Setiap pemenang berhak mendapatkan tropi dan sertifikat atas nama pemilik dan jenis bonsai, yang dipastikan bisa menaikkan grade atau nilai jual bonsai mini itu sendiri.
Dalam persaingan ketat yang diikuti oleh 259 pohon terbaik dari seluruh Indonesia, bonsai jenis Sancang milik H. Lalu Fahrurrozi asal Kopang, Lombok Tengah, berhasil keluar sebagai juara umum (Best of the Best) di kelas Regional Mame.
Baca Juga: Workshop Perfilman Pemuda NTB di Bima Cetak Ratusan Calon Sutradara Hebat
Ajang bergengsi yang digagas oleh Kelompok Tani Bonsai The Max Indonesia ini sengaja menonjolkan konsep tanaman mikro, seperti tipe mame dan the max, sebagai respons terhadap tren tata ruang urban modern yang membutuhkan sentuhan hijau mewah di lahan terbatas.
"Tingginya partisipasi dalam pameran ini membuktikan bahwa tren bonsai mini kini tengah digandrungi secara nasional," ujar Ir. Rizaluddin Akbar, Ketua Panitia sekaligus Ketua The Max 30cm Mataram disela-sela acara penutupan Sabtu (23/5/2026) siang.
Berdasarkan hasil penilaian kurasi dari tim juri yang mengukur aspek gerak dasar, penampilan, keserasian, serta kematangan penuaan tanaman, berikut adalah daftar lengkap jawara di masing-masing kelas kompetisi.
Kelas Kompetisi/Jenis TanamanPemilik/Asal Daerah
1. Regional Mame (Best of the Best)/Sancang/H. Lalu Fahrurrozi/Kopang, Lombok Tengah
2. Semi Regional Small (Terbaik)/Sancang/I Made Suartana/Rincung, Lombok Barat
3. Prospect (Terbaik)/Anting Putri
Bagos/Jonarindang/Babakan, Kota Mataram
4. The Max Plus Semi Regional (Terbaik)/Santigi/Adi Wijaya/Kota Mataram
Sehari sebelumnya, Jumat (22/5/2026) telah dilakukan penyerahan Sertifikat Hak Karya Cipta untuk lagu mars resmi "The Max 30cm Mataram" oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham NTB, I Gusti Putu Milawati, kepada Ir. Rizaluddin Akbar.
Dalam sambutannya, Milawati mengingatkan agar antusiasme kontes ini berdampak langsung pada ekonomi riil masyarakat. Ia berharap ajang nasional ini menstimulasi transaksi jual-beli yang nyata, bukan sekadar menjadi tontonan gratis.
"Kepedulian pembeli sangat penting agar masyarakat datang tidak hanya sekadar melihat lalu pulang, melainkan turut menghargai karya para perajin melalui transaksi nyata," tegas Milawati.
Sementara itu, Presiden Direktur Kelompok Tani Bonsai The Max Indonesia, I Made Suka, SH., menyebukan jika ajang ini menjadi ruang unjuk gigi bagi tanaman endemik lokal, salah satunya Pohon Saeng Simbur Lombok (Lele Lombok).
Komunitasnya menargetkan edukasi budidaya bonsai ini bisa memasyarakat hingga 95 persen karena perawatannya yang efisien.
Dukungan senada juga disampaikan oleh Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan. Pria yang akrab disapa Mamiq Sajim ini menilai kontes flora seperti ini sangat strategis untuk mengedukasi generasi muda mengenai keunikan vegetasi pasca-peristiwa geologis meletusnya Gunung Samalas abad ke-13 silam.
Melihat kesuksesan besar di Teras Udayana tahun ini, pihak panitia optimis geliat industri kreatif tanaman hias berukuran mikro akan terus melesat, dan mereka bersiap merancang kontes dengan skala yang jauh lebih masif di tahun depan.
Editor : Siti Aeny Maryam