Gubernur Iqbal Soroti Banyaknya Kasus Hidrosefalus di Selatan Lombok

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:09 WIB
JENGUK: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menjenguk kondisi Nadira Oktavani Putri, bayi berusia 8 bulan penderita hidrosefalus, di Dusun Kreak, Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Senin (27/7). (YUYUN/LOMBOK POST)
JENGUK: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menjenguk kondisi Nadira Oktavani Putri, bayi berusia 8 bulan penderita hidrosefalus, di Dusun Kreak, Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Senin (27/7). (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyoroti banyaknya kasus penderita hidrosefalus yang ditemuinya, di wilayah selatan Pulau Lombok. 

Hal tersebut disampaikan saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke salah satu Desa Berdaya Tematik di Dusun Kreak, Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Senin (27/7).  

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Iqbal bertemu langsung dengan Ahmad Yani (40), seorang penderita hidrosefalus, serta Nadira Oktavani Putri, bayi berusia 8 bulan yang juga mengalami kondisi serupa.  

Menurut Iqbal, kasus hidrosefalus yang ditemuinya dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar berada di kawasan selatan NTB. “Memang di daerah selatan ini banyak sekali yang hidrocefalus,” ujarnya. 

Baca Juga: Pemkab KLU Tegaskan Rp 818,4 Miliar dalam LHP BPK Bukan Kerugian Negara

Ia menyebut perlu adanya kajian lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang menyebabkan fenomena tersebut.

“Kayaknya saya perlu diskusi nih dengan teman-teman di kesehatan, ada fenomena apa gitu,” kata dia. 

Gubernur mengakui, belum mengetahui secara pasti apakah tingginya kasus hidrosefalus di wilayah tersebut memiliki keterkaitan dengan faktor tertentu, termasuk kondisi sosial ekonomi masyarakat.  

“Kalau ditanya apakah ada kaitannya dengan tingkat kemiskinan ekstrem kita di sini? Saya nggak tahu, ilmu saya belum sampai ke sana. Dan saya belum pernah diskusi jujur aja tentang hidrocefalus,” bebernya.   

Meski demikian, Gubernur Iqbal menegaskan persoalan tersebut, menjadi salah satu atensi serius Pemprov NTB. Apalagi selama satu tahun terakhir dirinya melihat langsung kondisi warga, telah menemui belasan penderita hidrosefalus yang mayoritas berasal dari kawasan selatan Lombok. 

“Saya dalam setahun terakhir ini mungkin sudah ketemu hampir lima belasan penderitaan hidrocefalus. Dan semua di daerah selatan,” ungkapnya.  

Gubernur Iqbal menilai kondisi tersebut perlu mendapat kepedulian lebih melalui kajian khusus, untuk mengetahui penyebab dan langkah penanganan yang tepat. 

“Makanya ini fenomena, sama dengan fenomena ginjal di Bima. Kenapa banyak sekali di Bima gitu. Ini kayaknya perlu kajian khusus,” pungkasnya.

Baca Juga: Pemdes Medana Lestarikan Budaya dan Adat Istiadat

Direktur RSUD NTB Asrul Sani memastikan penanganan Ahmad Yani, akan dilakukan melalui perawatan dan pemantauan kesehatan secara berkala. 

Kondisi Ahmad Yani yang telah mengalami hidrosefalus selama puluhan tahun, membuat penanganan medis yang dilakukan saat ini lebih diarahkan pada menjaga kondisi kesehatan pasien. 

“Kita perawatan saja untuk menjaga kesehatan. Untuk Ahmad Yani tetap di rumah. Obat-obatan begitu, mungkin multivitamin dan sebagainya,” jelasnya. 

Adapun kondisi kepala Ahmad Yani yang sudah mengalami perubahan, akibat penyakit tersebut selama waktu yang lama membuat tindakan medis lanjutan menjadi sulit dilakukan. 

Menurutnya, faktor lingkungan tempat tinggal juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kondisi kesehatan Ahmad Yani. Terlebih, rumah pasien berada tidak jauh dari kandang hewan peliharaan. 

Baca Juga: 26 Desa Persiapan di Lombok Utara Dinyatakan Layak Dimekarkan

Pihak rumah sakit juga telah meminta kontak keluarga Ahmad Yani, untuk memudahkan koordinasi apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.  

Terkait banyaknya kasus hidrosefalus yang ditemukan di NTB, khususnya wilayah selatan Lombok, Asrul memastikan RSUD NTB siap menangani pasien dengan kondisi serupa, karena telah menangani sejumlah kasus tersebut sebelumnya.  

“Artinya kita siap menangani kasus-kasus hidrosefalus, karena sudah banyak yang kita tangani juga,” tegasnya.  

Namun, Asrul menyebut tindakan operasi tidak selalu menjadi solusi bagi pasien dengan kondisi tertentu, terutama mereka yang telah mengalami hidrosefalus dalam waktu lama. 

Karena itu, untuk kondisi seperti Ahmad Yani, langkah yang dilakukan saat ini adalah memberikan perawatan berkelanjutan dengan fokus menjaga kesehatan dan kondisi pasien.

“Alternatifnya hanya diberikan obat-obatan saja, perawatan untuk menjaga kesehatan,” tandasnya. 

Baca Juga: Gubernur Iqbal Turun Tangan Tata Pasar Kuta Mandalika, Lapak Bocor hingga Sanitasi Dibenahi

Sementara itu, orang tua Nadira Oktavani Putri, bayi penderita hidrosefalus, Sri Rahni (35), menceritakan gejala mulai terlihat sejak usia 3 bulan, hingga akhirnya Nadira menjalani operasi di RSUD NTB pada akhir Januari lalu. 

Kini, Nadira menjalani rawat jalan dengan perkembangan positif, lingkar kepalanya yang semula 53 cm turun menjadi 49 cm. “Doakan ya, semuanya bisa membaik,” ujarnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
desa berdaya Kesehatan hidrosefalus Lalu Muhamad Iqbal Lombok