Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BRIDA NTB Bersama UNRAM dan YRE Siap Mengubah Lindi TPA Kebon Kongok Lombok Barat Menjadi Biogas, Pupuk dan Air Bersih

Rosmayanthi • Selasa, 30 September 2025 | 18:37 WIB

BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE siap mengubah lindi TPA Kebon Kongok Lombok Barat menjadi biogas, pupuk dan air bersih.
BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE siap mengubah lindi TPA Kebon Kongok Lombok Barat menjadi biogas, pupuk dan air bersih.
LombokPost - Lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Cairan limbah ini ternyata bisa diolah menjadi biogas yang bisa digunakan untuk kebutuhan memasak ibu rumah tangga. Tak hanya biogas, hasil pengelolaan Lindi juga dapat menghasilkan pupuk dan air bersih.

Melihat peluang ini, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) gercap melakukan riset pengelolaan Lindi sehingga bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Tak main-main, BRIDA NTB bekerjasama dengan tiga unversitas sekaligus dalam melakukan riset pengelolaan Lindi ini yang akan diolah menjadi biogas dan pupuk cair.

Adapun tiga universitas itu adalah, Universitas Mataram (Unram), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Yayasan Rumah Energi, serta didukung Kementerian Lingkungan Hidup.

Dalam riset ini, BRIDA juga melibatkan Yayasan Rumah Energi (YRE) yang terbukti telah pernah berhasil mengembangkan Biogas dari sampah, dan sudah digunakan untuk kebutuhan memasak ibu rumah tangga.

Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos., M.H., Selasa (30/9) menegaskan komitmen BRIDA NTB dalam mencari solusi dari setiap persoalan yang ada di masyarakat, termasuk masalah darurat sampah.

"Bagi BRIDA, masalah justru bisa menjadi solusi. Contoh masalah darurat sampah yang masih dihadapi hingga kini, tapi dengan teknologi, sampah ini bisa diolah dan memberi manfaat bagi masyarakat. Dan yang terpenting teknologi ini bisa meminimalisir pencemaran sampah yang terjadi di sekitar pembuangan," ucap Aryadi.

BRIDA NTB bersama penelitian tiga universitas dan YRE akan melakukan riset pengelolaan Lindi yang ada di TPA Kebon Kongok Lombok Barat.

Kenapa TPA Kongok, karena TPA ini memiliki kapasitas produksi Lindi yang cukup besar sehingga mampu menghasilkan biogas yang besar pula.

Lindi (air limbah) dari sampah di TPA Kebon Kongok Lombok Barat.
Lindi (air limbah) dari sampah di TPA Kebon Kongok Lombok Barat.

"TPA Kebon Kongok Lombok Barat ini memproduksi Lindi hingga 50 meter kubik (50 ribu liter)/hari, atau 115 meter kubik (1.150.000 liter) jika turun hujan. Menurut prediksi riset, jumlah produksi Lindi TPA Kongok bisa menghasilkan minimal 15-20 meter kubik (20 ribu liter) gas yang bisa digunakan untuk kebutuhan 250 rumah tangga," ungkap Aryadi.

Selain itu, Aryadi menegaskan, tujuan utama dari pengelolaan lindi adalah mengolahnya agar aman sebelum dibuang ke lingkungan dan bisa bermanfaat kembali.

"Intinya meminimalisir pencemaran dan mengambil manfaatnya, setelah Lindi diolah kita bisa dapat biogas, pupuk juga air bersih hasil penyulingan yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau memelihara ikan lele dan lindung," tambah Aryadi sambil menyebut riset penampungan Lindi perdana di Kebon Kongok akan dimulai pada 8 Oktober medatang. 

Meski saat ini masih dalam tahap pilot project, Aryadi optimistis teknologi ini dapat diterapkan secara luas di Indonesia. Itu sebabnya ia berharap dukungan dari pemerintah pusat, mitra riset dan semua stakeholder Pemprov NTB untuk dapat mempercepat implementasi.

“Kalau ini berhasil, NTB akan jadi pionir dalam pengolahan lindi berbasis teknologi. Ini bukan hanya soal riset, tapi soal masa depan lingkungan kita,” tandas Aryadi.

BRIDA NTB juga mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem pemantauan produksi gas. Dengan sensor tekanan dan aliran yang terhubung ke internet, masyarakat dan peneliti dapat memantau kondisi reaktor secara real-time.

Data dari berbagai titik akan dikumpulkan melalui gateway dan dapat diakses publik. 

“Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga transparansi. Sehingga siapa pun bisa memantau prosesnya secara online,” jelas Aryadi.

Sementara itu, Paniran, Peneliti dari UNRAM yang terlibat riset pengelolaan Lindi Kebon Kongok, menyampaikan harapan agar Lindi TPA Kebon Kongok bisa segera menghasilkan Biogas yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Kita harus melakukan riset dan monitoring berapa produksi gasnya termasuk kandungan metananya agar punya daya bakar yang bagus, dan yang terpenting kita bisa kontrol juga bagaimana mengurangi tekanan biogas ini agar tidak terjadi ledakan saat digunakan untuk kepentingan ibu-ibu memasak," jelas Paniran.

Untuk itu perlu dilakukan riset agar biogas yang di gunakan masyarakat nantinya aman dan bisa menghasilkan daya bakar yang sama dengan gas elpiji yang dijual oleh Pertamina.

"Memang semua masih planning project, mudah-mudahan proses lancar dan berhasil, semoga bisa digunakan masyarakat untuk jangka panjang, sehingga tak harus beli gas lagi untuk masak," tambah Paniran.

Doktor Misbahuddin Peneliti lain dari UNRAM juga menambahkan, riset pengelolaan Lindi bersama BRIDA ini merupakan yang pertama di Indonesia. 

Kepala BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE saat mengunjungi TPA Kebon Kongok Lombok Barat Selasa (30/9).
Kepala BRIDA NTB bersama peneliti UNRAM dan YRE saat mengunjungi TPA Kebon Kongok Lombok Barat Selasa (30/9).

Planning project ini dibiayai oleh pemerintah pusat dan UNRAM tidak sendiri dalam mengerjakannya, tapi juga melibatkan peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

"UNRAM kebahagiaan di teknologi monitoringnya, menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem pemantauan produksi gas," ungkap Misbahuddin.

Misbahuddin menegaskan riset pengelolaan Lindi ini merupakan salah satu riset kolaborasi unggulan yang berdampak langsung pada masyarakat.

"Kementerian saat ini tengah fokus kepada penelitian penting yang langsung berdampak kepada masyarakat, salah satunya adalah pengelolaan Lindi yang bisa menghasilkan biogas, pupuk dan air bersih yang bisa bermanfaat bagi masyarakat," jelas Misbahuddin.

Selanjutnya Krisna Wijaya dari Yayasan Rumah Energi (YRE) menyebutkan, pengelolaan Lindi menjadi biogas untuk kebutuhan masak rumah tangga adalah sesuatu yang benar-benar nyata.

Pasalnya, pihaknya telah membuktikan dan mendapatkan manfaat dari Biogas yang dihasilkan dari limbah sampah rumah tangga.

"Jadi dulu tahun 2013 kami sudah melakukan riset kecil-kecilan, bagaimana mengolah biogas dari kotoran sapi dan berhasil. Lalu kami coba beralih ke sampah organik rumah tangga dan berhasil pula. Sejak saat itu kami tidak lagi membeli gas untuk masak tapi memakai biogas hasil limbah organik tersebut," ungkap Krisna.

Krisna juga mengaku pihaknya pernah mencoba mengolah Lindi. Walau dalam skala kecil, berdasarkan hasil riset YRE ternyata potensi biogas ini ada dan bisa digunakan.

BRIDA NTB bersama team mitra siap mengolah Lindi TPA Kebon Kongok menjadi biogas, pupuk dan air bersih.
BRIDA NTB bersama team mitra siap mengolah Lindi TPA Kebon Kongok menjadi biogas, pupuk dan air bersih.

"Walaupun skalanya masih kecil tapi dari sini banyak pembelajaran yang kami dapatkan, dan akan kami rekomendasikan pada rencana membangun pengelolaan Lindi di TPA Kebon Kongok ini," ujar Kresna.

Krisna juga berharap, dari pihak UNRAM mampu menghasilkan alat yang bisa mengontrol tekanan gas yang muncul dari Biogas.

"Kami berharap dari riset ini bisa menghasilkan alat kontrol untuk mengatur tekanan Biogas supaya tidak membahayakan, gimana supaya Biogas ada SNI-nya sehingga masyarakat tidak ragu menggunakannya. Intinya kami berharap pihak pakar yang terlibat dalam riset ini bisa membuat alat kontrol otomatis, sehingga ketika terjadi kelebihan gas secara otomatis akan kebuang keluar," harap Krisna.

 

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#pengelolaan sampah #lindi #riset #BRIDA #NTB #biogas