Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Arman Puasa di Negeri Sakura di Tengah Ketinggian Gedung, Dingin, dan Rindu Kampung Halaman

Hamdani Wathoni • Minggu, 15 Maret 2026 | 07:42 WIB

 

KERJA KERAS: Suparman PMI asal Lombok Berat harus menjalankan ibadah puasa di tengah musim dingin dan beratnya bekerja konstruksi di Jepang.
KERJA KERAS: Suparman PMI asal Lombok Berat harus menjalankan ibadah puasa di tengah musim dingin dan beratnya bekerja konstruksi di Jepang.

LombokPost - Hampir tujuh tahun Arman sapaan Suparman menjalani puasa di Jepang. Baginya, puasa di Negeri Matahari Terbit ini bukan perkara mudah dibanding puasa di tanah kelahirannya Lombok Barat.

Di balik deretan gedung tinggi dan proyek konstruksi yang menjulang di Jepang, ada cerita sunyi tentang perjuangan seorang pekerja migran Indonesia menjalankan ibadah puasa. Bagi Suparman, 36, Ramadan di Negeri Sakura bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Lebih dari itu, ia harus melawan cuaca ekstrem, tuntutan pekerjaan fisik, hingga rasa rindu yang menyesakkan dada.

Pria kelahiran 4 Februari 1990 itu sudah tujuh tahun bekerja di Jepang. Ia bekerja di sektor konstruksi, membangun gedung-gedung di Tokyo dan kadang berpindah proyek ke wilayah Saitama. Rutinitas kerja yang berat membuat menjalankan puasa penuh selama sebulan menjadi tantangan besar.

“Selama tujuh tahun di Jepang, saya belum pernah bisa dapat puasa full,” ujarnya jujur kepada Lombok Post.

Paling banyak, ia hanya mampu menjalankan puasa sekitar 12 hari dalam satu Ramadan. Tahun ini pun situasinya tidak jauh berbeda. Dari awal Ramadan, beberapa hari puasanya terpaksa “bocor”.

Penyebabnya beragam. Mulai dari kondisi tubuh yang kelelahan hingga tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Sebagai pekerja konstruksi, Suparman terbiasa bekerja di lapangan dengan aktivitas fisik yang berat. Ia harus mengangkat material, bekerja di ketinggian, dan bergerak sepanjang hari. Dalam kondisi seperti itu, puasa bisa menjadi sangat berat, terutama ketika Ramadan jatuh pada musim panas.

Menurutnya, musim panas adalah masa paling sulit untuk berpuasa di Jepang. “Kalau musim panas paling berat puasa. Di Jepang kadar oksigennya terasa tipis, jadi sering sesak,” tuturnya.

Cuaca panas membuat tubuh lebih cepat dehidrasi. Tidak jarang ia merasa pusing, sesak napas, bahkan hampir pingsan ketika memaksakan diri berpuasa sambil bekerja di proyek.

Karena itu, ia biasanya memilih berpuasa ketika sedang libur kerja atau saat pekerjaan proyek sedang tidak terlalu padat. “Kalau lagi libur kerja bisa puasa. Kadang kalau pekerjaan sepi saya juga puasa,” katanya.

Beruntung, beberapa tahun terakhir waktu Ramadan perlahan bergeser dari musim panas menuju musim yang lebih sejuk. Tahun ini, misalnya, durasi puasa di Jepang sekitar 12 jam karena memasuki musim dingin.

Bagi Suparman, kondisi itu sedikit lebih bersahabat dibandingkan puasa di tengah terik musim panas yang bisa berlangsung lebih lama.

Namun tantangan puasa di Jepang tidak hanya soal cuaca atau pekerjaan. Ada godaan lain yang juga sering membuat puasanya batal.bIa mengakui kebiasaan merokok dan minum minuman tertentu menjadi ujian tersendiri.

“Godaan yang banyak karena ngerokok dan minum,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain itu, kehidupan di negeri orang membuat suasana Ramadan terasa berbeda. Tidak ada suara azan yang menggema di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak ada juga tradisi sahur bersama seperti di kampung halaman.

“Yang membedakan itu waktu sahur. Tidak ada yang bangunin. Paling cuma alarm,” katanya.

Momen berbuka puasa pun terasa sederhana. Kadang ia berbuka sendirian setelah pulang kerja. Namun sesekali ia menyempatkan diri datang ke sebuah masjid yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas Muslim Indonesia.

Di sana, suasana Ramadan terasa sedikit lebih hangat.

Masjid tersebut adalah Masjid Baitul Aman. Bagi para diaspora Muslim di sekitar wilayah Saitama dan Tokyo, masjid ini menjadi tempat berbuka puasa bersama.

Di tempat itulah Suparman bisa merasakan kembali atmosfer Ramadan yang lebih akrab.

“Kadang ada tempat berbuka khusus di sana. Jadi bisa kumpul sama teman-teman,” ujar fans klub sepak bola Real Madrid ini.

Meski begitu, ada satu momen yang selalu membuat hatinya terasa berat setiap tahun yakni Idul Fitri.

Bagi banyak pekerja migran seperti Suparman, Lebaran di Jepang sering kali terasa sunyi. Jauh dari keluarga, jauh dari anak-anak, dan jauh dari suasana kampung halaman yang biasanya penuh kebersamaan.

“Yang paling terasa itu waktu Idul Fitri. Rindu keluarga,” katanya pelan.

Ia mengaku kesedihan itu selalu datang ketika hari kemenangan tiba, sementara ia harus tetap berada di negeri orang. “Terasa sekali sedihnya karena tidak berkumpul bersama keluarga,” ucapnya.

Namun di balik semua keterbatasan itu, Suparman tetap berusaha menjalankan ibadah semampunya. Baginya, puasa di Jepang memang lebih menantang. Godaan lebih besar, kondisi kerja lebih berat, dan suasana Ramadan tidak seramai di Indonesia.

Justru karena itulah ia merasa ada makna tersendiri.

Puasa di Negeri Sakura menjadi pengingat tentang perjuangan, kesabaran, dan kerinduan. Di tengah hiruk-pikuk proyek pembangunan dan dinginnya udara Jepang, Suparman tetap mencoba menjaga tradisi yang ia bawa dari tanah air.

Walau kadang “bocor”, semangatnya untuk tetap berpuasa tidak pernah benar-benar hilang. Bagi Suparman, setiap hari puasa yang berhasil dijalani di negeri orang adalah kemenangan kecil yang penuh arti. (*)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #PMI #tokyo #Saitama #jepang #Puasa