LombokPost-Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Mataram, terus memantau perkembangan kondisi kesehatan jamaah haji asal NTB yang masih berada di Arab Saudi.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 12 jamaah masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Tanah Suci.
“Update data per hari ini yang dirawat masih 12 orang. Melihat tidak ada penambahan dan mereka masih dalam perawatan,” terang Kepala BKK Kelas I Mataram Herman Nugraha, Kamis (4/6).
Sebagian besar jamaah yang dirawat, merupakan kelompok lanjut usia (lansia) yang sejak awal keberangkatan, memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jemaah lebih rentan mengalami gangguan kesehatan, selama menjalankan rangkaian ibadah haji yang cukup menguras tenaga.
Baca Juga: Pulang dari Tanah Suci, Kesehatan Jemaah Haji NTB Dipantau 21 Hari
Penyakit yang banyak ditemukan pada jamaah yang dirawat antara lain hipertensi, diabetes, gangguan jantung, serta sejumlah penyakit kronis lainnya yang sudah diderita sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Rata-rata yang kita berangkat dari sini kan lansia. Ada yang memiliki hipertensi, diabetes, dan penyakit bawaan lainnya dari tanah air,” katanya.
Selain faktor penyakit bawaan, kelelahan akibat aktivitas ibadah yang padat juga menjadi pemicu menurunnya kondisi kesehatan para jamaah.
Menurut Herman, jamaah haji yang sakit awalnya mendapatkan penanganan oleh tim kesehatan di tingkat kloter.
Namun, saat kondisi mereka terus menurun, maka harus dilakukan pemeriksaan dengan peralatan medis yang lebih lengkap, maka dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi.
“Ketika tidak bisa ditangani di masing-masing kloter, dirujuk ke sektor dan langsung ke rumah sakit di Arab Saudi untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan lebih lanjut,” jelasnya.
Herman menuturkan, kondisi 12 jemaah yang masih dirawat cukup beragam. Sebagian di antaranya memerlukan dukungan alat kesehatan tertentu, seperti infus maupun alat bantu pernapasan, yang tidak tersedia di tingkat pelayanan kesehatan kloter.
“Biasanya itu memerlukan alat khusus, misalnya infus atau alat pernapasan. Jadi bervariasi,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan seluruh jemaah mendapatkan pelayanan medis yang diperlukan, sesuai kondisi masing-masing.
BKK Kelas I Mataram berharap seluruh jemaah haji yang sedang menjalani perawatan dapat segera pulih dan kembali bergabung dengan rombongan.
Baca Juga: Kloter 2 Lombok Tengah Tiba di Tanah Air, BIZAM Sediakan Area Khusus Sujud Syukur Jamaah Haji
Terkait kepulangan 12 jamaah yang masih menjalani perawatan, Herman mengatakan keputusan tersebut akan bergantung pada perkembangan kondisi kesehatan masing-masing pasien.
Jemaah haji yang kondisinya membaik akan dikembalikan ke kloternya agar dapat pulang bersama rombongan sesuai jadwal.
Sebaliknya, jemaah yang masih membutuhkan perawatan lebih lanjut, proses kepulangannya akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan medis dan rekomendasi dokter yang menangani.
Mekanisme tanazul atau penyesuaian jadwal kepulangan dapat diterapkan apabila kondisi kesehatan jamaah belum memungkinkan untuk kembali bersama kloternya.
“Kalau belum memungkinkan, nanti menunggu hasil pemeriksaan dan akan ditentukan melalui mekanisme tanazul atau penyesuaian kepulangan sesuai kondisi jamaah yang dirawat,” bebernya.
Jamaah haji yang dirawat tetap mendapatkan pendampingan dari petugas kesehatan haji Indonesia yang bertugas di Arab Saudi, meskipun tenaga kesehatan yang mendampingi kloter tetap bersama rombongannya masing-masing,
“Semua jemaah yang dirawat di rumah sakit ditangani oleh petugas kesehatan yang ada di sana,” katanya.
Baca Juga: Innalillahi, BKK Mataram Ungkap Penyebab Lima Jemaah Haji NTB Meninggal Dunia
Di sisi lain, Herman juga mengungkapkan jumlah jamaah haji NTB yang meninggal dunia, hingga saat ini tercatat sebanyak 11 orang.
Dari jumlah tersebut, empat perempuan dan tujuh laki-laki. Seluruhnya didominasi jamaah berusia di atas 50 tahun.
Penyebab kematian umumnya berkaitan dengan penyakit jantung, gangguan paru-paru, hipertensi, serta penyakit bawaan lain yang telah dimiliki jamaah sebelum keberangkatan.
“Rata-rata penyakitnya jantung, paru, hipertensi yang sebetulnya berkaitan dengan penyakit bawaan dari tanah air,” kata dia.
Kondisi fisik yang menurun akibat kelelahan selama menjalani rangkaian ibadah haji, juga disebut turut memengaruhi risiko gangguan kesehatan pada jamaah lansia.
Menurut Herman, peningkatan kasus kesehatan pada jamaah lansia biasanya mulai terlihat setelah rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Kami berharap tidak ada lagi penambahan angka kematian, hingga seluruh proses penyelenggaraan ibadah haji dan pemulangan jemaah selesai dilaksanakan,” tandasnya.
Jemaah haji yang meninggal dunia selama menjalankan ibadah haji, tetap berhak mendapatkan santunan asuransi.
Besaran santunan yang diberikan setara dengan nilai Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH) atau setoran haji yang telah dibayarkan oleh jamaah.
“Jadi besarannya menyesuaikan daerah embarkasi masing-masing,” ujar Kepala Bidang Pelayanan dan Fasilitas Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB Ali Sahbana.
Baca Juga: Ibadah Haji dan Makna Kurban, Hakikat Kurban Bukan Hanya Menyembelih Hewan
Terkait waktu pencairan santunan, Ali mengatakan proses administrasi akan dilakukan setelah seluruh rangkaian operasional haji selesai dan petugas haji kembali ke Indonesia.
Saat ini, petugas masih bertugas di Arab Saudi sehingga pendataan dan rekapitulasi belum dapat diselesaikan.
Ia memperkirakan santunan asuransi tersebut dapat mulai dicairkan pada Juli, setelah seluruh jamaah haji Indonesia selesai kembali ke daerah masing-masing. “Insya Allah Juli, setelah jemaah haji pulang semua,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa