Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Isu Viral, Ini Aksi Cepat RS Mutiara Sukma Selamatkan Penglihatan Pasien

Yuyun Kutari • Senin, 12 Januari 2026 | 20:41 WIB
Direktur RS Mutiara Sukma dr Wiwin Nurhasida.
Direktur RS Mutiara Sukma dr Wiwin Nurhasida.

LombokPost - Manajemen Rumah Sakit (RS) Mutiara Sukma akhirnya angkat bicara terkait kabar viral mengenai seorang pasien perempuan asal Lombok Timur yang mengalami kondisi tragis pada bagian matanya saat menjalani perawatan jiwa.

Menanggapi isu yang menyebutkan pasien mengalami kerusakan mata permanen hingga kebutaan, Direktur RS Mutiara Sukma dr Wiwin Nurhasida menyampaikan klarifikasi dan kronologi penanganan pasien tersebut.

“Kami di RS Mutiara Sukma menganggap perlu untuk menjelaskannya,” kata dia, Senin (12/1).

Pasien pertama kali masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Mutiara Sukma pada 2 Januari 2026 malam.

Saat tiba, pasien dalam kondisi gaduh gelisah atau gejala psikis akut, sehingga langsung ditempatkan di Unit Pelayanan Intensif Psikiatri (UPIP) untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Pas datang ke sini itu memang keluhannya tentu saja dengan gangguan jiwanya, dan waktu datang itu kondisi mata baik, Alhamdulillah baik,” ujarnya.

Namun, setelah satu hari menjalani perawatan, tepatnya pada 3 Januari 2026 siang, petugas menemukan adanya gangguan medis pada mata pasien. Temuan tersebut segera dikonsultasikan ke dokter jaga dan dokter spesialis.

Berdasarkan instruksi spesialis, pasien harus segera dirujuk karena membutuhkan penanganan mata yang lebih spesifik. Pada 3 Januari malam, pasien resmi dirujuk ke RS Mata NTB, dengan pendampingan pihak keluarga.

“Setelah temuan itu, kami langsung komunikasikan dengan pihak keluarga, dan memang dirujuknya bahkan bersama keluarga ke RS Mata,” ujarnya.

Wiwin menegaskan saat gangguan mata ditemukan, langkah prioritas adalah menyelamatkan fungsi penglihatan pasien, dengan merujuknya segera ke fasilitas kesehatan yang lebih kompeten, mengingat kompleksitas perawatan pasien gangguan jiwa yang mengalami komplikasi fisik.

“Memang penanganan pasien dengan gangguan jiwa itu mempunyai kompleksitas yang khusus, kemudian juga punya tantangan tersendiri atau mekanisme tersendiri,” jelas dr Wiwin.

Merespons kabar yang beredar di media sosial mengenai penyebab kerusakan mata pasien, dr. Wiwin menegaskan pihaknya telah membentuk tim investigasi internal.

Tim ini melibatkan Komite Mutu, Komite Etik, dan Komite Profesi untuk mengumpulkan data sedetail mungkin.

Pihak rumah sakit menyebutnya sebagai Insiden Keselamatan Pasien (IKP), dan saat ini investigasi masih berlangsung, sistem kontrol dan monitoring terhadap pasien dilakukan sesuai prosedur.

“Saat ini, kami masih menunggu hasil dari investigasi tersebut,” ujarnya.

Perlu diketahui semua prosedur sudah memiliki SOP dan mekanisme yang jelas, terutama di dalam hal layanan kesehatan jiwa, di mana penanganannya memiliki pendekatan yang spesifik dan berbeda.

Dalam penelusuran ini, RS Mutiara Sukma juga memanfaatkan CCTV, fungsinya bukan saja untuk mendukung interaksi langsung dengan pasien, tetapi juga membantu proses pemantauan kegiatan di sekitar pasien.

Terkait narasi viral yang menyebutkan mata pasien pecah atau meledak akibat bisikan halus, dr Wiwin enggan berkomentar lebih jauh mengenai detail medis tersebut demi menjaga kerahasiaan pasien dan kode etik kedokteran.

Menurutnya, diagnosa teknis mengenai kerusakan mata adalah wewenang penuh tim medis di RS Mata NTB.

Pihak RS Mutiara Sukma menyatakan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian ini.

Sebagai bentuk tanggung jawab, manajemen terus menjalin komunikasi intensif dengan keluarga pasien dan rutin mengirimkan tim untuk memantau perkembangan pasien di RS Mata NTB. 

“Kami tetap berkomunikasi dengan RS Mata, ini sebagai bentuk komitmen kami untuk fokus pada perawatan dan penyembuhan pasien. Bagaimana pun, pasien ini kan latar belakangnya adalah masalah penyembuhan jiwa,” tandasnya.

Terpisah, Direktur RS Mata NTB dr Cahya Dessy Rahmawati, memberikan klarifikasi resmi terkait kondisi pasien rujukan dari RS Mutiara Sukma yang belakangan ini memicu isu miring di tengah masyarakat. 

Ia menegaskan bahwa kabar yang beredar mengenai mata pasien pecah atau meledak adalah tidak benar.

Pastinya, kondisi medis yang dialami pasien murni merupakan infeksi mata, bukan hal lainnya.

"Itu infeksi, dan sudah kami tangani, sekarang kondisi pasien sudah membaik,” tegasnya.

 

Editor : Kimda Farida
#GANGGUAN JIWA #kerusakan mata #Dokter Spesialis #RS Mutiara Sukma #investigasi #instalasi gawat darurat #pasien #Lombok Timur