LombokPost - Gedung DPRD NTB sudah hangus dilalap si jago merah. Wakil rakyat NTB kini tak lagi punya kantor permanen untuk membahas berbagai agenda kerakyatan.
Terkait hal itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan prioritas utama saat ini melakukan pembersihan. Hal itu disampaikannya usai rapat paripurna bersama DPRD NTB, terkait pembahasan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025, Rabu (3/9).
Ia juga menekankan pentingnya identifikasi kondisi bangunan untuk menentukan bagian mana yang masih layak digunakan dan mana yang tidak.
“Tentu yang tidak bisa dipakai ya sudah kita lapisin (tutupi,Red), biar tidak terlalu kelihatan, nanti menciptakan trauma publik,” ujarnya pria asal Lombok Tengah tersebut.
Disinggung terkait pendanaan perbaikan gedung, Gubernur Iqbal menyebut sejauh ini belum ada keputusan final. Informasi yang beredar, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan dana darurat sekitar Rp 900 miliar.
Disiapkan untuk memperbaiki berbagai kerusakan dalam aksi unjuk rasa anarkis pekan lalu. Namun, mantan jubir menlu itu menegaskan belum ada dokumen resmi atau surat tertulis yang menyatakan hal tersebut.
“Katanya dari APBN, tapi belum jelas. Ini baru pernyataan, belum ada tertulis. Dan kami di daerah juga belum membahas soal itu di anggaran kami,” ujarnya.
Gubernur juga mengungkapkan saat ini Dinas PUPR masih melakukan kajian. Dilakukan untuk menghitung nilai kerugian dan mendata aset-aset yang hilang atau rusak akibat peristiwa tersebut.
Keputusan akhir mengenai besaran anggaran yang akan digunakan dan sumber dananya masih menunggu hasil kajian itu juga. Meski demikian, Iqbal mengatakan gedung DPRD NTB harus segera difungsikan kembali.
“Yang jelas harus difungsikan kembali dan bagaimana memfungsikan kembali belum sampai di sana. Ini hal lain, kita tadi bahas APBD Perubahan dulu,” tandasnya.
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi, mengungkapkan gedung utama DPRD NTB mengalami kerusakan parah.
Hampir seluruh bagian dari gedung berlantai tiga itu hangus terbakar. "Mulai dari ruang pimpinan dewan, ruang-ruang fraksi, ruang komisi, hingga ruang paripurna semuanya ludes terbakar," jelasnya.
Adapun kondisi fisik bangunan tampak mengkhawatirkan, dengan sejumlah tembok yang mulai retak.
Ia mengatakan, untuk memastikan apakah bangunan masih bisa diperbaiki atau tidak, diperlukan pemeriksaan mendalam terhadap struktur bangunan.
“Karena paparan suhu tinggi dari kebakaran bisa menyebabkan penurunan kekuatan konstruksi secara signifikan,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam