LombokPost - Sebanyak 27 putra-putri terbaik NTB resmi dilepas oleh Yayasan Gemilang Center, untuk melanjutkan pendidikan strata satu (S1) di Al Bukhari International University, Malaysia, berlangsung di gedung Sangkareang, kompleks Kantor Gubernur NTB, Senin malam (2/3).
Pelepasan para awardee tersebut menjadi momentum penting yang menandai langkah besar generasi muda NTB menembus pendidikan bertaraf internasional.
Pembina Yayasan Gemilang Center Zulkieflimansyah dalam sambutannya menyampaikan pesan motivasi yang penuh semangat kepada para mahasiswa penerima beasiswa.
Ia menegaskan setiap perjalanan besar selalu diawali dengan keberanian mengambil langkah pertama. “Saya selalu mengatakan perjalanan panjang selalu harus dimulai dengan keberanian mengayunkan langkah pertama. The journey of a thousand miles should be started by a single step,” terangnya.
Para awardee telah memiliki keberanian untuk meninggalkan zona nyaman dan hal-hal yang selama ini terasa biasa, demi melangkahkan kaki bertualang melihat dunia Allah SWT yang lain, yang diyakininya akan menghadirkan banyak keajaiban dalam kehidupan mereka.
Menurut mantan Gubernur NTB ini, keberanian tersebut bukan sekadar langkah biasa, melainkan pintu pembuka berbagai peluang dan keajaiban di masa depan. Ia pun mendorong para awardee, agar memaksimalkan kesempatan belajar di kampus tujuan.
“Pengalaman saya, satu kali keberanian mengayunkan langkah pertama ini akan mengundang lebih banyak keajaiban-keajaiban yang lain. Jadi dimaksimalkan belajar di Bukhari International University ini dengan sangat baik,” pesannya.
Pria yang akrab disapa Bang Zul ini juga menekankan posisi strategis kampus tersebut yang berada di Malaysia, dan dekat dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Thailand dan Singapura.
Hal itu, menurutnya, membuka peluang luas bagi para awardee untuk tumbuh menjadi warga dunia. “Bukhari International University ini dekat dengan Thailand, dekat dengan Singapore, jadi you will be a global citizen,” katanya.
Ia mengungkapkan mahasiswa NTB di kampus tersebut telah lebih dulu menorehkan reputasi yang membanggakan. Karenanya, dengan dukungan orang tua dan semangat kolektif, ia optimistis generasi muda NTB mampu menorehkan sejarah baru bagi daerah.
“Anak-anak NTB di sana sudah banyak dan namanya harum, dan dengan doa orang tua, kita akan mampu menulis ulang sejarah daerah kita dengan tinta emas, dengan prestasi dan karya besar yang dihadiahkan anak-anak muda NTB,” tuturnya.
Keberhasilan 27 mahasiswa ini, lanjutnya, bukanlah hal yang mudah. Dari 5 ribu pendaftar yang mengikuti seleksi, hanya 27 posisi yang berhasil diraih, dengan doa dan perjuangan.
Ia juga berpesan ketika menghadapi kesulitan, mereka sebaiknya menuliskan besar-besar di kamar kalimat where there is a will there is a way sebagai mantra penyemangat, seraya menegaskan bahwa jika memiliki keinginan kuat, pasti akan selalu ada jalan.
Menurutnya, tidak semua orang mendapat kesempatan berharga untuk menempuh pendidikan di kampus internasional dengan lingkungan yang indah dan kondusif seperti Al Bukhari International University.
Karena itu, ia meminta para awardee menjadikan kesempatan ini sebagai pijakan awal menuju capaian yang lebih tinggi. “Saya membayangkan di antara 27 awardee yang kita lepas dan akan berangkat, minimal 20 akan melanjutkan masternya, seperti ke Eropa,” katanya optimistis.
Pelepasan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda harapan baru bagi NTB, bahwa dari daerah, generasi muda mampu menembus dunia dan menghadirkan prestasi yang membanggakan di kancah internasional.
Senator NTB sekaligus Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Evi Apita Maya, turut memberikan pesan penuh makna kepada para awardee NTB yang akan melanjutkan studi ke luar negeri.
Ia mengingatkan para awardee agar tidak melupakan asal-usul dan jati diri mereka, setelah menempuh pendidikan di negeri orang. “Jangan menjadi itu kacang lupa akan kulitnya. Saya harap, yang sekolah nanti ke luar negeri, ke negeri jiran Malaysia tetap cinta terhadap tanah air, tetap punya tekad bahwa ilmu yang didapat nanti tentunya untuk diabdikan, untuk diberikan kepada daerah kita, NTB ini, daerah yang sangat kita cintai,” tegasnya.
Ia menekankan, kesempatan belajar di luar negeri merupakan amanah besar yang harus dijalani dengan tanggung jawab, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga demi kemajuan daerah dan bangsa.
