Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rendahnya Cakupan Imunisasi Jadi Penyebab Utama Masifnya Penyebaran Campak di NTB

Yuyun Kutari • Selasa, 7 April 2026 | 18:38 WIB
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri (YUYUN/LOMBOK POST)


LombokPost - Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat sebanyak 1.360 kasus campak hingga 30 Maret 2026, dengan wilayah terdampak utama berada di Bima, Dompu dan Kota Bima.

“Begitulah situasi terkini kasus campak di Provinsi NTB, hingga akhir Maret lalui,” kata Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri, Senin (6/4).

Baca Juga: KLB Campak Merebak di Tiga Daerah NTB, Balita Paling Banyak Terjangkit

Peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap.

“Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal, dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan,” jelasnya.

Selain itu, tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus.

Fikri menegaskan, kasus didominasi oleh anak usia di bawah 5 tahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi.

Hal ini menunjukkan rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten, telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif.

“Kami juga melakukan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas, pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Dompu, Bima, Kota Bima,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus Campak Diklaim Turun Signifikan

Adapun prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan. Fikri mengatakan langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi.

Termasuk menurunkan risiko kematian, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap.

“Kami akan terus imbau, segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk atau pilek dan ruam,” terangnya.

Masih dalam penanganan Campak, Dikes NTB menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Termasuk penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek, mulai dari demam, ruam, batuk atau pilek di IGD atau rawat jalan, penyediaan area isolasi khusus; infeksius atau pediatric.

“Kami juga menyertakan penanganan segera pasien dengan komplikasi, seperti sesak, diare hingga sulit makan, untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus atau KLB,” bebernya.

Baca Juga: Dikes Lotim Perkuat Pengawasan Kasus Campak

Pemprov NTB terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali. Masyarakat juga diimbau tetap tenang namun waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak. 

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menginstruksikan rumah sakit dan fasyankes, untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan, antara lain dengan melakukan skrining dan triase dini, menyiapkan ruang isolasi, memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD), serta memperkuat sistem pengendalian infeksi.

Editor : Akbar Sirinawa
#campak #kejadian luar biasa #imunisasi #NTB #Pemprov NTB