LombokPost - Pemprov NTB bersama Korem 162/Wira Bhakti, telah menggelar kegiatan Retreat bagi pejabat Eselon II lingkup Pemprov NTB, berlangsung dari tanggal 28 – 30 November.
Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch Sjasul Arief menekankan retret ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan upaya membentuk mental tangguh, disiplin tinggi, loyalitas tanpa kompromi, dan semangat kebersamaan pada pejabat birokrasi.
“Pejabat Eselon II adalah motor penggerak utama birokrasi. Mereka merupakan ujung tombak dalam mewujudkan visi pimpinan menjadi kebijakan teknis yang berdampak langsung bagi masyarakat,” terangnya, saat memberikan sambutan di penutupan kegiatan Retreat Pejabat Eselon II di Korem 162/Wira Bhakti, Minggu (30/11).
Penting sinergi antara TNI dan pemerintah daerah (pemda) dalam menghadapi tantangan pembangunan, khususnya terkait ketahanan pangan, merupakan elemen penting ketahanan nasional.
Karena tantangan ke depan, terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan, sangat dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki mental tangguh, disiplin tinggi, loyalitas tanpa kompromi, serta semangat kebersamaan yang kuat.
Retret ini menghadirkan materi kepemimpinan, manajemen krisis, dan kerja sama tim. Pihaknya berharap, mentalitas birokrasi yang dibentuk di sini dapat diaplikasikan dalam tugas sehari-hari, sehingga birokrasi menjadi responsif, pantang menyerah, dan mampu berkolaborasi lintas sektoral.
“Kami ingin melihat birokrasi yang responsif, tidak mudah menyerah menghadapi kendala di lapangan, serta mampu berkolaborasi lintas sektoral,” terang Danrem.
Dirinya mengingatkan ketahanan pangan adalah elemen penting dari ketahanan nasional. Tanpa ketahanan pangan yang kuat, stabilitas wilayah akan rentan terganggu. Maka dari itu, sinergi antara TNI Angkatan Darat dan Pemprov NTB melalui peran strategis para pejabat Eselon II, itu semua adalah kunci keberhasilan bersama.
“Melalui tangan dingin saudara-saudara sekalian adalah kunci keberhasilan kita bersama,” tegas Brigjen Arief.
Selain pembekalan materi, kegiatan retret juga memberikan pengalaman praktis, termasuk menghadapi tantangan tidur di tenda dan aktivitas fisik lainnya, untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan empati.
“Jadilah pemimpin yang menjadi teladan, pemimpin berintegritas, dan pemimpin yang melayani rakyat dengan hati,” pesannya.
Baca Juga: Wagub NTB Paparkan Postur APBD 2026, Prioritaskan Ekonomi, Pariwisata, Hingga Ketahanan Pangan
Menurut Brigjen Arief, retret ini juga menjadi momen langka bagi pejabat Eselon II untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, dan inovasi dalam bekerja.
“Dalam situasi seperti ini, komunikasi dan koordinasi menjadi kunci utama agar setiap tugas di lapangan bisa terlaksana secara maksimal,” jelasnya.
Tanpa itu, kemungkinan hasilnya tidak akan mencapai tujuan. Karena itu, ia akan terus menyampaikan pentingnya kegiatan seperti retreat ini, agar sesama pejabat Eselon II bisa saling bertukar pikiran, memberikan ide-ide segar, dan memperkuat hubungan kerja.
“Selain itu, aktivitas selama retreat memberikan kita pelajaran berharga dalam kekompakan, pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk berinovasi,” terang Brigjen Arief.
Meski retreat hanya berlangsung tiga hari, manfaatnya sangat mendalam jika diterapkan dengan serius. Ini bukan sekadar soal pakaian yang dipakai atau tempat tidur sementara, melainkan bekal yang diperoleh, bisa diterapkan dalam menjalankan tugas.
“Kami berharap seluruh pengalaman selama kegiatan ini bisa ditransfer hingga ke skala yang lebih luas di tingkat bawah,” pungkasnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan retreat bukan bentuk militerisasi birokrasi, melainkan ruang jeda untuk memulihkan energi usai proses pembahasan APBD 2026 yang cukup menguras emosi.
“Teman-teman pasti mengalami stres selama berhari-hari dalam persiapan APBD ini. Maka kegiatan ini adalah take a break, keluar dari rutinitas sehari-hari, ini khusus untuk latihan dan membangun kebersamaan,” ujarnya.
Ia menilai retreat menjadi momen penting untuk mempererat ikatan emosional antarpimpinan perangkat daerah guna memperkuat koordinasi, yang disebutnya sebagai tantangan terbesar birokrasi.
“Barang paling mahal dan paling sulit itu adalah koordinasi. Dengan bekerja dan hidup bersama selama dua hari ke depan, saya berharap ini bisa merekatkan tali emosional dan menguatkan kerja tim,” beber pria asal Lombok Tengah tersebut.
Gubernur juga mengingatkan pentingnya kesiapan mental ASN, dalam menghadapi dinamika perubahan kebijakan nasional di bawah pemerintahan Prabowo – Gibran.
Ia berharap retreat ini menjadikan pejabat Eselon II lebih solid, tangguh, dan siap menjadi motor perubahan di Pemprov NTB. “Tidak usah bermimpi melakukan perubahan tanpa cobaan dan gangguan. Maka kita harus tegar dan kuat menjalani perubahan ini,” tandasnya.
Baca Juga: Setop Anggap Remeh, Lombok Tengah Berkomitmen Selamatkan Mental ASN
Wakil Gubernur (Wagub) NTB Indah Dhamayanti Putri mengungkapkan di kepemimpinan Iqbal-Dinda dan kepala daerah lainnya di Indonesia, saat ini dihadapkan pada tantangan dalam efisiensi anggaran.
Di tahun 2026, diperkirakan akan terjadi pemotongan dana transfer yang cukup signifikan. Kendati demikian, Pemprov NTB bersyukur, terutama dengan adanya target dan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terukur, khususnya di tahun 2025.
“Kita memiliki target dan capaian PAD yang terukur terutama di tahun 2025 ini,” jelasnya.
Di tengah situasi yang hadapi, setiap kepala OPD tetap bergerak menjalankan berbagai program dan kebijakan. Tidak hanya terbatas pada pelaksanaan program prioritas, tetapi juga mencakup kebutuhan mendesak akan inovasi dan kolaborasi.
Inovasi tersebut tentunya dapat tercipta melalui komunikasi yang baik antara seluruh elemen pemerintah. “Termasuk kepala bidang, jajaran humas, hingga staf,” ujarnya.
Tak ketinggalan, Wagub juga mengingatkan semua pejabat Eselon II, agar perlu mengatensi serius terkait OPD yang sebelumnya menerima catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), upaya maksimal harus dilakukan untuk mencegah hal serupa terulang, baik di tahun ini maupun mendatang.
“Sebisa mungkin hal tersebut tidak terulang kembali pada tahun ini dan tahun selanjutnya,” pungkas Wagub.
Sebagai informasi, selama tiga hari pelaksanaan retreat, pejabat Eselon II menerima materi terkait kebijakan program daerah, dinamika kelompok, kondusivitas dalam rangka mendukung program pembangunan daerah.
Berikutnya manajemen risiko, pendampingan dan pengawasan pembangunan daerah, ideologi Pancasila, serta pengarusutamaan gender untuk ketahanan ekonomi keluarga.
Editor : Akbar Sirinawa