LombokPost - Kondisi calon jamaah haji (CJH) asal NTB pada musim haji tahun ini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan.
Peningkatan signifikan jumlah jamaah dengan kategori risiko tinggi (risti) memaksa petugas bekerja ekstra ketat, cepat, dan teliti.
Ketua Tim Kerja 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram dr Ferry Wardhana, mengungkapkan tren peningkatan jamaah risti tahun ini cukup mencolok dibandingkan musim haji sebelumnya.
Baca Juga: Koordinasi Beres, Polisi Siap Amankan Pelaksanaan Haji 2026
Tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga dari profil jamaah yang semakin rentan. “Secara umum jumlah jamaah risti itu meningkat, jamaah yang menggunakan kursi roda juga meningkat, jamaah yang lansia juga meningkat. Secara umum seperti itu,” jelasnya, saat ditemui Lombok Post, Sabtu (18/4).
Pada musim haji sebelumnya persentase jamaah risti berada di kisaran 79 persen. Namun pada tahun ini, angkanya melonjak menjadi 80,7 persen. Kenaikan ini dinilai signifikan karena menunjukkan bahwa mayoritas jamaah membutuhkan perhatian medis khusus selama proses keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah haji.
“Kita melihat peningkatan ini memang nyata. Jadi bukan hanya angka, tapi juga kondisi lapangan yang menunjukkan bahwa jamaah kita semakin banyak yang membutuhkan pendampingan kesehatan,” jelas dr. Ferry.
Baca Juga: 148 CJH Berangkat Haji 2026 Asal Kabupaten Dompu
Menghadapi kondisi tersebut, BKK Mataram menyiagakan sebanyak 55 tenaga Kesehatan. Tahun ini CJH asal NTB yang akan diberangkatkan sebanyak 5.798 orang yang terbagi dalam 15 kelompok terbang (kloter).
Menurutnya, tingginya angka risti membuat pemeriksaan kesehatan tidak bisa dilakukan secara biasa. Ketelitian menjadi kunci utama agar tidak ada CJH dengan kondisi risti yang lolos dan berpotensi mengalami masalah saat di Tanah Suci.
“Harus teliti juga, karena ini tinggi sekali ristinya, sampai 80 persen lebih. Jadi kita tidak boleh lengah,” tambahnya.
Baca Juga: Steril! Radius 100 Meter Depan Asrama Haji Mataram Terlarang bagi Pedagang dan Parkir Liar
Mesti demikian di sisi lain, tantangan besar justru datang dari keterbatasan waktu. Jika sebelumnya CJH memiliki waktu tunggu sekitar 24 jam di asrama haji, kini Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menetapkan kebijakan hanya tersedia sekitar 18 jam.
Kondisi ini membuat tenaga kesehatan, harus bekerja lebih efisien tanpa mengurangi kualitas pemeriksaan. Secara umum, dari hasil pemantauan kesehatan CJH NTB, dr. Ferry menyebutkan penyakit kronis masih mendominasi kondisi CJH risti.
Urutan tertinggi ditempati oleh diabetes mellitus atau kencing manis, kemudian hipertensi, asam urat, gangguan lambung, dan yang kelima gagal ginjal kronis.
Selain itu, kasus tuberkulosis (TBC) juga masih ditemukan di kalangan jamaah. Namun, ia memastikan CJH yang diberangkatkan telah melalui proses seleksi kesehatan ketat dan tidak dalam kondisi menular.
“Kalau TBC masih ada, tapi saya pastikan jamaah yang berangkat sudah tidak menular. Karena mereka sudah mendapatkan istitaah kesehatan,” tegasnya.
Ancaman Lain
Selain penyakit kronis, ancaman lain yang menjadi perhatian BKK Mataram di musim haji tahun 2026 adalah wabah campak. Sebagai informasi, status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak masih merebak di tiga daerah di NTB, yakni: Dompu, Bima, dan Kota Bima.
Dia menekankan campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu orang itu bisa menularkan sampai 18 orang. “Ini virusnya bisa bertahan di udara bebas selama dua jam. Jadi sangat cepat menular,” kata dr. Ferry.
Saat ini, upaya vaksinasi masal tengah dilakukan di tiga daerah tersebut. Ia juga berharap adanya dukungan untuk vaksinasi campak pada orang dewasa, termasuk bagi tenaga kesehatan yang akan mendampingi jamaah haji.
