Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siswi SD Taklukkan Puncak Rinjani di Tengah Isu Tragedi! Hafal 3 Juz dan Kuat Hadapi Jalur Ekstrem

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 5 Juli 2025 | 13:13 WIB
Shafirra Aqilla Rachman
Shafirra Aqilla Rachman

LombokPost - Di tengah kabar duka dan kontroversi soal keselamatan pendakian Gunung Rinjani, hadir sebuah kisah yang menjawab dengan lembut: bahwa untuk menaklukkan alam, yang dibutuhkan bukan hanya kekuatan fisik, tapi juga cinta, kepercayaan, dan keberanian.

Adalah Shafirra Aqilla Rachman, siswi kelas 5 SD Islam Integral Luqmanul Hakim, yang sukses menjejakkan kaki kecilnya di puncak Rinjani, gunung tertinggi ketiga di Indonesia. Ia berdiri di ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut—sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat sejak bayi ia lahir prematur dan memiliki riwayat sesak napas.

Semua ada di Rinjani,” kata sang ayah, Abdurrahman, yang juga Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram. “Padang pasir seperti Bromo, es seperti Jaya Wijaya, dan danau warna-warni seperti Kelimutu—semua keajaiban gunung-gunung Indonesia ada di Rinjani.”

Keluarga ini memang pecinta alam. Akhir pekan mereka diisi dengan menjelajahi bukit-bukit kecil seperti Bukit Cacing. Namun Rinjani, bagi sang ayah, adalah pengalaman yang tak biasa.

“Tumben saya bawa anak. Cemas rasanya. Tapi ternyata, dia lebih kuat dari saya.”

Tim pendakian Shafirra beranggotakan ayahnya, pemandu profesional Hanan Herkules, serta beberapa pendamping lain: Kak Nis, Kak Rafa, dan Haki. Mereka mulai mendaki saat sore, bermalam di Pos 3, dan melanjutkan ke Pelawangan esok paginya. Sekitar pukul 01.00 dini hari, Shafirra memulai summit attack—dan berhasil!

“Jalurnya cuma semeter lebarnya, kontur berubah karena gempa. Banyak orang dewasa nyerah di Leter E, tapi dia terus,” kisah sang ayah.

Perjalanan turun dimulai Minggu jam 10 pagi, hingga sampai Pos 2 pada pukul 15.00 WITA.

Tak hanya fisik, mental dan kepribadian Shafirra juga mencerminkan semangat dan ketekunan. Ia tercatat sebagai:

“Saya tamat SMA baru main gunung. Tapi dia masih kelas 5, sudah sampai puncak Rinjani,” ujar Rachman, penuh bangga.

Di tengah tragedi yang menimpa pendaki asal Brasil, Juliana Marins, keputusan Rachman mengizinkan anaknya muncak bukan tanpa pertimbangan.

“Saya tahu anak saya. Dan saya percaya pada guidenya. Profesional, telaten, dan pengalaman.”

Meski demikian, ia tetap mewanti-wanti sejak awal: jangan dipaksakan jika anak merasa lelah. Namun Shafirra justru menunjukkan daya juang luar biasa. Bahkan ketika logistik menipis dan beberapa anggota tim membatalkan perjalanan, ia tetap konsisten.

Menurut sang ayah, kejadian di gunung seringkali bukan karena alamnya, melainkan karena kelalaian manusia.

“Kalau SOP diikuti dengan benar, anak kecil pun bisa sampai puncak.”

Pesan utama dari pengalaman ini bukan pamer, tapi motivasi. Bahwa mencintai alam bisa dimulai sejak dini. Gunung bukanlah musuh, melainkan sahabat yang mengajarkan syukur dan tanggung jawab.

“Anak-anak itu jangan cuma dikasih gadget. Kenalkan alam. Biar mereka tahu cara bersyukur.”

Rinjani bagi keluarga ini bukan akhir, tapi awal dari banyak petualangan. Setelah ini, mereka sudah merencanakan pendakian ke Merapi dan gunung lainnya.

Shafirra memang kecil. Tapi langkahnya di jalur sempit dan berbatu adalah langkah besar. Untuk dirinya sendiri, dan untuk anak-anak Indonesia lainnya—yang suatu saat akan tahu, seperti apa rasanya menjejak langit dan membawa pulang kisah yang akan mereka kenang seumur hidup.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Anak Hebat Indonesia #Gunung Rinjani 2025 #Siswi SD Muncak #Pendakian Rinjani #Kisah Inspiratif NTB