LombokPost - Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahmadi, kembali melakukan inspeksi lapangan terhadap pembangunan jalan dan infrastruktur yang dikerjakan PT ESL di kawasan Tanjung Ringgit, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Kamis (8/1).
Kunjungan ini merupakan inspeksi lanjutan setelah peninjauan pertama yang dilakukan pada awal Agustus 2025 lalu. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari pengembangan resor 100 eco-villa yang digadang-gadang menjadi proyek ekowisata terbesar di NTB.
Sejak peletakan batu pertama pada November 2023, setelah ESL secara resmi memperoleh status clean and clear atas area izin IUPJL, perusahaan terus melakukan berbagai aktivitas pembangunan dengan pendekatan keberlanjutan.
Direktur Utama PT ESL Jhon Higson menjelaskan, saat ini kawasan izin ESL merupakan satu-satunya kawasan hutan lindung utama yang masih tersisa di pesisir selatan Pulau Lombok. Oleh karena itu, seluruh kegiatan pembangunan dirancang dengan prinsip konservasi yang ketat.
“Kami berkomitmen memulihkan kawasan ini. Hingga saat ini lebih dari 70 ribu pohon telah kami tanam untuk mengubah kawasan bekas lahan jagung terdegradasi menjadi hutan primer,” ujarnya.
Selain rehabilitasi lingkungan, ESL juga telah membangun kamp konstruksi yang dilengkapi bengkel kerja, akomodasi bagi pekerja dan konsultan, persemaian, serta area pengomposan. Aktivitas tersebut setiap harinya menyerap sekitar 44 hingga 54 tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari masyarakat lokal Desa Sekaroh. Jumlah ini akan terus bertambah seiring kebutuhan tenaga kerja kedepannya.
Dalam tahap awal pengembangan, ESL telah memulai pembangunan infrastruktur jalan, jalur pejalan kaki, drainase, serta sistem perpipaan air. Total panjang infrastruktur tersebut mencapai lebih dari 3 kilometer. Seluruh pekerjaan dilaksanakan tanpa penggunaan beton maupun aspal pada permukaan jalan.
Sebagai gantinya, digunakan material batu kapur lokal yang lebih ramah lingkungan. Menghadapi kondisi topografi yang cukup curam, jalan-jalan tersebut dirancang secara teknis dengan sistem stabilisasi khusus.
PT ESL menggunakan teknologi geogrid, sebuah metode ramah lingkungan untuk memperkuat struktur jalan sekaligus meminimalkan risiko longsor dan erosi. Sistem drainase juga dibangun dalam jumlah besar guna memastikan aliran air hujan tidak menyebabkan pencemaran ke kawasan pantai dan terumbu karang di Tanjung Ringgit.
Sementara Kepala Dinas LHK NTB Ahmadi xalam kunjungannya menyampaikan apresiasi atas kemajuan pembangunan yang dinilai sejalan dengan prinsip perlindungan lingkungan. Ia juga melakukan diskusi teknis dengan tim konstruksi PT ESL dan PT Bruder terkait metode pembangunan jalan, pencegahan erosi, serta peningkatan infiltrasi air ke dalam tanah.
Pembangunan eco-villa akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi 45 unit eco-villa, sedangkan tahap kedua sebanyak 55 unit akan dimulai satu tahun kemudian. Infrastruktur tahap pertama ditargetkan rampung sebelum Idul Fitri.
Setelah itu, tim arsitek, arsitek lanskap, dan ahli keberlanjutan akan tinggal di lokasi selama beberapa bulan untuk melakukan perencanaan detail sebelum pembangunan villa dimulai. Seluruh eco-villa ditargetkan selesai dalam waktu 18 bulan dengan desain unik dan menggunakan material bangunan berkelanjutan.
Selain meninjau pembangunan resor, Kepala Dinas LHK juga membahas rencana renovasi Pantai Pink, khususnya di sisi barat kawasan tersebut. Kerusakan warna pasir pantai yang ikonik diketahui terjadi akibat erosi dari aktivitas pertanian jagung ilegal dan parkir kendaraan di area pantai pada masa lalu.
Melalui kerja sama antara LHK, KPH, PT ESL, dan akademisi Universitas Mataram I Gde Mertha, akan dilakukan penanaman kembali rumput pantai untuk menghentikan erosi. Setelah kondisi stabil, pecahan karang merah yang telah terkumpul akan dihancurkan dan disebarkan kembali guna mengembalikan warna alami pasir Pantai Pink.
Program ini sepenuhnya didukung melalui dana CSR PT ESL. Di area belakang pantai, juga direncanakan pembangunan taman yang ditanami pohon dan tanaman endemik Sekaroh. Taman tersebut akan menjadi ruang terbuka hijau sekaligus destinasi ekowisata yang dapat diakses masyarakat umum. Proyek ini diharapkan menjadi contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan di NTB.
Editor : Jelo Sangaji