LombokPost - Arif Rohman menjadi salah satu sosok yang berjasa dengan hadirnya sekolah rakyat di Lombok Barat (Lobar). Bersama Dinas Sosial, Kepala Sentra Paramita Mataram ini bertekad menyukseskan program sekolah rakyat memberikan kesempatan bagi anak-anak keluarga miskin di Lombok Barat mengubah hidupnya agar menjadi orang yang sukses.
Senyumnya ramah kepada siapa saja. Dia mudah akrab dan bergaul dengan semua kalangan. Arif Rohman bukan sembarang orang. Dia memiliki sederet gelar dan jabatan mentereng di berbagai tempat. Salah satunya kini dia menjabat Kepala Sentra Paramita Mataram Kemensos RI. Namun di balik jabatan yang disandangnya, tersimpan kisah inspiratif tentang kegigihan dan tekad kuat seorang Arif Rohman, S.ST, M.SIP, MAWG, PhD.
Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang ini, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita setinggi langit. Lahir di Demak, 31 Maret 1978, Arif Rohman adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
Ia dibesarkan oleh ibundanya, Sukarsih, seorang ibu tunggal yang sehari-hari berjuang menghidupi anak-anaknya dengan berjualan gorengan di pinggir jalan Pasar Bintoro, Demak. Dengan pendidikan yang hanya sampai kelas 2 SD, Sukarsih memiliki satu mimpi besar, melihat anak-anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
”Ibu saya bilang, sekolah itu pekerjaan paling gampang karena bisa dikerjakan sambil tidur,” kenang Arif. Kalimat sederhana itu menjadi cambuk yang menancap di benaknya. Keterbatasan biaya memaksa Arif dan kedua kakaknya memutar otak.
Setelah sang kakak sulung yang kuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP) Jurusan Sejarah, mereka memutuskan untuk memilih jalur pendidikan yang lebih terjangkau. ”Kakak saya yang kedua memilih Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan kini bekerja di Kementerian Keuangan. Saya sendiri pada tahun 1996 memutuskan masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung,” ujarnya.
Keputusan itu berbuah manis. Pada tahun 2000, Arif lulus dari STKS dengan predikat lulusan terbaik dan IPK 3,88. Keberhasilannya tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan studinya ke jenjang S2 di Kajian Pengembangan Perkotaan, Universitas Indonesia (UI), dan menyelesaikannya hanya dalam tiga semester dengan tesis berjudul Gelandangan di Jakarta.
Tak puas menimba ilmu di bumi pertiwi, suami Arguna Lenggogeni merantau ke Australia dan meraih impian. Pencarian ilmu membawa Arif jauh ke benua Australia setelah dia berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) dan melanjutkan S2 di Womens and Gender Studies, University of New England (UNE).
Disertasinya yang berjudul Rumours and Realities of Marriage Practices in Contemporary Samin Society meraih predikat High Distinction (HD), sebuah pencapaian langka yang menarik perhatian seorang profesor ternama, Profesor Manohar Pawar, PhD.
Berkat kegigihan dan prestasi akademiknya, Arif ditawari langsung untuk melanjutkan studi doktoralnya di Charles Sturt University (CSU). Ia pun meraih gelar PhD in Social Work dengan disertasi berjudul Voices from a Leprosy Colony. Sederet penghargaan dan beasiswa bergengsi lainnya, seperti Australian Leadership Award (ALA) Fellowship dan Australia Awards Indonesia (AAI), turut melengkapi perjalanan pendidikannya.
Namun, di balik semua prestasi akademik tersebut, pencapaian terbesar bagi Arif adalah mewujudkan mimpi ibunya. ”Alhamdulillah, tahun 2009 saya sudah bisa memberangkatkan haji Ibunda dan kakak laki-laki saya,” ungkap bapak dua anak ini dengan haru.
Prestasi kerjanya juga tak kalah gemilang. Ia dianugerahi Satyalancana Karya Satya X Tahun oleh Presiden RI dan menempati peringkat kedua dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrasi (PKA) yang diselenggarakan Kementerian Sosial RI.
”Motto hidup saya, tidak dapat disebut kemenangan kalau tanpa didahului dengan perjuangan dan rintangan tidak dapat menghentikanku. Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh,” terangnya.
Arif Rohman menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa tekad kuat dan kerja keras adalah kunci untuk membalikkan takdir dan meraih kesuksesan, seperti yang telah ia lakukan. (*/r8)
Editor : Jelo Sangaji