“Kami mengharapkan BPPOM sudah merestui penggunaan vaksin campak untuk dewasa. Jadi harapan saya juga paling tidak tenaga kesehatan haji yang membawa kloter ini di vaksin campak,” tegas dia.
Lebih lanjut, dr. Ferry turut menjelaskan, dalam prosedur pemeriksaan kesehatan di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, CJH yang terindikasi mengidap penyakit menular seperti campak dipastikan tidak akan diberangkatkan.
“Jadi kalau dia teridentifikasi saat pemeriksaan kesehatan di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, saya pastikan dia akan kami tunda. Karena akan menular ke jamaah lain dan pasti akan tertolak di Arab Saudi,” ungkapnya.
Penundaan keberangkatan dapat bersifat sementara atau hingga musim haji berikutnya, tergantung kondisi kesehatan jamaah. Pihaknya akan melihat apakah CJH tersebut bisa membaik saat masa pemberangkatan haji atau tidak.
“Kalau bisa, mungkin ikut kloter berikutnya. Kalau tidak, dengan berat hati ditunda ke tahun depan,” jelasnya.
Ia merinci ada tujuh penyakit dilarang masuk oleh Pemerintah Arab Saudi. Di musim haji tahun 2026 ini, mereka menetapkan standar ketat terkait kondisi kesehatan jamaah. Terdapat tujuh kategori penyakit yang tidak diperbolehkan masuk.
Ada penyakit jantung berat, gagal ginjal tahap akhir, gangguan mental berat, kanker stadium lanjut, TBC aktif, penyakit infeksi menular seperti campak, kondisi kesehatan tidak stabil. “Semua jamaah harus dalam kondisi stabil, layak terbang, dan mampu menjalankan manasik secara normal,” ujarnya.
Terkait vaksinasi dr Ferry menegaskan bahwa seluruh jamaah wajib mendapatkan vaksin sebelum keberangkatan. Tanpa vaksin, jamaah dipastikan tidak bisa masuk ke Arab Saudi. “Harus divaksin. Kalau tidak, tidak boleh masuk,” tegasnya.
Adapun jenis vaksin yang diwajibkan meliputi meningitis, polio, dan Covid-19 dengan dua dosis. Bukti vaksinasi akan diberikan kepada jamaah sebagai syarat administrasi perjalanan.
Di tengah padatnya proses dan tingginya risiko kesehatan, dr. Ferry mengimbau jamaah untuk benar-benar menjaga kondisi fisik menjelang keberangkatan. Ia mengingatkan proses pemeriksaan di asrama haji kini bisa memakan waktu lebih lama, bahkan hingga 5–6 jam, terutama dengan adanya tambahan proses aktivasi kartu nusuk.
“Waktu semakin pendek, pemeriksaan semakin lama, waktu istirahat juga semakin sedikit. Kasihan jamaahnya,” ujarnya.
Karena itu, ia menyarankan agar jamaah memanfaatkan waktu sebelum keberangkatan untuk beristirahat total. “Saran saya, seminggu ini istirahat full saja. Kurangi aktivitas, tidak usah ke pesta, dan kurangi bertemu orang banyak,” pesannya.
Sementara itu, Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok Lalu Madahan menegaskan, berbagai fasilitas utama telah dipersiapkan untuk mendukung kenyamanan jamaah.
Fasilitas utama yang akan digunakan meliputi Gedung Mina, Arafah, dan Shafa sebagai lokasi pelayanan jamaah, sementara Gedung Namira difungsikan sebagai pusat kegiatan panitia. “Seluruh kamar telah dilengkapi berbagai amenitas, seperti perlengkapan mandi, selimut, handuk, serta fasilitas pendukung lainnya,” jelasnya.
“Untuk mendukung layanan haji ramah lansia dan disabilitas, kursi roda serta fasilitas pendukung lainnya juga telah tersedia,” terangnya.
Klasifikasi Kesehatan CJH asal NTB: Tidak Risti: 2.173 orang. Risti Ringan: 1.816 orang. Risti Sedang: 1.418 orang. Risti Berat: 1.043 orang. Prioritas Risti: 167 orang. Tanpa Keterangan: 6 Orang.
*Diolah dari berbagai sumber (yun/r3)
Editor : Redaksi