LombokPost - Pemprov NTB mengambil langkah strategis dengan menunda rencana pembangunan tol Port to Port Lembar, Lombok Barat menuju Kayangan, Lombok Timur, dan mengalihkan fokus ke pembangunan jalur Bypass yang dinilai lebih realistis dan mendesak.
“Setelah pertimbangan matang, proyek tol ini dirasa sulit untuk diwujudkan dalam masa pemerintahan Prabowo-Gibran maupun Iqbal-Dinda. Maka dari itu, diputuskan mencari alternatif, dan hasilnya jalan Bypass,” kata Kepala Dinas PUPR NTB Sadimin.
Rencana tol Port to Port Lembar — Kayangan sebenarnya sudah terindikasi dalam Rencana Induk Jaringan Jalan Nasional (RENJUM) periode 2024-2029 atau jalur E01.
Namun, setelah pihaknya melaksanakan Studi Kelaikan Awal (pra-FS) pada tahun 2024 lalu, hasilnya mengejutkan. Pembangunnya itu bisa menelan anggaran dengan jumlah yang sangat fantastis, yaitu mencapai Rp 22 triliun.
“Ternyata setelah kita bikin pra FS-nya, anggarannya sebesar itu,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, pemprov tidak ingin memaksakan diri. Karena membutuhkan anggaran yang sangat besar, pihaknya mengidentifikasi ada dua kendala utama yang membuat proyek tol tersebut sulit dilaksanakan dalam waktu dekat.
Dari aspek pembiayaan. Dalam rencana awal, proyek ini dilaksanakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pemprov dalam hal ini berpikir realistis bahwa tidak mudah mencari investor.
“Sulit kita mencari investor yang mau mendanai proyek sebesar itu dalam kondisi saat ini. Kami harus realistis,” ujar mantan kepala Dinas Perkim NTB tersebut.
Kedua, perihal kelaikan lalu lintas. Meskipun proyek tol ditujukan untuk memperlancar konektivitas orang dan barang, serta mengurai kemacetan di jalan eksisting dari Mataram ke Kayangan yang sudah semakin parah, namun pembangunannya pasti memakan waktu yang tidak sebenar. Sementara kondisi sekarang, harus ada solusi lebih cepat dan ramah bagi masyarakat.
Untuk mengatasi kemacetan dan kebutuhan konektivitas segera, Pemprov NTB memutuskan membangun jalur Bypass. Jalur ini akan menyambung jalan-jalan yang sudah ada.
“Jalur yang ada sekarang sudah bagus, dari Lembar sampai Mandalika dan dari Pringgabaya sampai Kayangan. Fokus kami sekarang adalah membuat jalur baru yang menyambungkan Sengkol sampai Pringgabaya," terang Sadimin.
Jalur Bypass yang baru ini diperkirakan memiliki panjang antara 50 hingga 55 kilometer (km), dan estimasi anggaran jauh lebih rendah, yakni sekitar Rp 2,7 triliun.
Sebagai tindak lanjut, anggaran sebesar Rp 5 miliar yang semula dialokasikan untuk Studi Kelayakan tol Port to Port Lembar — Kayangan, telah dialihkan sepenuhnya untuk Studi Kelaikan jalan Bypass.
“Studi kelaikan untuk jalur bypass ini sedang berjalan dan kami targetkan selesai tahun ini," kata Sadimin.
Menurutnya, fungsi utama dari bypass ini adalah sebagai solusi jangka pendek dan menengah untuk mengurai kemacetan jalur eksisting, sambil menunggu proyek tol Port to Port Lembar — Kayangan siap untuk dilaksanakan di masa depan.
Selain itu, bypass ini diharapkan dapat membuka potensi ekonomi daerah yang luar biasa di wilayah sekitarnya, seperti Keruak, Jerowaru dan Tanjung Ringgit, Lombok Timur.
“Ini juga berfungsi untuk membuka potensi luar biasa di daerah, apalagi di jalur itu ada pelabuhan perikanan tangkap yang cukup banyak, bisa dimanfaatkan masyarakat,” tandasnya.
Editor : Marthadi