NTB Kaji Pemasukan Puluhan Embrio Beku Sapi asal Jawa Barat

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:37 WIB
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB mulai mematangkan kajian Analisis Risiko Cepat (Rapid Risk Analysis/RRA), sebagai persiapan rencana pemasukan 30 embrio beku Sapi.

Itu didatangkan dari Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Jawa Barat. Embrio tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kualitas genetik ternak di NTB.

“Langkah ini kita lakukan, untuk memastikan upaya peningkatan kualitas genetik ternak tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keamanan hayati dan pencegahan penyakit hewan menular,” terang Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi, Senin (10/8).

Baca Juga: Jaga Status Bebas LSD, NTB Tolak Sapi Balik dari Jawa

Ia mengatakan, penyusunan dokumen RRA menjadi tahapan penting sebelum proses pemasukan embrio beku dilakukan.

Kajian tersebut diperlukan karena embrio beku termasuk media pembawa yang memiliki karakteristik teknis khusus, sehingga membutuhkan pengawasan yang ketat. 

Seluruh proses ini dilakukan untuk menegaskan, peningkatan kualitas genetik ternak di NTB dapat berjalan maksimal dengan tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan dini terhadap penyakit hewan menular.

Telah dilakukan komunikasi dengan pihak terkait, melalui rapat koordinasi analisis risiko cepat bersama civitas akademika Fakultas Kedokteran Hewan Undikma, Balai Inseminasi Buatan dan Pengembangan Produksi Ternak (BIBP2T), serta jajaran fungsional medik veteriner lingkup Disnakkeswan NTB. 

Riadi menjelaskan, selama pertemuan itu fokus membahas prosedur lalu lintas Hama Penyakit dan Media Pembawa (HPM), khususnya pada kelompok media pembawa penyakit hewan lainnya yang berkaitan dengan rencana pemasukan embrio beku. 

“Ini agar saling memahami pentingnya kajian risiko tersebut agar status kesehatan hewan di NTB tetap terjaga,” ujarnya.

Baca Juga: Stok Daging Sapi  Dipastikan Aman Jelang Maulid Nabi

Pengalaman keberhasilan pengiriman semen beku dari Lembang, Bandung, yang sebelumnya dilakukan dengan pendekatan mitigasi melalui RRA, juga menjadi salah satu referensi dalam penyusunan dokumen kali ini. 

“Pengalaman sebelumnya menjadi acuan bagi kami untuk menyempurnakan dokumen RRA sehingga siap direviu secara komprehensif oleh akademisi dan instansi lintas sektor terkait,” tandasnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkeswan NTB Muslih menegaskan 30 embrio yang dialokasikan tersebut terdiri atas empat jenis varietas unggul, yakni 10 embrio Limosin, 8 embrio sapi perah Friesian Holstein (FH), 7 embrio Angus, serta 5 embrio Belgian Blue.

“Melalui program ini, anakan sapi yang lahir diharapkan memiliki kualitas ras murni dengan performa fisik yang maksimal,” jelasnya.

Adapun analisis risiko cepat guna mengantisipasi ancaman penularan penyakit hewan menular, salah satunya Lumpy Skin Disease (LSD).

Karantina ketat diterapkan mengingat NTB saat ini masih berstatus bebas dari wabah tersebut.

 “Kita beda status penyakit. LSD tidak ada di NTB, sedangkan di sana ada. Makanya kita lakukan analisa risiko untuk memastikan sapi donor di sana benar-benar bebas infeksi,” ujarnya.

Baca Juga: Jalur Sapi Sumbawa-Lotim Kembali Terbuka

Nantinya, dokumen hasil kajian risiko tersebut telah dikirimkan ke Balai Karantina untuk ditelaah, sebelum nantinya diteruskan ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), guna memperoleh izin resmi pengiriman.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
pengawasan jawa barat Embrio sapi NTB