LombokPost - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menggelar simulasi penyelamatan, dengan memanfaatkan drone logistik berteknologi sensor thermal, baru-baru ini.
“Simulasi ini menjadi bagian dari upaya penguatan sistem respons darurat, di kawasan pegunungan yang memiliki karakter medan terjal dan berisiko tinggi,” terang Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan, Jumat (27/2).
Dalam simulasi tersebut, drone tidak hanya difungsikan untuk mendeteksi keberadaan korban melalui sensor panas tubuh, tetapi juga dioptimalkan sebagai sarana pengangkut logistik darurat.
“Drone yang digunakan dilengkapi sensor thermal untuk mendeteksi panas tubuh survivor. Selain itu, drone juga membawa perlengkapan penting seperti alat komunikasi, air minum, dan obat-obatan,” bebernya.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini memungkinkan tim penyelamat menjangkau korban yang berada di lokasi sulit diakses oleh tim darat.
Dalam situasi darurat di medan terjal, pergerakan personel penyelamat kerap membutuhkan waktu, perhitungan matang, serta pertimbangan aspek keselamatan.
Dengan mobilitas yang cepat dan navigasi presisi, drone mampu tiba lebih awal di titik lokasi survivor tanpa menambah risiko bagi tim darat.
Bantuan awal yang dikirimkan melalui udara diharapkan dapat memberikan dukungan psikologis kepada korban, memastikan kebutuhan dasar seperti hidrasi terpenuhi, serta memungkinkan pemberian pertolongan medis dasar sebelum evakuasi lanjutan dilakukan.
“Ini menjadi langkah awal penanganan darurat. Korban bisa lebih cepat mendapatkan dukungan, baik secara fisik maupun psikologis, sambil menunggu proses evakuasi,” ujarnya.
Budhy menegaskan, integrasi teknologi udara dalam operasi penyelamatan bukan sekadar inovasi, melainkan strategi penting dalam meningkatkan efektivitas respons.
Menurutnya, pendekatan ini menghadirkan sistem penyelamatan yang lebih cepat, tepat, dan berorientasi pada keselamatan korban maupun personel.
“Simulasi ini menegaskan pemanfaatan drone dalam operasi penyelamatan adalah bagian dari strategi respons cepat yang efektif dan mengutamakan keselamatan,” tandas Budhy.
Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan Pemprov NTB siap bekerja sama dan mendukung penuh program kegiatan Balai TNGR.
"Akhirnya, apapun yang terjadi dalam prngelolaan Gunung Rinjani, kami (pemprov) orang pertama yang menghadapi situasi itu sehingga kami merasa TNGR tidak akan mampu menghadapi sendiri semua masalah,” jelas Gubernur Iqbal.
Menurutnya, pola pola kerjasama pengelolaan bersama TNGR harus dicarikan best practice terbaiknya sesuai dengan karakteristik lokal.
Gubernur mencontohkan saat terjadi kecelakaan pendaki beberapa waktu lalu, inisiatif vertical rescue yang digagas mandiri Pemprov NTB bersama beberapa stakeholder, dalam hal keamanan pendakian dan penyelamatan bisa menjadi contoh.
Sehingga pentingnya kerjasama yang baik antara TNGR, Pemprov NTB, dan kabupaten serta masyarakat dalam pengelolaan agar tidak berjalan sendiri sendiri.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin