Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gowes Bikin Sehat, Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Yuyun Kutari • Sabtu, 8 November 2025 | 16:08 WIB
dr. Yusra Pintaningrum
dr. Yusra Pintaningrum

LombokPost - Tak hanya sekadar tren, gowes ternyata membawa dampak signifikan, terutama dari sisi kesehatan jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Yusra Pintaningrum, menyambut baik tren ini. Menurutnya, munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam konteks olahraga justru sangat positif.

“Saya senang sekali, FOMO olahraga justru bagus sekali, membuat orang jadi terpacu ketika melihat teman-temannya hidup lebih sehat,” terangnya, pada Lombok Post.

Saat ini, banyak orang memanfaatkan platform media sosial seperti Strava untuk merekam aktivitas olahraga, mulai dari kecepatan, jarak, hingga kalori yang terbakar. Catatan ini seolah menjadi reward yang memicu orang lain untuk ikut bergerak.

Ia menjelaskan secara rinci efek bersepeda terhadap sistem kardiovaskular. Bersepeda rutin dapat menurunkan tekanan darah, karena meningkatkan elastisitas pembuluh darah dan menurunkan tahanan perifer.

Dalam jangka panjang, aktivitas ini juga melatih otot jantung dan berpotensi menurunkan denyut nadi istirahat. Dengan rutin bersepeda, turut membantu menurunkan kolesterol total dan trigliserida, sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Secara keseluruhan, bersepeda berfungsi untuk menguatkan otot jantung, meningkatkan sirkulasi darah, dan menurunkan risiko penyakit jantung koroner.Dokter Yusra menekankan olahraga adalah investasi jangka panjang untuk mencegah penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung.

“Bersepeda selama 30-45 menit, 3-5 kali seminggu secara efektif dapat menurunkan risiko penyakit jantung,” tegasnya.

Menurutnya, tren dalam aktivitas fisik, seperti bersepeda, memiliki peran krusial sebagai “trigger” atau pemicu untuk memulai kebiasaan baik. Tren ini menjadi dorongan awal yang efektif bagi masyarakat untuk bergerak.

Agar gowes tidak hanya menjadi tren sesaat, dr Yusra membagikan beberapa kiat untuk menjadikannya kebiasaan sehat yang berkelanjutan. Pertama, cari motivasi internal. Semangat berolahraga akan meningkat seiring dengan tubuh yang terasa lebih fit dan segar, ditambah bonus berat badan turun dan otot yang makin kuat.

Bangun Komunitas. Sebaiknya ajak keluarga atau bergabung dengan komunitas sepeminatan. Hal ini penting agar tidak merasa sendiri dan tidak mudah bosan saat berolahraga.

Posting di media sosial. Memposting catatan olahraga di medsos menjadi hal yang tidak perlu dipusingkan, karena ini justru dapat memicu semangat orang lain untuk memulai olahraga.

“Olahraga selagi muda, untuk meningkatkan kekuatan otot, dan mencegah penyakit kardiovaskular. Ajak teman atau keluarga supaya sama-sama semangat berolahraga. Posting olahraga di medsos itu ‘halal’ kok, bisa jadi orang lain akan tergerak mulai berolahraga,” sarannya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar olahraga dilakukan dengan intensitas yang sesuai. Bersepeda terlalu berat atau terlalu lama justru dapat membahayakan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.

“Sesuatu yang berlebihan tidak disarankan. Olahraga dengan intensitas sedang, lebih baik untuk menjaga detak jantung tetap stabil,” ujarnya.

Untuk menjaga detak jantung tetap stabil saat gowes jarak jauh, dr Yusra menyarankan untuk berolahraga dengan intensitas ringan hingga sedang. Cara mengukurnya adalah dengan menghitung Maksimal Heart Rate (MHR), yaitu 220 dikurangi usia.

Contoh untuk usia 50 tahun, MHR adalah 170 kali per menit.Intensitas ringannya adalah 50-60 persen dari MHR artinya sekitar 102 kali per menit. Sementara intensitas sedang di angka 60-75 persen dari MHR artinya sekitar 127 kali per menit.

Kemudian, pemanasan dan pendinginan juga menjadi bagian penting dari rutinitas bersepeda. Keduanya membantu mengatur aliran darah secara bertahap agar irama jantung tetap stabil.

Bagi mereka yang baru ingin memulai rutinitas bersepeda, terutama usia di atas 40 tahun, dr Yusra berpesan agar menjadikan olahraga sebagai aktivitas yang menyenangkan.

“Olahragalah dengan senang hati. Ajak keluarga atau teman, dan kalau suka bersepeda, bisa sekalian ke tempat wisata agar lebih menyenangkan,” tuturnya.

Dokter Yusra mengingatkan agar masyarakat tidak perlu takut disebut FOMO jika hal tersebut membawa dampak positif. “Tidak apa-apa mengikuti tren asal tujuannya baik,” pungkasnya.

Editor : Jelo Sangaji
#jantung #penyakit jantung #olahraga #fomo #fear of missing out #gowes #sepeda