Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penerimaan Negara di NTB Tembus Rp 2,9 Triliun, Pajak dan Bea Keluar Jadi Penopang

Yuyun Kutari • Senin, 29 Juni 2026 | 22:41 WIB
Kepala Kanwil DPJb NTB Ratih Hapsari Kusumawardani. (IST/LOMBOK POST)
Kepala Kanwil DPJb NTB Ratih Hapsari Kusumawardani. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Kinerja penerimaan negara di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Mei 2026 menunjukkan tren positif.

Pertumbuhan terjadi pada sejumlah komponen utama penerimaan negara, mulai dari penerimaan pajak, kepabeanan dan cukai, hingga Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Ratih Hapsari Kusumawardani mengatakan, realisasi penerimaan pajak hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp 1,126 triliun. Capaian tersebut tumbuh 9,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Struktur penerimaan ini masih didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp 588,75 miliar dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp 267,24 miliar,” jelasnya, Senin (29/6). 

Baca Juga: Bulog NTB Kembalikan Potongan Pajak 1,5 Persen ke Petani Jagung

PPh masih menjadi penyumbang terbesar, terhadap total penerimaan pajak dengan kontribusi 52,29 persen, disusul PPN sebesar 22,41 persen. 

Menurutnya, dominasi kedua jenis pajak tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang terus tumbuh. “Ini mencerminkan bahwa penghasilan dan konsumsi masyarakat terus bertumbuh," katanya.

Dari sisi lapangan usaha, penerimaan pajak didominasi sektor administrasi pemerintahan dengan kontribusi 38,75 persen. 

Selanjutnya berasal dari sektor perdagangan sebesar 17,47 persen dan jasa keuangan sebesar 8,59 persen.

Selain penerimaan pajak, kinerja penerimaan negara juga ditopang oleh sektor kepabeanan dan cukai. Hingga Mei 2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 1,446 triliun.

Baca Juga: Resmi! Karyawan Gaji di Bawah Rp 10 Juta Bebas PPh 21, Ini Syaratnya

Ratih mengatakan, capaian tersebut didorong oleh lonjakan penerimaan Bea Keluar yang tumbuh sangat tinggi, yakni 8.137,58 persen secara tahunan. 

Peningkatan itu sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga PT AMMAN Mineral, selama Januari hingga April 2026.

“Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan Bea Keluar yang tumbuh 8.137,58 persen secara tahunan, sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga PT AMMAN Mineral pada Januari-April 2026,” bebernya.

Di sisi lain, penerimaan cukai juga mencatat, pertumbuhan positif sebesar 10,5 persen. DJPb NTB berharap tren tersebut terus berlanjut seiring membaiknya kinerja cukai hasil tembakau.

Meski demikian, penerimaan Bea Masuk mengalami koreksi sebesar 24,06 persen, akibat menurunnya volume impor bahan baku, bahan penolong pertambangan, serta barang modal pertambangan.

Baca Juga: Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Lombok Timur Dipangkas Rp 49 Miliar

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), juga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan negara. 

Hingga Mei 2026, realisasi PNBP mencapai Rp 355,66 miliar atau 49,16 persen dari target.

Menurut Ratih, pertumbuhan PNBP terutama didorong oleh peningkatan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) yang tumbuh 11,47 persen. 

Kenaikan tersebut berasal dari meningkatnya, pendapatan jasa layanan rumah sakit dan jasa layanan pendidikan.

Selain itu, komponen PNBP lainnya juga tumbuh 3,49 persen secara nominal. 

Baca Juga: Angka Pendakian Rinjani Tembus 19 Ribu Orang dalam Dua Bulan, PNBP Capai Rp 7,61 miliar

Kondisi tersebut menunjukkan, perbaikan penerimaan negara di NTB berlangsung secara menyeluruh pada berbagai sumber penerimaan.

"Sementara itu, komponen PNBP lainnya juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,49 persen secara nominal, menunjukkan adanya perbaikan kinerja penerimaan yang bersifat menyeluruh," pungkas Ratih.

Editor : Akbar Sirinawa
#Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) #Pajak #pajak pertambahan nilai (ppn) #Penerimaan Pajak #ekonomi masyarakat