LombokPost-Banyak kalangan menganggap, sektor pertambangan merupakan mesin utama penopang struktur keuangan NTB.
Namun, data resmi yang dirilis oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) NTB justru menunjukkan realitas fiskal yang berbeda.
Sekretaris Bapenda NTB M Zuhudy Kadran menegaskan setelah dilakukan pembedahan di APBD NTB 2025, dilihat dari capaian target dan realisasi pendapatan daerah tahun anggaran 2025, sektor pertambangan melalui Pendapatan Bagi Hasil Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) hanya menyumbang 2,72 persen terhadap total pendapatan daerah.
“Ternyata dari persentasenya memang kecil,” tegasnya, Minggu (7/6).
Baca Juga: Realita, Pertumbuhan Ekonomi NTB Masih Bertumpu pada Tambang
Merujuk pada data resmi Bapenda NTB, secara keseluruhan, total pendapatan daerah Pemprov NTB pada tahun anggaran 2025 tercatat mencapai Rp 6,47 triliun.
Struktur pendapatan daerah sepanjang tahun anggaran 2025 ditopang kuat oleh dua komponen utama. Pendapatan Transfer sebagai penyumbang terbesar.
Sektor ini menjadi tulang punggung utama keuangan daerah pada tahun 2025. Dari target yang ditetapkan sebesar Rp 3,49 triliun dengan realisasinya justru melampaui target hingga mencapai Rp 3.53 triliun.
Ini membuat Pendapatan Transfer memberikan porsi terbesar bagi fiskal NTB, yaitu sebesar 54,62 persen.
Berikutnya, komponen terbesar kedua datang dari sektor PAD. Bapenda NTB menargetkan PAD sebesar Rp 2,8 triliun dan berhasil merealisasikannya sebesar Rp 2.75 triliun.
Meskipun realisasinya sedikit di bawah target yang ditentukan, sekitar 98,21 persen, sektor ini tetap memegang peran krusial dengan menyumbang 42,60 persen dari total pendapatan daerah.
Baca Juga: Dinas ESDM NTB Sebut STM Matangkan Izin Tambang dan Panas Bumi di Dompu
Adapun pendapatan yang berasal dari sektor pertambangan melalui bagi hasil IUPK, tercatat sebesar Rp 176,67 miliar. Meski realisasinya mencapai 100 persen dari target yang ditetapkan, kontribusinya terhadap total pendapatan daerah hanya sebesar 2,72 persen.
Ketika ditanya lebih jauh, mengenai analisis perbandingan kontribusi sektor tambang NTB dengan daerah penghasil mineral logam lainnya di Indonesia, Zuhudy mengakui bahwa Bapenda belum melakukan kajian komparatif secara mendalam.
Menurutnya, karakteristik daerah penghasil tambang besar di Indonesia cukup spesifik dan terbatas.
“Belum pernah juga kita lihat, karena kan daerah penghasil tambang ini kan enggak banyak ya, dan kita juga enggak pernah melihat ini juga sih, enggak pernah membandingkan daerah,” jelasnya.
Editor : Akbar Sirinawa