Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BRIDA NTB Lakukan Riset Pengolahan Sampah Menjadi Biogas, Minyak dan Pupuk, Libatkan Peneliti UNRAM

Rosmayanthi • Selasa, 30 September 2025 | 18:18 WIB

BRIDA NTB melakukan riset pengolahan sampah menjadi biogas, minyak dan pupuk, dengan melibatkan peneliti UNRAM serta Yayasan Rumah Energi.
BRIDA NTB melakukan riset pengolahan sampah menjadi biogas, minyak dan pupuk, dengan melibatkan peneliti UNRAM serta Yayasan Rumah Energi.
LombokPost - Masalah sampah di beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi momok yang tiada putusnya.

Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat misalnya, sampai kini masih berhadapan dengan persoalan sampah yang kian darurat.

Sampah rumah tangga, ditambah lagi banyaknya dapur MBG, membuat produksi sampah kian tinggi. Membuat sejumlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kota Mataram dan TPA Kebon Kongok Lombok Barat over load (kelebihan muatan). Dan mungkin juga di daerah lain menghadapi masalah yang sama.

Akibatnya ketika musim hujan datang, menimbulkan bau busuk yang menyengat hingga munculnya berbagai penyakit.

Melihat kondisi ini, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) pun berinisiatif menciptakan teknologi pengelolaan sampah yang mampu menciptakan solusi sekaligus manfaat.

Tak main-main, BRIDA NTB mengandeng sejumlah pakar ahli dari Universitas Mataram (UNRAM) dan juga Yayasan Rumah Energi.

Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos., M.H., menyampaikan, ada tiga jenis pengelolaan sampah yang tengah di riset BRIDA NTB bersama pakar ahli Universitas Mataram dan juga Yayasan Rumah Energi. 

"Ketiganya bersifat penanganan sampah di hulu atau dimana sampah itu berasal, bukan dihilir ya," ucap Aryadi di Kantor BRIDA NTB Selasa (30/9).

Pengelolaan sampah yang pertama adalah sistem Biodigester. Yakni menempatkan sebuah wadah kedap udara yang dirancang untuk mengolah limbah organik (sisa makanan) melalui proses yang disebut pencernaan anaerobik. 

Proses ini dilakukan oleh mikroorganisme dalam lingkungan tanpa oksigen, yang nantinya menghasilkan dua produk yang bermanfaat, yakni biogas dan pupuk organik cair/padat (kompos).

Kepala BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE saat mengunjungi TPA Kebon Kongok Lombok Barat Selasa (30/9).
Kepala BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE saat mengunjungi TPA Kebon Kongok Lombok Barat Selasa (30/9).

"Biogas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, penerangan, atau menghasilkan listrik, sementara komposnya sangat kaya akan nutrisi sehinga dapat digunakan untuk menyuburkan tanah (pupuk)," jelas Aryadi.

Sistem pengelolaan sampah yang kedua, tambah Aryadi, adalah sistem Pirolisis.

Pirolisis adalah proses dekomposisi termal atau pemanasan bahan organik (berupa plastik) dalam kondisi tanpa atau minim oksigen, sehingga mampu mengubah limbah plastik menjadi minyak cair (disebut juga minyak pirolisis).

Minyak yang dihasilkan dapat dimurnikan lebih lanjut dan digunakan sebagai bahan bakar. Bisa digunakan untuk bahan bakar mesin kecil seperti mesin pemotong rumput atau mesin kapal nelayan jenis ketinting (sampan).

"Jadi sistem Pirolisis ini menawarkan solusi untuk mengatasi sampah plastik, terutama yang sulit didaur ulang dengan cara konvensional. Ini merupakan temuan energi terbaru, dimana mampu menghasilkan minyak sintetis yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif," ungkap Aryadi.

Selain itu Pirolisis ini sangat ramah lingkungan. Karena dilakukan dalam lingkungan minim oksigen, proses ini tidak menghasilkan pembakaran langsung, sehingga dapat meminimalkan emisi gas berbahaya. 

Mesin Pirolisis (pengolah sambah plastik menjadi bahan bakar) pun bersifat portable (mini/mudah diangkat) dan biaya operasionalnya bisa dijangkau industri rumahan (UMKM).

Sistem pengelolaan sampah yang ketiga adalah sistem mengelolaan sampah dengan teknologi pengolahan lindi (air limbah yang dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA) menjadi gas dan air bersih.

Pengolahan lindi sebagai gas dan air bersih adalah proses mengolah cairan limbah yang sangat berbahaya dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah menjadi dua produk bermanfaat, yakni biogas dan air yang lebih bersih. 

"Proses ini merupakan solusi canggih untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan akibat lindi, yang jika tidak diolah akan mencemari tanah dan air tanah," ucap Aryadi saat berkunjung ke TPA Kebon Kongok Lombok Barat bersama Pakar UNRAM dan Yayasan Rumah Energi.

Hebatnya lagi, air limbah yang berbau dan kotor setelah disuling akan menjadi gas (untuk bahan bakar masak warga), ampasnya bisa jadi pupuk dan airnya bisa jernih kembali tidak berbau dan bisa digunakan kembali oleh masyarakat untuk menyiram tanaman atau memelihara ikan lele dan lindung.

"Contoh di TPA Kebon Kongok Lombok Barat ini menurut petugas mampu memproduksi air hingga 50 meter kubik (50 ribu liter)/hari dan 115 meter kubik (1.150.000 liter air) jika turun hujan. Menurut hasil riset, jumlah produksi air limbah TPA Kongok bisa menghasilkan minimal 15-20 meter kubik (2 ribu liter) gas yang bisa digunakan untuk kebutuhan 250 rumah tangga," ungkap Aryadi.

Itu sebabnyanya, Aryadi sangat berharap riset yang dibiayai oleh pusat ini bisa sukses dan segera dilakukan untuk mengatasi masalah sampah di kabupaten/kota.

"Nanti setelah riset ini sukses dan berhasil, maka kami berharap keterlibatkan semua stakeholder untuk menyiapkan kebutuhan semua alat-alat pengelolaan sampah di tiga riset ini untuk ditempatkan disetiap hulu (pembuangan sampah)," harap Aryadi.

BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE siap mengubah Lindi TPA Kebon Kongok Lombok Barat menjadi biogas, pupuk dan air bersih.
BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE siap mengubah Lindi TPA Kebon Kongok Lombok Barat menjadi biogas, pupuk dan air bersih.

Dan untuk tahap awal, hasil berupa gas, minyak, pupuk dan air bersih hasil pengelolaan sampah di tiga sistem ini akan dikembalikan ke daerah tempat sampah dl ambil.

"Artinya gasnya, komposnya, minyaknya dan juga air hasil sulingnya yang dihasilkan dari limbah sampah ini akan kita kembali kepada masyarakat tempat sampah itu diambil, misalnya pengelolaan Lindi (air limbah) di TPA Kebon Kongok setelah diolah dan menghasilkan, maka masyarakat sekitar TPA tak perlu lagi membeli gak untuk masak karena sudah ada gak hasil lindi tadi," jelas Aryadi.

Aryadi menegaskan komitmen BRIDA NTB dalam mencari solusi persoalan masyarakat dengan memanfaatkan masalah itu sendiri.

"Intinya masalah justru jadi solusi. Darurat sampah karena sulit tempat penampungan, tapi dengan teknologi, sampah bisa memberi manfaat bagi masyarakat, dan bisa meminimal pencemaran sampah di sekitar pembuangan sampah," tutup Aryadi.

Editor : Siti Aeny Maryam
#manfaat #sampah #riset #BRIDA #pupuk #NTB #biogas