Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Riset Rumput Laut Dorong Ekonomi Biru dan Hilirisasi Industri di NTB

Yuyun Kutari • Rabu, 10 Juni 2026 | 09:19 WIB
Foto bersama para pemateri di Forum Connect! #12 yang digelar di Unram, pada Selasa (9/6). (IST/LOMBOK POST)
Foto bersama para pemateri di Forum Connect! #12 yang digelar di Unram, pada Selasa (9/6). (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, menegaskan bahwa pengembangan rumput laut menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun ekonomi biru yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, melalui teknologi dan inovasi, Indonesia dapat membangun ekosistem nilai tambah yang meningkatkan daya saing komoditas rumput laut nasional tanpa merusak alam.

“Melalui teknologi dan inovasi, kita membangun ekosistem nilai tambah yang berdampak pada nilai rumput laut nasional. Saat ini, kita sedang membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan mengentaskan kemiskinan dapat berjalan beriringan,” ujar Arthur saat membuka Forum Connect! #12 di Universitas Mataram (Unram), pada Selasa (9/6).

Baca Juga: FAO dan Unram Fasilitasi Workshop Nasional Penguatan Rantai Nilai dan Hilirisasi Rumput Laut Indonesia

Pernyataan tersebut mengemuka dalam Forum Connect! #12 bertajuk Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth yang diselenggarakan KONEKSI.

Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan media untuk membahas pemanfaatan potensi rumput laut sebagai penggerak ekonomi biru di NTB, provinsi yang menjadi penghasil rumput laut terbesar ketiga di Indonesia dengan produksi lebih dari 3,6 juta ton sepanjang 2019–2023.

Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kementerian PPN/Bappenas Endang Sulastri menyebut pengembangan rumput laut memiliki peran penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Selain menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir, komoditas ini dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah yang dapat memperkuat ekonomi nasional, menarik investasi, dan meningkatkan ketahanan terhadap berbagai tantangan global.

“Ekonomi biru menjadi salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, serta meningkatkan ketahanan terhadap berbagai tantangan global. Pengembangan rumput laut merupakan agenda yang sangat penting karena memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah,” papar Endang.

Baca Juga: Pemprov NTB Siapkan Regulasi Sanksi Administratif Sektor Kelautan dan Perikanan, Strategi Baru Tingkatkan PAD

Salah satu inovasi yang dipaparkan dalam forum tersebut merupakan hasil kolaborasi Unram, BRIN, dan South Australian Research and Development Institute. Penelitian ini mengembangkan pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku produk nutrasetikal, pangan fungsional, serta bahan industri makanan dan kosmetik.

Riset tersebut juga menyoroti tantangan industri rumput laut Indonesia yang masih bergantung pada pasar ekspor tertentu sehingga rentan terhadap tekanan harga dan dampak perubahan iklim.

Peneliti utama Unram Eka S. Prasedya, menjelaskan bahwa berbagai spesies rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan dan nutrisi bernilai tinggi.

Melalui kerja sama dengan petani dan pelaku usaha di Seriwe, Lombok Timur, penelitian ini mendorong diversifikasi produk guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan dan nutrisi bernilai tambah. Dengan penguatan rantai nilai dan peningkatan produksi, sektor ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Eka. Ia juga menyoroti tingginya keterlibatan perempuan yang mencapai sekitar 80 persen dalam aktivitas budidaya dan pengolahan rumput laut.

Baca Juga: Kebangkitan Kelautan dan Perikanan NTB, dari Produksi ke Transformasi

Sementara itu, peneliti utama PT Bahari Agro Indonesia, Maya Puspita, memaparkan hasil riset EcoSea yang dikembangkan bersama BRIN, Central Queensland University, dan University of the Sunshine Coast.

Penelitian tersebut memanfaatkan rumput laut jenis spinosum (Eucheuma denticulatum) sebagai bahan baku bioplastik kemasan pangan ramah lingkungan dan berbagai produk turunan lainnya.

Menurut Maya, biomassa rumput laut dapat diolah menjadi sejumlah produk bernilai tambah seperti bahan kosmetik, protein, pakan ternak, hingga material peningkat kualitas bioplastik.

Pendekatan yang diterapkan mengusung prinsip zero waste dengan memanfaatkan seluruh bagian rumput laut secara optimal sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi petani dan industri.

“Tantangan pengembangan material pengganti plastik tidak hanya membuat bahan yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan solusi tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterapkan secara berkelanjutan. Karena itu, kami menerapkan prinsip zero waste dengan memanfaatkan seluruh bagian rumput laut secara optimal,” jelas Maya.

Baca Juga: Legislator Senayan Dukung NTB Jadi Provinsi Kepulauan, Maksimalkan Potensi Kelautan, Perikanan, dan Wisata Laut

Rektor Unram Prof Sukardi menyatakan tantangan global seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara saja. Karena itu, kolaborasi lintas disiplin ilmu, lembaga, dan negara menjadi kunci untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam pengembangan ekonomi biru berbasis rumput laut.

“Saya meyakini bahwa tantangan global seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, satu institusi, atau satu penelitian saja. Kita membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu dan lembaga untuk membangun masa depan yang berkelanjutan,” kata Sukardi.

Melalui penguatan riset, hilirisasi, dan kolaborasi lintas pihak, para pemangku kepentingan berharap potensi rumput laut NTB dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pengembangan produk nutrasetikal, pangan fungsional, dan bioplastik ramah lingkungan dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Editor : Akbar Sirinawa
#pesisir #Ekonomi #rumput laut #NTB #hilirisasi