Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Waduh! Ternyata Banyak Pemandu Pendaki Ilegal di Gunung Rinjani

Yuyun Kutari • Rabu, 2 Juli 2025 | 09:11 WIB
PESONA RINJANI: Hamparan keindahan Gunung Rinjani yang dapat dinikmati para pendaki.
PESONA RINJANI: Hamparan keindahan Gunung Rinjani yang dapat dinikmati para pendaki.

Lombok Post-Insiden tragis yang menimpa pendaki asal Brasil Juliana Marins, di Gunung Rinjani mengingatkan pentingnya pemandu pendaki dan Trekking Organizer (TO) bersertifikasi.

Plh Sekda NTB Lalu Mohammad Faozal menyoroti realita minimnya jumlah pemandu pendaki dan TO Gunung Rinjani yang memiliki sertifikasi. “Ini menjadi bahan evaluasi kami dan harus diperhatikan oleh Balai TNGR,” tegasnya, Selasa (1/7).

Dijelaskannya, ada 600 pemandu pendaki dan TO Gunung Rinjani yang beroperasi saat ini. Namun, hanya 50 persen yang telah memiliki sertifikasi.

Sertifikasi menurutnya, bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan terhadap keselamatan pendaki dan kualitas pengalaman wisata di medan ekstrem Gunung Rinjani.

“Kami mendapatkan data yang memiliki sertifikasi hanya 300 pihak saja, sisanya ini ilegal, karena ada indikasi mereka berpraktik tanpa sertifikat,” kata dia.

Faozal menegaskan ini menjadi peringatan bagi Balai TNGR. Memang mereka tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikat kompetensi profesi.

Namun Balai TNGR memiliki peran selaku regulator dan fasilitator yang sangat kuat, untuk mewajibkan setiap pemandu pendaki dan TO yang beroperasi di wilayahnya memiliki sertifikat kompetensi dari lembaga yang terakreditasi.

Jika tidak, jelas ini menimbulkan dampak buruk. “Kalau misalnya ada insiden, bisa jadi itu dipertanyakan apakah pemandu pendaki ini punya sertifikat atau tidak, jadi taman nasional harus memperhatikan ini,” terang pria yang juga asisten II Setda NTB ini.

Dengan hadirnya pemandu pendaki dan TO yang bersertifikasi di Gunung Rinjani, memudahkan pemerintah melakukan pengawasan. Ini menjadi informasi baik dan memberi rasa aman bagi pendaki.

“Taman nasional harus memfasilitasi untuk sertifikasi pemandu pendaki dan TO ini,” pungkasnya.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan perlunya keseimbangan antara aspek pariwisata dan daya dukung lingkungan. Ia menyebutkan, pembatasan kuota pendaki bisa menjadi opsi realistis untuk diterapkan.

“Proses pendakian ini bukan melulu soal pendapatan, tapi juga soal keselamatan,” tegasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#pemandu #pendaki #Gunung Rinjani #rinjani #Juliana Marins