Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siap-siap 200 Penari NTB Bakal Tampil di Istana Negara, Wajib Memukau Tujuh Menit di Panggung Utama

Yuyun Kutari • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 18:19 WIB
MEMUKAU: Pembukaan FORNAS VIII Tahun 2025 yang menampilkan perpaduan sejarah dan budaya, dari ratusan penari muda asal NTB, pada 26 Juli lalu.
MEMUKAU: Pembukaan FORNAS VIII Tahun 2025 yang menampilkan perpaduan sejarah dan budaya, dari ratusan penari muda asal NTB, pada 26 Juli lalu.

Lombok Post - Pertunjukan budaya di panggung pembukaan FORNAS VIII 2025, bukanlah titik akhir, melainkan gerbang menuju panggung yang jauh lebih megah, Istana Negara Jakarta.

Hanya beberapa hari setelah tampil memukau di panggung pembukaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII Tahun 2025, di lapangan Bumi Gora, kantor Gubernur NTB pada 26 Juli lalu, kabar mengejutkan sekaligus menggembirakan datang tanpa aba-aba dari pemerintah pusat.

Isinya, menginstruksikan NTB untuk tampil dalam peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025 mendatang. Tidak di pinggir, tidak di tenda tamu, melainkan di mainstage, pusat perhatian seluruh Bangsa, langsung di hadapan Presiden dan tamu negara.

“Saya nggak bisa ungkapkan dengan kata-kata, ini bukan hal yang mudah, waktunya sangat mepet, tapi show must go on,” ujar sang koreografer sekaligus kepala Taman Budaya NTB Lalu Suryadi Mulawarman.

Tampil di hadapan publik, mungkin hanya terlihat sebagai satu pertunjukan tari. Tapi di balik panggung, pria yang akrab disapa Miq Surya mengaku, timnya menghadapi tantangan besar, bagaimana meringkas kekayaan budaya NTB yang begitu kompleks, Sasak, Samawa, dan Mbojo, ke dalam durasi yang dibatasi hanya 7 menit.

Ia menyebut arahan dari Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal sangat jelas, jangan tampil persis seperti saat pembukaan FORNAS VIII 2025. Maka mereka harus merombak koreografi, menyusun ulang narasi budaya, dan mencari tokoh perjuangan dari NTB yang bisa menjadi figur sentral pertunjukan.

“Ini bukan sekadar soal tarian. Ini tentang menyampaikan identitas. Tentang memperkenalkan nilai-nilai perjuangan masyarakat NTB kepada Indonesia, bahkan dunia," lanjutnya.

Kepercayaan untuk tampil di Istana Negara, bukan hadiah yang datang begitu saja. Penampilan mereka sebelumnya telah melalui kurasi ketat oleh tim dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Sekretariat Negara.

Dalam sistem seleksi nasional yang hanya memilih segelintir provinsi, nama NTB berhasil tembus, sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan, tetapi juga menegangkan.

“Kami juga berharap tidak ada daerah lain yang harus tergantikan oleh kami. Karena ini kurasinya sangat selektif,” kata Miq Surya.

Ini peluang, betapapun datangnya mendadak, harus disambut. Dengan semangat juang dan rasa cinta pada tanah kelahiran, dirinya mengumpulkan kembali para penari, sebanyak 200 orang, dan mulai menyusun ulang skenario artistik.

Mereka bekerja melawan waktu, melatih tubuh dan pikiran, memeras kreativitas tanpa henti. Bagi Miq Surya, tampil di Istana Negara bukan hanya sekadar pertunjukan. Ini adalah mimpi panjang yang kini mulai menapaki kenyataan, mimpi agar budaya NTB tak hanya dikenal di dalam negeri, tapi juga mendunia.

Dari pelataran kantor Gubernur NTB di Mataram, kini mereka akan menari di halaman tertinggi di republik Indonesia, menyuarakan suara leluhur, mengibarkan warna-warni tradisi, dan mengingatkan bahwa Indonesia adalah mozaik dari ribuan budaya yang hidup.

Nantinya, saat 200 penari NTB yang tampil di bawah bendera merah putih, ada makna yang turut disampaikan, perjuangan bukan hanya milik masa lalu, tapi juga milik mereka yang terus menjaga jiwa bangsa tetap menyala.

“Impian kami kini sudah menasional. Selanjutnya, kami akan mendunia," pungkas Miq Surya, dengan nada penuh keyakinan.

Editor : Prihadi Zoldic
#istana negara #Fornas #Gubernur NTB #NTB #Bumi Gora #Lalu Muhamad Iqbal