Di akhir pesannya, Evi Apita Maya menyampaikan ucapan selamat sekaligus dorongan semangat kepada para mahasiswa. “Sekali lagi, selamat buat anak-anakku, teruslah belajar, teruslah semangat, tetaplah membawa nama daerah dan nama bangsa kita secara baik dan sangat membanggakan di negeri orang. Terima kasih untuk dedikasi kalian,” ujarnya.
Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian, Pembangunan, Sosial dan Kemasyarakatan Setda NTB Yusron Hadi, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Yayasan Gemilang Center dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda NTB.
Yayasan Gemilang Center dinilai konsisten mengupayakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya bagi putra-putri NTB, baik di dalam maupun luar negeri. “Tentu saja atas nama Pemprov NTB, saya menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada Yayasan Gemilang Center.
Adapum pengiriman mahasiswa ke Al Bukhari International University merupakan kali kedua yang dilakukan sejak 2025. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) NTB.
“Mudah-mudahan akan berjalan lancar dan sukses, dan nanti selesai dari studi ini akan bisa kembali ke tanah air dengan bekal ilmu yang diperoleh untuk membangun NTB yang kita cintai,” katanya.
Koordinator Beasiswa Yayasan Gemilang Center Sri Hastuti menjelaskan secara rinci skema pembiayaan dan mekanisme seleksi bagi 27 awardee NTB yang akan melanjutkan studi di Al Bukhari International University.
Tuti memastikan beasiswa yang diterima para awardee tersebut bersifat penuh. “Beasiswa pendidikannya sepenuhnya full dari kampus, mulai dari biaya hidup, biaya SPP, biaya akomodasi, semua ditanggung oleh Al Bukhari. Gemilang Center itu hanya pembiayaan tiket visa,” jelasnya.
Terkait kuota, ia mengungkapkan awalnya pihak kampus memberikan alokasi sekitar 20 kursi. Namun, Yayasan Gemilang Center mengajukan 30 nama hasil seleksi internal. Dari sekitar 5.000 pendaftar yang mengikuti proses seleksi, akhirnya terpilih 27 awardee.
Ia juga menyebutkan mayoritas penerima beasiswa mengambil jurusan yang berkaitan dengan bisnis, sejalan dengan karakter kampus tujuan.
Tuti turut mengungkapkan, salah satu keunggulan kampus tersebut adalah adanya program persiapan bahasa, selama satu tahun sebelum perkuliahan dimulai. Karena itu, dalam proses seleksi, pihaknya tidak mensyaratkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris seperti TOEFL maupun IELTS.
“Meskipun kampus internasional, mereka memberikan kesempatan satu tahun untuk bahasa. Makanya ketika kami seleksi, kami tidak mensyaratkan TOEFL, kami tidak mensyaratkan IELTS,” jelasnya.
Kriteria utama penerima beasiswa adalah berasal dari keluarga kurang mampu, karena program ini dipandang sebagai bentuk wakaf pendidikan.
“Syarat yang kami cari adalah yang pertama, mereka berasal dari tidak mampu. Itu syaratnya, karena beasiswa ini dianggap wakaf. Jadi syaratnya adalah anak-anak yang tidak mampu, yang kemudian bahasanya yang penting bisa komunikasi sederhana,” bebernya.
Selama satu tahun pertama, para mahasiswa akan mengikuti program penguatan dasar bahasa Inggris. “Setahun ini mereka English Basic. Terus setahun itu mereka dipoles bahasanya, Oktober tahun ini baru mereka akan mulai kuliah,” katanya.
Ia menjelaskan, total masa studi menjadi empat tahun karena sistem pendidikan di Malaysia untuk jenjang S1 berlangsung selama tiga tahun. “Malaysia S1-nya tiga tahun. Jadi satu tahun bahasa, tiga tahun S1. Jadi pas empat tahun mereka selesai,” terang Tuti.
Terkait kewajiban kembali ke NTB setelah lulus, Sri menegaskan tidak ada kontrak yang mengikat mahasiswa untuk harus pulang. “Bila ada peluang yang lebih baik untuk lanjut, kan banyak mereka ini S1, kalau ada peluang beasiswa S2 ya silakan. Jadi kita tidak membatasi,” katanya.
Ia menambahkan sejauh ini Yayasan Gemilang Center tidak menyertakan klausul tersebut di dalam kontrak. Sementara itu, berkaitan dengan kebutuhan hidup, mahasiswa akan menerima uang saku standar Malaysia sekitar 150 hingga 200 ringgit per bulan. Namun, kebutuhan utama seperti tempat tinggal telah difasilitasi oleh kampus.
“Mereka standar Malaysia itu sekitar 150–200 ringgit per bulan. Tapi itu sudah akomodasi gratis. Jadi mereka langsung kayak model pondok kalau kita bilang. Kantinnya juga sudah subsidi. Jadi memang biaya hidupnya ini biaya untuk makan saja,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa