LombokPost - Di tengah keheningan malam yang pekat di Posko SAR Gabungan Resort Sembalun, Rabu (25/6/2025) tepat pukul 20.20 wita, sebuah pemandangan mengharukan terukir.
Samsul Fadli, seorang anggota Unit SAR Lombok Timur yang telah menguras habis tenaga dan mentalnya di punggung Rinjani disambut dengan pelukan erat oleh rekan-rekannya.
Mata mereka, yang sebelumnya dipenuhi ketegangan, kini memancarkan rasa lega dan bangga.
Samsul adalah salah satu pahlawan tak terlihat yang baru saja menuntaskan misi berat mengevakuasi jenazah Juliana, seorang pendaki warga negara Brazil yang meregang nyawa di lereng terjal Gunung Rinjani.
Perjalanan tim ke kedalaman 600 meter melawan keterbatasan alam. Kisah evakuasi Juliana adalah cerminan perjuangan manusia melawan keganasan alam.
Sejak laporan pertama diterima, tim SAR gabungan dari Basarnas, TNGR, dan berbagai relawan segera bergerak.
Mereka tahu, medan Gunung Rinjani bukanlah sekadar jalur pendakian biasa.
Tebing curam, kontur tanah berpasir yang labil, dan bebatuan besar yang siap meluncur kapan saja, menjadi tantangan yang harus ditaklukkan.
"Kalau ada batu, kita teriak awas ada batu besar jatuh. Batunya memang cukup besar-besar dan berpasir," ceritanya.
Pergerakan awal tim menjangkau korban dipimpin ahli yang berani. Satu orang rescuer, Hafid Hasadi, berhasil menjadi yang pertama menjangkau lokasi korban.
Ini adalah momen krusial, memastikan kondisi korban dan mempersiapkan jalur untuk tim selanjutnya.
Tidak lama berselang, tiga rescuer tambahan menyusul diturunkan untuk mendekati korban yaitu Samsul Fadli dari Unit SAR Lombok Timur, serta Agam dan Tio dari Rinjani Squad.
Mereka adalah garda terdepan, yang harus menuruni tebing curam dan menghadapi risiko tinggi demi mencapai Juliana.
Samsul Fadli dari unit SAR Lombok Timur, menjadi salah satu yang terlibat dalam tim inti di titik korban.
Mereka bergerak cepat, menembus rimbunnya vegetasi dan terjalnya jalur, berpacu dengan waktu sebelum kegelapan merayap.
Namun, sesampainya di bibir tebing, matahari telah tenggelam.
Lokasi jenazah yang berada di kedalaman 600 meter berarti tim harus melanjutkan perjalanan dalam kondisi minim cahaya, hanya mengandalkan senter kepala yang sesekekali menembus pekatnya kabut.
"Lumayan dinginnya menusuk tulang," imbuhnya.
Namun ia bersama tim harus bermalam panjang di sisi jenazah dimana ini ujian mental dan fisik ditengah cuaca ekstrem berkabut tak menentu.
"Turun sampai sana malam, mau tidak mau harus kita tunggu," tutur Samsul dengan suara parau, menggambarkan keputusan krusial yang mereka ambil.
Dalam kegelapan yang menusuk, bersama dengan Hafid, Agam dan Tio, Samsul memilih untuk bermalam di sisi jenazah Juliana. Ini bukan hanya tentang menunggu pagi, tetapi tentang pengorbanan personal yang luar biasa. Di tengah dinginnya malam Rinjani, jauh dari peradaban, mereka menjaga jenazah, memastikan tidak ada halangan berarti sebelum proses evakuasi esok hari. Saat ditanya bagaimana aroma jenazah saat dijaga malam itu.
"Biasa saja tidak ada aroma biasanya (aroma khas mayat)," jelasnya.
Malam itu, hening hanya diisi oleh suara angin yang berdesir dan detak jantung mereka sendiri. Setiap anggota tim pasti bergulat dengan pikiran masing-masing, antara rasa lelah, kesedihan atas korban, dan konsentrasi penuh pada misi. Mereka harus menjaga fokus, mempersiapkan segala sesuatu untuk penarikan jenazah yang akan dimulai saat fajar menyingsing.
Momen kritis dirasakan saat penarikan jenazah di medan curam. Ketika mentari pagi mulai menyinari puncak Rinjani, menandakan hari baru, perjuangan sesungguhnya dimulai. Tim mulai mempersiapkan peralatan untuk menaikkan jenazah. "Kalau ditarik ada longsoran pasir, ada batu juga," kata Samsul menjelaskan betapa berbahayanya setiap gerakan.
Setiap sentimeter tali yang ditarik, setiap inci jenazah yang naikan, membutuhkan kehati-hatian ekstra. Salah perhitungan bisa berakibat fatal, baik bagi jenazah maupun bagi tim.
"Perhitungan matang dilakukan baik oleh tim yang ada di tebing maupun diatas tebing," ujarnya.
Proses penarikan jenazah Juliana dari dasar tebing yang licin dan curam berlangsung selama enam jam penuh, dari pukul 8 pagi hingga 2 siang pada Rabu (25/6/2025).
Ini adalah maraton kekuatan fisik dan mental. Tim harus berkoordinasi sempurna, mengatur tarikan, menjaga keseimbangan, dan waspada terhadap potensi bahaya di setiap saat.
Ditambah lagi, hujan bergantian yang sempat turun tiba-tiba membuat medan semakin licin dan pandangan terbatas, menambah dramatisnya adegan evakuasi. Ditambah kabutnya sekitar lokasi mengurangi jarak pandang.
"Itu berat naikin jenazah," Samsul mengakui. Sebuah pengakuan yang sederhana namun sarat makna, menggambarkan betapa beratnya beban fisik dan emosional yang mereka pikul.
Kepulangan pahlawan dan perpisahan yang haru setelah berjam-jam berjibaku dengan alam dan tantangannya. Akhirnya jerih payah tim membuahkan hasil. Jenazah Juliana berhasil dinaikkan dan dibawa ke Posko SAR Gabungan di Resort Sembalun. Pada pukul 20.39 WITA, ambulance yang membawa jenazah tiba, disambut dengan kelegaan mendalam dari seluruh personel dan keluarga yang menunggu. Ini adalah penanda berakhirnya sebuah misi yang melelahkan namun berhasil.
Segera setelah tiba, jenazah Juliana diberangkatkan menuju Rumah Sakit Bhayangkara di Mataram untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut. Di Posko Sembalun, pelukan hangat yang menyambut Samsul, Hafid, Agam, Tio, dan seluruh tim yang terlibat, menjadi simbol apresiasi atas dedikasi dan pengorbanan mereka. Kisah evakuasi Juliana akan selamanya menjadi bagian dari catatan heroik tim SAR Indonesia. Sebuah pengingat akan keberanian dan semangat tak kenal lelah dalam menghadapi tantangan alam demi kemanusiaan. Misi evakuasi pun ditutup dengan seluruh tim tepat pukul 22.00 WITA pada Rabu (25/6/2025) di Kantor Balai TNGR Sembalun, Lombok Timur. (Nurul Hidayati)
Editor : Jelo Sangaji