LombokPost-Fenomena Godzilla El Nino yang diprediksi terjadi tahun ini, menjadi perhatian serius di sektor pertanian, termasuk di NTB.
Dampak yang ditimbulkan tidak main-main, mulai dari kekeringan ekstrem, berkurangnya ketersediaan air irigasi, meningkatnya serangan hama, hingga ancaman gagal panen (puso) yang berujung pada penurunan produksi padi nasional.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanketapang) NTB Lalu Mirza Amir Hamzah menegaskan Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman menghadapi fenomena El Nino pada tahun-tahun sebelumnya.
“Ini kan musim kemarau El Nino ini sudah biasa. Seperti yang kemarin, tahun-tahun sebelumnya kan kita hadapi juga,” terangnya, Kamis (16/4).
Baca Juga: Waspada! El Niño "Godzilla" dan IOD Positif Intai Indonesia, NTB Terancam Kekeringan Panjang
Karena itu, sejumlah langkah strategis telah disiapkan sejak dini guna menjaga ketahanan pangan. Pemerintah pusat telah memberikan arahan yang jelas dan konkret kepada daerah, untuk segera mengambil langkah antisipatif.
Mirza mengatakan langkah mitigasi dimulai dengan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan di Bumi Gora.
“Pertama itu kita mapping, memetakan wilayah-wilayah yang langganan kekeringan. Kabupaten-kota sudah kita informasikan dari sebelumnya,” jelasnya.
Informasi mengenai hal ini akan dirangkum dalam waktu dekat, sehingga hasilnya nanti bisa menentukan upaya atau langkah berikutnya, untuk wilayah atau daerah rawan kering tersebut.
Selain itu, optimalisasi pengelolaan air menjadi fokus penting dalam menghadapi kekeringan. Upaya ini dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pompanisasi dan irigasi perpompaan yang telah dibantu oleh Kementerian Pertanian (Kementan).
“Kita optimalkan penggunaan pompanisasi, irigasi perpompaan, dan juga pemanfaatan embung. Ini harus disiapkan mulai dari tingkat petani,” katanya.
Baca Juga: BMKG : Kemarau 2026 Paling Kering dalam 30 Tahun Terakhir
Langkah teknis lainnya adalah percepatan masa tanam. Menurutnya, petani harus segera melakukan penanaman kembali setelah panen, terutama di wilayah yang masih memiliki ketersediaan air cukup.
“Begitu panen, langsung diproses percepatan tanamnya, supaya ketersediaan air yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Di samping itu, penggunaan varietas padi tahan kekeringan juga menjadi strategi penting. Kadis menyebut beberapa varietas unggulan yang direkomendasikan, seperti Inbrida Padi Gogo (Inpago).
Ini merupakan varietas padi unggul dari Kementan yang dirancang khusus untuk lahan kering (padi gogo), dan toleran kekeringan serta tanah masam. Kemudian, Padi Inpari 32, varietas unggul yang sangat populer karena tahan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III, IV, dan VIII.
Tak hanya itu, petani didorong menggunakan varietas padi genjah atau berumur pendek, yakni kurang dari 105 hari. Varietas padi jenis ini sekarang kian populer di kalangan petani karena dinilai mampu menjawab berbagai tantangan di sektor pertanian.
Baca Juga: Baru Mulai, Kemarau Sudah Picu Kenaikan Karhutla
Keunggulan utamanya terletak pada masa panen yang lebih cepat, yakni berkisar antara 70 hingga 90 hari, sehingga petani dapat mempercepat siklus produksi.
Ada juga varietas Cakrabuana Agritan dan Padjadjaran Agritan dikenal sebagai varietas padi unggul baru (VUB) yang memiliki umur genjah, sehingga mampu dipanen dalam waktu singkat, sekitar 100-105 hari.
“Kita dorong petani menggunakan varietas umur pendek, sekitar 100 hari sudah bisa panen. Ini bisa meningkatkan produksi di tengah keterbatasan air,” tambahnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemprov NTB tetap optimistis sektor pertanian tetap mampu bertahan menghadapi ancaman El Nino. Mirza menekankan pentingnya kesiapsiagaan mengingat Indonesia merupakan negara dengan pola iklim dua musim yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
“Kita harus siap menghadapi El Nino, karena kita berada di negara dengan dua musim, hujan dan kemarau. Ini yang harus kita antisipasi bersama,” pungkasnya.
Baca Juga: Satu Tahun, Pertanian NTB Bangkit dan Membuka Peluang Baru, Padi Melonjak, Jagung Tetap Tangguh
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam siaran resminya merekomendasikan sejumlah langkah strategis, seperti respons antisipatif pada wilayah dengan potensi curah hujan rendah, penguatan manajemen waduk dan irigasi berbasis data, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, serta kampanye efisiensi penggunaan air dan energi.
Faisal menegaskan BMKG siap mendukung berbagai sektor pembangunan melalui penyediaan data dan informasi iklim terkini. “BMKG tidak hanya mengurusi kebencanaan, tetapi juga mendukung berbagai sektor pembangunan seperti pertanian, perhubungan darat, laut, dan udara, serta infrastruktur pekerjaan umum,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam pengelolaan sumber daya air diperlukan keseimbangan agar tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan. Air tidak berlebih yang memicu banjir dan longsor, tetapi juga tidak kurang yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Editor : Akbar Sirinawa