LombokPost - Saat musim penghujan tiba, risiko munculnya berbagai penyakit menular harus diwaspadai.
Kondisi lingkungan yang lembap, genangan air, serta perubahan suhu jadi faktor utama yang mendukung berkembangnya vektor penyakit sekaligus menurunkan daya tahan tubuh.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah NTB Rohadi mengatakan sejumlah penyakit kerap mengalami peningkatan kasus saat musim hujan.
Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, pneumonia, hingga gangguan pencernaan seperti diare.
“Sebagian besar penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang sederhana,” jelasnya, Selasa (13/1).
Menurutnya, edukasi kesehatan memegang peranan penting dalam upaya pencegahan penyakit.
Namun upaya ini, tidak cukup dilakukan secara sesaat, tetapi harus menjadi proses berkelanjutan yang mampu mengubah perilaku masyarakat.
Kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, melainkan juga tanggung jawab bersama, baik secara individu maupun kolektif. Ia mencontohkan Gerakan 3M Plus; menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas.
“Ini sebagai salah satu bentuk edukasi kesehatan yang terbukti efektif apabila dilakukan secara konsisten,” terang dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram tersebut.
Meski demikian, diakuinya tantangan terbesar adalah menjaga agar kesadaran tersebut tetap terpelihara, bahkan di luar masa wabah.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, tenaga kesehatan dan tenaga medis, khususnya dokter, diharapkan mampu berperan sebagai agen perubahan.
“Dokter tidak hanya bertugas mengobati, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah penyakit melalui edukasi dan keteladanan,” jelasnya.
IDI NTB bersama berbagai stakeholder kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, lanjut Rohadi telah melaksanakan beragam kegiatan promotif dan preventif. Mulai dari penyuluhan kesehatan, bakti sosial, hingga kampanye melalui media massa dan media sosial.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan edukasi kesehatan.
“Pemerintah daerah, dinas kesehatan, lembaga pendidikan, media, serta tokoh masyarakat dinilai perlu bersinergi menyampaikan pesan kesehatan yang konsisten dan mudah dipahami,” terangnya.
Paling penting, akurasi informasi harus tetap dijaga agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
“Tenaga medis dan organisasi profesi harus menjadi rujukan utama informasi kesehatan yang valid dan berbasis ilmiah,” tegasnya.
Harapannya, musim hujan tidak lagi selalu dipersepsikan sebagai musim penyakit. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana.
“Bisa dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan, memperhatikan asupan gizi, dan segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala penyakit,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala BMKG Prof Teuku Faisal Fathani mengingatkan perlu diwaspadai terhadap peningkatan potensi hujan sedang, lebat hingga sangat lebat.
“Terutama di sebagian besar wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” jelasnya dalam rilis.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor di daerah rawan. Sehingga perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi dan antisipasi, untuk meminimalkan potensi dampak bencana.
Editor : Kimda Farida