LombokPost – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengambil keputusan krusial di tengah upaya evakuasi WNA asal Brasil yang terjatuh ke bawah jurang di area Cemara Nunggal.
Untuk memperlancar proses evakuasi, Balai TNGR menutup sementara jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani.
Penutupan dilakukan mulai Selasa (24/6) hingga waktu yang tidak ditentukan.
"Sampai proses evakuasi dinyatakan selesai," kata Kepala Balai TNGR Yarman, Selasa (24/6).
Disampaikan, penutupan sementara jalur menuju puncak Rinjani dilakukan untuk mempercepat proses evakuasi korban pendaki wanita asal Brasil bernama Juliana.
Perempuan berusia 27 tahun itu terjatuh pada Sabtu lalu (21/6) di jalur pendakian area Cemara Nunggal.
"Ini semata-mata dalam rangka percepatan proses evakuasi korban," jelas Yarman.
Aktivitas pendakian dari Pelawangan 4 jalur wisata pendakian Sembalun menuju puncak Gunung Rinjani.
Sebetulnya, pengunjung tetap bisa melakukan aktivitas pendakian di seluruh jalur wisata pendakian TNGR.
Tapi batas yang diperbolehkan sampai dengan lokasi Pelawangan 4 Sembalun.
Adapun dari Pelawangan 4 Sembalun menuju puncak Gunung Rinjani ditutup total.
Hal itu mempertimbangkan aspek keselamatan pengunjung, tim evakuasi dan menjaga kondusivitas kawasan.
Atas penutupan sementara itu, Balai TNGR meminta pengertian dan kerja sama semua pihak demi kelancaran upaya kemanusiaan tersebut.
"Informasi resmi terkait pembukaan jalur akan kami sampaikan melalui kanal komunikasi resmi TNGR," jelas Yarman.
Seperti diketahui, pendaki wanita bernama Juliana terjatuh pada Sabtu (21/6).
Hari itu juga tim rescue langsung melakukan upaya evakuasi korban dengan melibatkan drone thermal.
Pada Senin pagi (23/6), drone yang diterbangkan petugas berhasil mendeteksi keberadaan korban pada kedalaman kurang lebih 500 meter.
Secara visual objek dalam keadaan tidak bergerak dan dalam posisi tersangkut di tebing batu.
Melihat keberadaan korban, dua personel rescue diturunkan untuk menjangkau lokasi korban.
Namun evakuasi ini kembali menghadapi tantangan berat. Yaitu berupa medan ekstrem dan cuaca berupa mendung tebal yang memperpendek jarak pandang.
"Ini sangat berisiko. Demi keselamatan, tim rescue kami tarik kembali ke posisi aman," jelas Ketua Tim Evakuasi Balai TNGR Gede Mastika.**
Editor : Pujo Nugroho