LombokPost-Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat sebanyak 264 kasus baru HIV ditemukan di 10 kabupaten/kota hingga Juni 2026. “Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah,” tegas Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri.
Ini karena sebagian kasus masih ditemukan pada kelompok berisiko tinggi, sementara tantangan lainnya adalah memastikan setiap orang yang telah terdiagnosis bersedia menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).
Secara rinci, 114 dari total 264 kasus baru tersebut ditemukan pada populasi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Baca Juga: Delapan Penyuka Sesama Jenis Terjangkit HIV, Ketua DPRD Dompu Dorong Penanganan Terpadu
Sedangkan sisanya, berasal dari berbagai kelompok populasi lainnya, seperti pasangan orang dengan HIV (ODHIV), kelompok berisiko tinggi, ibu hamil, anak dari ibu ODHIV, calon pengantin, pelanggan pekerja seksual, pengguna narkoba suntik (penasun), penderita tuberkulosis (TB), perempuan, hingga wanita pekerja seks.
Khusus di Kota Bima yang menjadi sorotan baru-baru ini, Dikes NTB menemukan dua kasus baru HIV pada periode yang sama.
“Kedua kasus tersebut berasal dari populasi LSL dengan rentang usia produktif 20–49 tahun,” ujar Fikri.
Dari dua kasus itu, satu orang di antaranya hingga kini belum memulai terapi ARV. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan penanggulangan HIV tidak hanya berhenti pada upaya menemukan kasus, tetapi juga memastikan setiap orang yang telah terdiagnosis bersedia menjalani pengobatan secara rutin.
“Masih ada rasa takut, penolakan terhadap kondisi diri, dan kekhawatiran terhadap stigma sosial yang membuat sebagian orang menunda mengakses layanan kesehatan,” ungkapnya.
Baca Juga: Dinas Kesehatan Lombok Tengah Temukan 37 Penderita Baru HIV
Dikes NTB juga melakukan pendalaman saat kunjungan ke Kota Bima. Hasilnya menunjukkan, jejaring pergaulan populasi LSL tidak hanya berasal dari Kota Bima, tetapi juga melibatkan individu dari Kabupaten Bima hingga Dompu.
“Mereka diketahui saling mengenal dan memiliki jaringan sosial yang saling terhubung,” jelas mantan Direktur RSUD NTB tersebut.
Temuan itu, lanjutnya, menjadi dasar bagi Dikes NTB untuk memperkuat pendekatan penjangkauan lintas wilayah agar edukasi, skrining, dan pendampingan terhadap kelompok sasaran dapat dilakukan lebih efektif.
Ia menegaskan, HIV bukan hanya terjadi pada kelompok tertentu. Siapa pun yang melakukan perilaku berisiko dapat terinfeksi virus tersebut.
HIV dapat menular melalui hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian atau tidak steril, serta paparan darah yang terkontaminasi.
“Bahkan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak dilakukan upaya pencegahan,” bebernya.
Karena itu, pengendalian HIV harus dilakukan melalui pendekatan kesehatan masyarakat yang mengedepankan edukasi, deteksi dini, serta akses pengobatan tanpa diskriminasi.
Sebagai langkah pencegahan, Dikes NTB terus memperkuat komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Edukasi juga diperluas hingga ke sekolah dan perguruan tinggi.
Baca Juga: Cegah Ledakan Penyakit, Dinkes Mataram Perketat Skrining HIV dan TBC di Lapas
Selain itu, distribusi logistik pencegahan HIV berupa kondom dan pelicin kepada kelompok sasaran terus dilakukan sesuai standar program nasional guna menekan risiko penularan.
Di sisi lain, layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) sebagai obat pencegahan bagi individu yang belum terinfeksi HIV namun memiliki risiko tinggi juga terus dikembangkan.
Saat ini layanan tersebut telah tersedia di empat daerah, yakni Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, dan Sumbawa.
Dikes NTB mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV.
Sebaliknya, masyarakat diminta mendukung upaya pencegahan melalui perilaku hidup sehat, pemeriksaan HIV secara sukarela bagi mereka yang berisiko, serta memastikan setiap orang yang telah terdiagnosis dapat segera mengakses pengobatan.
“Dengan deteksi dini dan terapi ARV yang dijalani secara rutin, orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, sekaligus mencegah penularan kepada orang lain,” tandasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan