LombokPost - Pada tahun 2026, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB telah menghitung potensi pengeluaran dan pemasukan hewan ternak dari Bumi Gora, untuk kebutuhan luar daerah.
Kepala Bidang Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (P3HP) Disnakeswan NTB Muhammad Yasin dari hasil pertemuan sinkronisasi kebutuhan (supply-demand) antara provinsi, kabupaten/kota, pelaku usaha, dan organisasi peternak, data sementara menunjukkan total hewan ternak berpotensi dijual ke luar daerah mencapai 54.667 ekor.
“Meningkat dari 49 ribu ekor di tahun 2025, ini respons terhadap permintaan pasar dan faktor ekonomi.” tegasnya, Selasa (9/12).
Disebut sementara lantaran data alokasi bukan kuota final, sebab bisa berubah setelah melalui kajian Biro Hukum Setda NTB yang diterbitkan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB tentang Kuota Pengeluaran dan Pemasukan Ternak tahun 2026.
Kuota pengeluaran Sapi pedaging ke luar daerah, dirincikan sebanyak 1.000 ekor dari Pulau Lombok, kemudian Sumbawa Barat 200 ekor, Sumbawa 17 ribu ekor, Dompu 13.500 ekor, Bima 17.500 ribu ekor, dan Kota Bima 3.317 ekor.
Sedangkan untuk Kerbau pedaging, seluruh Pulau Lombok sebanyak 400 ekor, Sumbawa Barat 200 ekor, Sumbawa 1.400 ekor, Dompu 300 ekor, Bima 200 ekor dan Kota Bima 50 ekor. Sehingga totalnya 54.667 ekor.
“Dari total puluhan ribu ekor Sapi dan Kerbau yang akan dikirim ke luar NTB, mayoritas suplai berasal dari Pulau Sumbawa,” tegasnya.
Sementara itu, terkait pengeluaran bibit ternak, Pemprov NTB mengambil kebijakan pembatasan yang ketat. Total bibit dari seluruh NTB untuk Sapi jantan yang diizinkan keluar hanya 386 ekor, dan bibit Sapi betina sebanyak 3.251 ekor.
“Kalau yang bibit Sapi ini kita batasi, sedangkan untuk bibit Kerbau, tidak ada izin pengeluaran sama sekali,” ujar Yasin.
Adapun permintaan tertinggi untuk ternak, terutama Sapi NTB masih datang dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). “Memang permintaan dari Jabodetabek yang paling banyak,” kata Yasin.
Data menunjukkan Jawa Barat menjadi penerima terbesar dengan potensi permintaan mencapai 22.000 ekor sapi. Wilayah lain yang juga menjadi tujuan pengiriman adalah Banten, dan Pulau Sulawesi.
Ditanya mengenai jadwal pengiriman hewan ternak, Yasin mengatakan pergerakan bisa dimulai di awal tahun 2026, sehingga harapannya SK Gubernur NTB tentang Kuota Pengeluaran dan Pemasukan Ternak tahun 2026 sudah rampung di akhir tahun ini.
Hal ini untuk memenuhi kebutuhan menjelang Idulfitri yang memang menjadi puncak penyediaan pasokan daging di berbagai wilayah tujuan.
“Pengiriman ternak ini sangat penting di awal tahun, karena untuk mengejar kebutuhan Hari Idulfitri, yang momentumnya juga di awal 2026,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam