Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BRIDA Gandeng Ekosistem Hexahelix Guna Dorong Integrasi Riset dan Inklusivitas Menuju Net Zero Emission

Siti Aeny Maryam • Kamis, 21 Mei 2026 | 15:48 WIB
Target Pemprov NTB untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon kini memasuki babak baru yang lebih taktis.
Target Pemprov NTB untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon kini memasuki babak baru yang lebih taktis.
LombokPost - Target besar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon kini memasuki babak baru yang lebih taktis.

Menyadari bahwa riset ilmiah adalah kompas utama dari transisi energi, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB bersama GEDSI JET NTB menggelar forum berskala besar pada Rabu (20/5/2026) di Golden Palace Hotel, Mataram.

Ajang bertajuk "Konsolidasi Riset tentang Energi Terbarukan dan Implementasinya untuk Pencapaian Net Zero Emission di Nusa Tenggara Barat" ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas ESDM NTB, Niken, dan dihadiri oleh lintas sektoral.

Baca Juga: Hampir Sebulan Dibongkar, Eks Kantor DPRD NTB Sudah Rata dengan Tanah 

Forum ini dirancang khusus untuk membangun fondasi riset energi hijau yang terintegrasi, sekaligus memecah kebuntuan hilirisasi inovasi yang selama ini belum tergarap maksimal.

Dalam sesi pemaparan utama, Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, mengungkapkan sebuah fakta krusial mengenai lanskap energi di Bumi Gora. Berdasarkan data terkini, pemanfaatan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di NTB baru menyentuh angka 25 persen.

Kendati potensinya melimpah, pengembangannya dinilai masih berjalan lambat dan parsial.

Baca Juga: Dewan Kaget Pemkot Mataram Diam-diam Stop Izin Alfamart dan Indomaret

Untuk mengatasi stagnasi tersebut, mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB ini menegaskan kesiapan institusinya untuk mengambil peran sentral di garda depan.

“Kami siap menjadi hub atau mengorkestrasi kegiatan riset dan inovasi untuk pengembangan EBT ini. Dibutuhkan penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu diterapkan secara nyata untuk masyarakat,” tegas Aryadi.

Aryadi juga memaparkan bahwa BRIDA NTB tidak memulai dari nol. Saat ini, beberapa riset strategis dan inovasi terapan berskala mikro yang memanfaatkan potensi serta problem lokal tengah diintensifkan. 

Baca Juga: Pemprov Percepat Transformasi BPR NTB Menjadi BPR Syariah

Empat riset andalan yang dipaparkan meliputi, Pengolahan Air Lindi Menjadi Biogas (mengubah limbah cair super-toksik dari tempat pembuangan sampah menjadi sumber energi gas alternatif), Pengembangan Biogas Portable (Solusi energi mandiri yang praktis dan bisa diadopsi langsung oleh masyarakat atau industri kecil), Inovasi Pirolisis Portable (Alat pengolahan limbah/sampah kering secara termokimia untuk menghasilkan bahan bakar minyak alternatif), serta Budidaya Kurma Lombok (Upaya riset vegetasi spesifik yang diselaraskan dengan mitigasi perubahan iklim di lahan kering).

Lebih jauh, kehadiran Pejabat Fungsional Bappeda NTB, Setyo Budi, dalam forum ini mempertegas sinkronisasi agenda riset dengan dokumen perencanaan daerah. BRIDA NTB menargetkan kontribusi nyata pada RPJMD NTB 2025-2029 melalui empat pilar intervensi.

Yakni fasilitasi kolaborasi erat antara sektor publik (pemerintah) dan swasta, inkubasi teknologi bersih (clean technology) yang ramah bagi pelaku UMKM dan kawasan perdesaan, penyediaan basis data riset energi guna mendukung kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), serta penguatan riset energi terbarukan yang berkelanjutan dan rendah karbon.

Salah satu output terpenting dari konsolidasi satu hari penuh ini adalah lahirnya kesepahaman kolektif mengenai Pendekatan Hexahelix.

Seluruh peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, perguruan tinggi/akademisi, dunia usaha, komunitas, media massa, hingga lembaga pembiayaan dan investor sepakat untuk meruntuhkan ego sektoral.

Ekosistem inovasi EBT harus dibangun secara gotong-royong agar memiliki daya keberlanjutan yang kuat.

Selain aspek teknologi dan investasi, forum ini menaruh perhatian besar pada aspek keadilan sosial dengan menekankan prinsip inklusivitas.

Melalui kemitraan dengan GEDSI JET NTB, transisi energi bersih di NTB diwajibkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Proses riset hingga hilirisasi teknologi di lapangan harus melibatkan perempuan dan kelompok rentan, masyarakat adat dan penduduk desa, serta petani, nelayan, dan pelaku UMKM selaku konsumen energi terbesar di tingkat akar rumput.

Baca Juga: Tahap Awal Berlaku untuk Tiga Komoditas Strategis, Pemerintah Tidak Memusuhi Swasta

Sebagai penutup, forum ini menghasilkan rekomendasi mutlak berupa percepatan pembangunan sistem database riset energi terbarukan yang terintegrasi di NTB.

Salah satu output terpenting dari konsolidasi satu hari penuh ini adalah lahirnya kesepahaman kolektif mengenai Pendekatan Hexahelix.
Salah satu output terpenting dari konsolidasi satu hari penuh ini adalah lahirnya kesepahaman kolektif mengenai Pendekatan Hexahelix.

Wadah data tunggal ini nantinya akan mengkonsolidasikan seluruh rekam jejak riset dari pihak universitas, lembaga donor, maupun NGO/LSM.

Langkah ini dinilai strategis untuk mempermudah para investor dan lembaga pendanaan mengidentifikasi proyek riset EBT mana saja di NTB yang potensial dan siap untuk didanai ke skala industri.

Editor : Siti Aeny Maryam
#NZE #karbon #BRIDA #Nol Persen #NTB