yang berlangsung lama, bisa sampai sebulan atau dua bulan. Bahayanya, TBC sangat cepat menular, tergantung kondisi tubuh. Kalau tubuh kita kuat, kita sulit tertular. Tapi kalau lemah, misalnya karena kelelahan, bisa saja mudah tertular,” jelas dr Jack, sapaan akrabnya.
Ia menyebut TBC sebagai fenomena gunung es, karena banyak kasus tidak teridentifikasi.
“Fenomenanya seperti gunung es, bahkan lebih ekstrem daripada Covid,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, jumlah kasus TBC di NTB mencapai 11.273.
Rinciannya, Lombok Barat 1.650 kasus, Lombok Tengah 1.434 kasus, Lombok Timur 2.394 kasus, Sumbawa 1.081 kasus, Dompu 646 kasus, Bima 967 kasus, Sumbawa Barat 383 kasus, Lombok Utara 328 kasus, Kota Mataram 2.036 kasus, dan Kota Bima 354 kasus.
Kementerian Kesehatan menekankan empat langkah penting untuk menghentikan penularan TBC: menemukan pasien, memastikan segera minum obat, menyelesaikan pengobatan, dan memberikan terapi pencegahan bagi kontak erat.
TBC bisa disembuhkan asalkan pasien rutin minum obat. Namun, banyak yang putus pengobatan karena menganggap sepele, malas berobat, dan tidak disiplin kontrol ke fasilitas kesehatan.
Baca Juga: 7 Polisi Berprestasi di Lombok Utara Diganjar Penghargaan, Jadi Teladan Dedikasi dan Integritas
Varian dan jumlah obat yang harus dikonsumsi cukup banyak, sehingga pasien enggan melanjutkan pengobatan, apalagi efek sampingnya seperti pusing dan mual cukup berat.
“Sebaiknya kita fokus pada kesembuhan. Kalau teratur minum obat, pasti sembuh. Kalau tidak, kembali ke awal,” katanya.
Melihat kondisi ini, dr Jack mengusulkan agar Pemprov NTB mendirikan rumah sakit khusus paru-paru.
“Saya pikir TBC ini harus menjadi perhatian kepala daerah, dengan menghadirkan rumah sakit khusus paru-paru. Nantinya, semua pengobatan pasien bisa terintegrasi,” terangnya.
Menurutnya, NTB layak memiliki rumah sakit khusus paru.
Alat penunjang seperti rontgen dada, CT scan, dan MRI sudah tersedia, ditambah tenaga dokter spesialis paru yang memadai.
“Ada lima di RSUP NTB, dan pasti ada juga di rumah sakit lain. Kita berharap ini bisa terealisasi. Kalau ada rumah sakit khusus, penanganan akan lebih maksimal,” ujar dr Jack.
Ia mengimbau masyarakat pengidap TBC untuk rutin mengonsumsi obat dan tidak malu berobat ke fasilitas kesehatan.
“Kalau ada keluhan batuk yang berlangsung lama, sebaiknya segera ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa diobati sampai tuntas dan tidak menularkan,” katanya.
Selain itu, dr Jack mendukung hadirnya vaksin TBC Bill Gates di Indonesia.
Menurutnya, vaksin ini menjadi salah satu upaya pencegahan melalui peningkatan imunitas.
“Mudah-mudahan dengan vaksin itu, pengidap TBC bisa menurun. Hilang memang sulit, tapi setidaknya menekan angka kesakitan dan kematian,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Emirald Isfihan mengatakan, meski kasus TBC meningkat, pihaknya optimistis jumlahnya bisa ditekan.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar kasus TBC dapat segera diatasi,” jelasnya. ***
Editor : Kimda Farida